Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#34 : Kehancuran Keluarga


__ADS_3

"Aku hamil Mommy," Kenzia semakin menangis dengan dada yang bergetar.


Mommy Aira pun langsung melerai pelukannya, kedua matanya pun semakin berkedip karena air mata yang akan mengalir. "Katakan, kau berbohong kan?"


Kenzia menggeleng lemah. "Aku tidak berbohong, Mom. Maafkan Kenzia."


Mommy Aira pun membawa Kenzia ke dalam pelukannya. Mengecupnya bertubi-tubi, ia tidak tahu apa yang di alami oleh putrinya selama ini.


"Sebaiknya kamu katakan pada Mommy,"


Kenzia menatap sang Mommy, wanita yang sangat ia sayangi, namun ia kecewakan. Ia pun mengangguk dan Mommy Aira memapah tubuh putrinya ke arah ranjang untuk duduk agar lebih leluasa menceritakannya.


"Sayang, katakan dengan jujur pada Mommy."


Meskipun hatinya begitu kecewa, tapi ia tidak bisa mengeluarkan semuanya. Sebesar-sebesarnya ia kecewa, tapi Kenzia tetaplah putrinya satu-satunya.


"Aku hamil anak Daddy Ardhan."


Kalimat itu menghantam dada Mommy Aira, sebuah kalimat yang tak bisa ia terima. Bagaimana bisa sahabatnya merusak putrinya?


"Sayang."


Dadanya seakan berhenti berdetak, sahabatnya telah merusak keluarganya, ia tidak percaya dengan semua ini. "Dia pasti memperkosa mu?" tanya Mommy Aira dengan gigi yang bergesakan. Dia tidak peduli dengan persahabatan jika menghancurkan keluarganya.


"Aku akan memberikannya pelajaran, aku akan mengatakan pada Daddy mu."


"Mommy tunggu," cegah Kenzia.

__ADS_1


Mommy Aira pun langsung pergi, dia berlari menuruni anak tangga, hingga tanpa sengaja membuat kakinya keseloe dan berteriak kesakitan. Suaranya pun membuat pria yang sedang menikmati secangkir teh itu bangkit dan menuju ke arah suaranya.


"Sayang," pekik Daddy Arga, dia membantu sang istri untuk bangun.


"Mommy, Mommy tidak apa-apa?" tanya Kenzia. Dia melihat kaki sang Mommy yang memerah.


Mommy Aira tak memperdulikan kekhawatiran keduanya. Wanita itu mengguncang lengan suaminya dengan suara terbata-bata.


"Ke-kenzia ... Dia ... Ha-hamil."


Daddy Argha masih tersenyum, ia tak mengambil hati candaan istrinya. "Sayang, kamu kenapa? jangan ngarang cerita."


"Sudah, jangan bicara yang tidak jelas, yang penting kaki mu obati dulu."


Kenzia semakin menangis, kini kedua orang tuanya menaruh kekecewaan padanya. Ia sangat malu menampakkan wajahnya.


"Kenzia hamil, dia hamil anak Ardhan. Aku yakin, dia pasti memaksa Kenzia."


"Jangan mengarang cerita, Ardhan tidak mungkin melakukan itu, aku kenal betul Ardhan."


"Daddy,"


Kenzia memotong tatapan keduanya, beralih menatapnya.


"Zia, sini sayang, kamu harus jelaskan semuanya pada Daddy mu, Ardhan laki-laki brengsek."


"Bukan!" Kenzia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kami saling mencintai."

__ADS_1


"Kami melakukannya karena saling mencintainya."


Sepasang kekasih itu merasakan dunianya seakan hancur. Mencintai, Ardhan sudah memiliki istri, meskipun ia tidak suka dengan sikap Berlin, tapi bukan berarti ia suka melihat kehancuran keluarganya.


Daddy Argha memegang dadanya, dia melangkah dengan pelan. Tangan kanannya memegang sandaran kursi sebagai penyanggah tubuhnya.


Sedangkan Mommy Aira, dalam sekejap ia tak merasa menangis, kedua bibirnya tertutup rapat sedangkan air matanya langsung mengalir. Tubuhnya ia paksakan berdiri tegak.


"Aku, aku ... "


Kenzia mencoba menjelaskan, meskipun dengan suara tercekat, nyaris tanpa nyawa. Dia langsung duduk menekuk lututnya di lantai.


"Aku dan Daddy saling mencintai dan kami melakukannya, ya aku, aku menghancurkan hati tante Berlin."


Hah


Kedua orang tua, terutama orang tua wanita, tidak akan sanggup atau menerima kalau anaknya perusak rumah tangga orang. Karena ia seorang wanita yang juga merasakan sakitnya kalau ada orang ketiga yang memasuki rumah tangganya.


"Apa? ... Ini .... "


"Kau menghancurkan perasaan wanita lain Kenzia, ini salah. Semua yang kau lakukan salah." Mommy Aira menatap tajam Kenzia. Dia tidak pernah mendidik putrinya menjadi perusak rumah tangga orang lain.


"Kalau begini kamu menyakiti wanita lain, lihat Mommy Kenzia."


Kenzia mendongak, betapa hancurnya hatinya melihat Mommy menangis dalam kecewa. "Hati Mommy sakit, Nak."


"Maafkan Zia, Mom." Kenzia memegang sebelah kaki Mommy Aira dan mengangkat wajahnya dengan tatapan memohon. "Bantu Zia, bantu Zia pergi dari kehidupan Daddy Ardhan."

__ADS_1


__ADS_2