Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#15 : Cemburu


__ADS_3

"Honey." Sapa wanita berkacamata hitam itu. Dia memeluk Ardhan, namun, laki-laki itu begitu enggan untuk membalasnya.


"Ya sudah, ayo.."


Berlin mengerutkan dahinya, ia merasa seolah Ardhan berubah. Biasanya laki-laki itu akan memeluknya dengan mesra dan perhatian.


"Honey, apa kamu tidak senang dengan kedatangan ku?" Tanya Berlin.


"Tidak, aku senang. Cuman akhir-akhir ini aku sering memikirkan pekerjaan," ucap Ardhan.


"Oh baiklah, jangan terlalu memikirkan banyak pekerjaan Honey."


Jack membuka pintu mobil belakang. Berlin tersenyum melihat Jack, lalu menyapanya dengan ramah. "Jack, bagaimana kabar mu?"


"Saya baik nyonya."


"Honey, aku ingin perhiasan cincin ini." Tunjuk Berlin pada gambar di Handphonenya. Dia memperlihatkan sebuah cincin yang harganya lumayan tinggi.


"Baiklah, nanti aku akan mengirimkannya pada mu."


Kenapa tuan tidak menolak? Bukankah, dia baru beberapa hari yang lalu mengirimkan uang batin Jack


"Berlin, aku ingin memiliki anak. Umur ku sudah tua, tidak muda lagi," ucap Ardhan. Dia ingin mengetes Berlin untuk ketiga kalinya.


"Honey, kamu tahu sendiri kan. Aku tidak mau tubuh ku rusak, lagi pula kita bisa mengadopsinya. Sudah beberapa kali aku bilang pada mu, aku tidak mau karir ku terganggu. Aku tidak ingin perjuangan mu sia-sia."


Selalu ini jawaban yang di berikan oleh Berlin. Wanita itu selalu mengatakan lebih baik mengadopsinya.

__ADS_1


"Kalau aku mengadopsinya, apa kamu akan merawatnya?"


"Sudah ada Babysiter, buat apa aku repot-repot menjaganya."


Hah.


Ardhan, sungguh tidak tahan lagi. Bertahun-tahun dia diam saja, apa yang di katakan Berlin selalu ia turuti. "Baiklah."


"Iya," Berlin bergelanyut manja di lengan Ardhan, menyandarkan kepalanya di bahu Ardhan.


Akhir-akhir ini, Ardhan jarang menghubunginya. Biasanya dia akan cerewet tentang kesehatannya.


Sesampainya di gedung bertingkat itu. Ardhan berharap, dia tidak bertemu dengan Fiona. Dia takut, Fiona akan sakit hati. Sepenjang jalan, lalu masuk ke dalam Lift, hanya itu yang ia rapalkan, semoga tidak berpapasan dengan Fiona.


Namun, doanya tidak terkabul. Tepat saat dirinya keluar dari lift. Dia melihat Fiona dan kedua temennya yang berada di luar pintu.


Sakit, tidak ada seorang wanita yang tidak sakit hati melihat kekasihnya. Tapi, ia bisa apa? Berlin istrinya sedangkan dirinya, kekasih gelapnya itu pun kalau cocok dengannya. Air matanya hampir terjatuh, namun, ia harus bisa menahannya.


"Fiona? Kamu di sini?" Tanya Berlin.


"Iya tante, ini Apartement ku," ucap Fiona. Kemudian dia beralih pada Amelia dan Arkhan.


"Mungkin besok aku masuk kerja," ucap Fiona.


"Oh, baiklah. Kami menunggu mu."


Amelia memeluk Fiona, lalu melerai pelukannya. Kini giliran Arkhan yang berpamitan.

__ADS_1


"Aku khawatir Fi, saat kamu sakit. Kalau ada apa-apa bilang pada ku, Fi. Jangan sungkan,"


Tangan Arkhan bergerak mengelus pipi kanan Fiona, dan Fiona melirik tangan Arkhan yang menyentuhnya.


"Jangan menyentuhnya." Tegas Ardhan. Dia melerai tangan Berlin yang melilit di lengannya.


"Dad," Fiona takut Ardhan terpancing dan menimbulkan kecurigaan.


"Fi, Daddy tidak suka kamu dekat dengannya."


Berlin menganga, Fiona sudah dewasa jadi suaminya tidak perlu menjaganya. "Honey, Fiona sudah dewasa, biarkan saja. Namanya juga anak muda, kita pernah seperti mereka kan."


"Fiona belum dewasa, dia butuh penjagaan ku." Tegas Ardhan tidak ingin di bantah.


"Dad, mereka teman ku."


"Fiona! Jangan membantah." Bentak Ardhan. Tanpa ia sadari meninggikan suaranya. Amarahnya meluap-luap tiap kali menyangkut Fiona.


" O iya, bagaimana kalau besok aku menjemput mu saja." Tawar Arkhan mencairkan suasana tegang itu. Dia begitu takut terjadi sesuatu pada Fiona. Tidak mungkin, ia membiarkan Fiona berjalan sendiri di saat sakit.


"Ti-tidak perlu. Lagian hari ini, aku merasa sudah nyaman," ucap Fiona tersenyum hambar. Dia ingin menyuruh Arkhan cepat pergi, namun, ia tidak bisa. Sebagai seorang sahabat, ia harus menjaga perasaan sahabatnya.


"Honey, ayo.. Ngapain kita melihat mereka," ucap Berlin. Kedua kakinya pegal berdiri dan sambil menonton persahabatan yang membosankan itu.


Ardhan begitu enggan meninggalkan Fiona, sebelum dia memastikan pria itu pergi.


"Kita pamit, Fi."

__ADS_1


Arkhan dan Amelia berlalu, sedangkan Ardhan dan Berlin melewati Fiona. Namun, pandangan Ardhan tidak pernah lepas dari Fiona. Dadanya terasa terbakar, andai saja tidak menjaga hubungannya, sudah ia patahkan tangan Arkhan.


__ADS_2