Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#8 : Merawat


__ADS_3

Kenzia membalas pelukan Ardhan dan menepuk pelan punggungnya, sedangkan Ardhan dia justru mengencangkan pelukannya. Seakan tidak ingin berpisah.


Hem


Tangannya pun terulur, mengelus kepala Ardhan.


"Dad .."


"Zi..." Ardhan mengurai pelukannya dan menatap kedua manik wajah Kenzia. "Kalaupun ini hanya mimpi, aku tidak ingin terbangun. Biarkan aku memiliki mu walaupun hanya sesaat Zi.."


Kenzia tersenyum, dia mengelus pipi Ardhan. "Iya, ini mimpi. Jadi nikmatilah mimpi ini Dad."


Ardhan kembali memeluk Kenzia. Dia menikmati aroma manis dari tubuh wanita yang ia cintai.


Apakah ini benar? Kenzia bertanya-tanya.


Dia dan Ardhan sebatas keponakan atau sebatas anak angkat saja. Status Ardhan yang tak bisa ia tembus, status itulah yang membuatnya ia ragu.


"Bagaimana dengan Berlin? Andai dia tahu, suaminya memeluk wanita lain?"


"Ini hanya sesaat." Gumam Kenzia.


Ardhan melepaskan pelukannya. Dia merangkup kedua pipi Kenzia. Telinganya yang tajam, ia  mendengarkan suara itu.


"Apanya yang sesaat Zi? Ini tidak sesaat?" Dia meyakini, mimpi ini tidak sesaat untuknya. Mimpi ini akan menjadi nyata.


"Aku .. aku takut, Zi. Dari dulu aku menyukai mu, tapi... Perjalanannya tidak semudah itu."


Kedua mata Ardhan berkaca-kaca. Tanpa basa-basi, dia memangut bibir Kenzia. Menciumnya lebih dalam.


Air mata Kenzia langsung keluar,  tubuhnya bagaikan di sengat listrik. Memanas dan membatu.


Deg


Deg


Deg

__ADS_1


Jantungnya terus berdebar dengan kuat. Dia memejamkan matanya, ia merasakan bibir Ardhan yang manis dan lembut.


Ardhan menarik tengkuk Kenzia, ia ******* bibir itu dengan rakus.


Tok


Tok


Tok


Kenzia mendorong tubuh Ardhan. Ia menghapus air matanya dengan memalingkan wajahnya.


"Masuk!" Teriak Kenzia.


Ardhan bagaikan orang linglung. Dia kembali memeluk Kenzia.


"Dad, tubuh Daddy panas. Periksa dulu," ucap Kenzia.


"Aku tidak mau Zi.."


Kenzia mengurai pelukannya dan membaringkan Ardhan.


"Zi.."


Ardhan tidak ingin berpisah, dia memegang lengan Kenzia.


"Sepertinya suami anda sangat mencintai anda," ucap pria berpakaian Dokter itu. Dia merasa hawa anak muda jaman sekarang membuatnya dengan iri masa lalunya. Dia yang berprofesi sebagai Dokter tidak pernah laku-laku.


"Hemm, iya."


"Saya periksa dulu."


Dokter memeriksa detak jantung Ardhan. Kemudian mengambil sesuatu di tas kerjanya.


"Zia..." Ardhan bangkit, dari kecil dia memang takut dengan jarum suntik. Bahkan pernah beberapa kali dia kabur kalau ingin di periksa saat sedang sakit.


Zia mendekat, dia memeluk Ardhan dengan erat. Kepalanya di sandarkan ke perutnya. "Tidak akan sakit, hanya sebentar."

__ADS_1


Ardhan memejamkan matanya, entah semenjak kapan? Dokter itu telah selesai menyuntikkan cairan putih itu.


"Terima kasih Dok."


Kenzia mengelus kepala Ardhan. Dia duduk di depan Ardhan. "Sekarang Daddy istirahat."


"Tidak! Kalau aku memejamkan mata. Kamu akan pergi."


Kenzia tersenyum, dia mengecup kening Ardhan. "Tidak akan, aku akan menemani Daddy di sini."


"Tidur di samping ku, Zi. Aku butuh kamu." Manja Ardhan. Dia ingin melepaskan kerinduannya yang selama bertahun-tahun ini.


Kenzia menurut, Ardhan memeluk erat tubuh Kenzia. Menenggelamkan kepalanya di dada Kenzia.


Dengan lembut, Kenzia menepuk punggung Ardhan. Hingga terdengar nafas teratur darinya.


"Aku harap, esok pagi kamu sudah sembuh Dadd, beraktifitas seperti biasanya," ucap Kenzia.


Kenzia melepaskan tangan Ardhan yang melilit pinggangnya itu. Dia turun dengan hati-hati agar tidak mengusik tidur nyenyak sang Daddy.


Dia keluar menuju dapur, tenggorokannya terasa kering dan butuh air dingin.


"Jack, belum tidur." Sapa Kenzia. Dia melihat pria matang itu mendekat ke arahnya.


"Apa butuh sesuatu?" Tanya Kenzia kembali.


"Saya hanya butuh air minum saja Nona."


"Oh, silahkan," ucap Kenzia, dia takut Jack merasa tidak nyaman dengan keberadaannya. Jadi dia memilih pergi.


"Nona, boleh kita bicara."


Kenzia mengangguk dan tersenyum.


Jack dan Kenzia duduk di ruang tamu. Keduanya duduk berhadapan. Kenzia penasaran apa yang ingin Jack katakan.


Sedangkan Jack, dia menarik nafasnya dalam-dalam dan akan menceritakan semuanya.

__ADS_1


__ADS_2