
Ardhan membuka sekilas gorden di depannya, lalau menyelipkan kedua tangannya di sakunya. Perkataan Kenzia terngiang-ngiang di kepalanya. Ia tidak tahu, bagaimana perasaannya akan menyingkapinya. Perasaan yang tidak menentu, ada rasa senang. Namun ada rasa takut.
"Kenapa aku harus mengetahuinya sekarang Zi?"
"Kenapa tidak dari dulu Zi?" Tanya Ardhan. Seandainya ia tahu, mungkin ia bisa membalas, tapi sekarang, ia sudah memiliki istri.
Flasback
Ardhan begitu menyayangi Kenzia. Di saat kesepian karena di tinggal kekasih, Kenzia datang mengubah rasa kesepiannya. Tambah tahun, Kenzia semakin dewasa.
Jantungnya sering berdebar, saat mengingat namanya, senyumannya apa lagi kalau bertemu dengan Kenzia. Rasa suka itu semakin kuat, mengikat di hati paling dalam.
Namun satu yang ia takutkan, ia takut hatinya terus terikat dengan keponakannya atau yang ia anggap sebagai anak. Namun kenyataannya, bukan anak melainkan sebagai seorang wanita.
Kenzia semakin tumbuh dan cantik, rasa takut dan rasa cinta semakin bercampur aduk.
Dia takut, perasaan itu akan membuat jarak. Jika dia mengungkapkannya pada Kenzia, mana mungkin Kenzia mau dengannya. Umur yang tak lagi muda, bisa di katakan kepala tiga.
Dan yang juga membuatnya takut, persahabatannya dengan Arga. Sudah pasti dia tidak akan menerimanya sebagai menantunya.
Demi menghilangkan rasa di hatinya, ia terpaksa menikahi Berlin. Ia pikir, ia bisa menghilangkan rasa itu. Namun kenyataannya sangat sulit, Kenzia hatinya, jantungnya. Selama pernikahannya dengan Berlin. Sekalipun dia tak menyentuhnya, hanya saja, ia pernah mengalami kecelakaan menyentuh Berlin dan melihat Berlin adalah Kenzia.
Flasback off
Brak
"Kenapa harus sekarang Zi? Jadi selama ini cinta ku terbalas. Namun aku yang menyulitkan diriku sendiri."
"Oh Kenzia...."
Ardhan berteriak dan memanggil Jack. Pria itu pun bergegas masuk ke kamar Ardhan.
"Iya tuan,"
__ADS_1
"Bawakan aku beberapa botol Wine!" Titahnya.
Jack tanpa ragu, pasalnya sang tuan tidak bisa meminum banyak. Baru seteguk saja, tuan mudanya itu sudah mabuk.
Pernah ia menggerutu, saat tuan mudanya minum, dan yang harus kuwalahan dialah. Berjalan tertatih-tatih sambil membawa majikan mudanya.
"Tapi tuan!"
Ardhan langsung menatap Jack dengan tajam. Seketika tatapan itu seakan mengulitinya hidup-hidup.
"Ba-baik tuan."
Jack melakukan sesuai permintaan Ardhan. Dia membawakan tiga gelas botol Wine. Kemudian menaruhnya di atas meja kecil.
Ardhan membuka jendela itu, dia membawa tiga botol itu ke atas balkon.
"Huh, apa aku harus mengakuinya? Tapi bagaimana? Aku sudah menikah? Apa aku harus menyakiti Berlin?"
Meneguknya hingga tandas dan melakukannya berulang kali. Hingga penglihatannya buram, ia melihat benda di sekelilingnya menjadi dua dan melayang.
"Uh,, brengsek!"
Dia mengambil sebotol Wine itu, meneguknya dan kepalanya terasa berat.
Botol Wine itu pun jatuh ke lantai, aroma segar cairan itu memenuhi hidung Ardhan dan Jack yang mendengarkan benda jatuh, dia bergegas kembali.
"Tuan."
Jack memegang dahi Ardhan. "Dia demam!" Tangannya Jack seperti di siram oleh air panas.
"Zi..Zia..."
"Apa semua ini ada hubungannya dengan nona Kenzia?"
__ADS_1
Jack memapah majikannya, ia membaringkan Ardhan dengan lembut. Kemudian melepaskan sepatunya.
"Aku harus membawa nona Kenzia,"
Apa tuan memang memiliki perasaan pada nona? Semenjak nona tidak menghubungi tuan, tuan selalu melakukannya. Sampai saat ini, dia tidak bisa mengubah kebiasaan buruknya.
"Zi...."
Dengan perasaan cemas, Jack menekan tombol di depan itu berkali-kali.
Kenzia membuka pintunya, melihat Jack di depannya. Ia bermaksud menutup kembali. Namun Jack dengan cepat menahannya.
"Nona tolong, tuan Ardhan demam. Saya tidak tahu lagi, saya takut tuan Ardhan terus minum."
Kenzia langsung panik, ia tahu, Daddy Ardhan sangat buruk dalam hal meminum.
"Kamu panggil Dokter, aku akan menemuinya."
###
"Dad ..." Kenzia memeriksa kening Ardhan yang terasa panas.
"Zi..."
"Iya ini, Kenzia." Jawab Kenzia dengan cemas. Dia berlari ke dapur membawakan air dan sapu tangan.
Dengan lihai Kenzia memeras sapu tangan itu, lalu menaruhnya di kening Ardhan.
"Dad,, ini Zia..."
Samar-samar Ardhan mendengarkan suara Kenzia, matanya perlahan terbuka. Dia beranjak dan langsung memeluk Kenzia.
"Zi...."
__ADS_1