
Sedangkan Ardhan, pria itu berniat pulang, tapi Berlin sama sekali tidak mau di tinggal. Wanita itu nekat menarik selang infusnya dan tangannya kembali mengeluarkan darah. Para Dokter pun telah mengobatinya kembali.
Ia tidak tega meninggalkan Berlin, hingga pada akhirnya ia menyerah pada kerinduannya.
"Ardhan .... Aku tau kau ingin bertemu dengan Zia kan, tolong temani aku, aku berjanji akan memperbaiki pernikahan kita. Aku tidak mau kehilangan mu Ardhan." lirih Berlin dengan air mata yang terus mengalir. Ia sadar, apa yang di lakukannya telah salah. Ia akan berusaha memperbaikinya.
"Aku tidak bisa Berlin,"
"Kenapa? kau mencintai Kenzia?" tanya Berlin. Kedua tangannya meremas selimutnya, hatinya seakan di bakar oleh api. Ia tidak mau, dan tetap ingin mempertahankan Ardhan.
Kedua mata Ardhan terbelalak, ia terkejut dengan ungkapan Berlin.
"Aku sudah mengetahuinya,"
Berlin memalingkan wajahnya, air matanya terus menerus berderai. Ia sangat sakit, sangat sesak di dadanya. Rasanya ia ingin berhenti bernafas saja.
"Berlin, aku .... "
Ardhan menarik nafasnya dalam, semuanya sudah terbongkar, jadi tidak ada yang perlu di tutupi lagi.
"Maaf, dari awal aku sadar, aku mencintai Zia, tapi aku takut hubungan ku tidak akan di restui."
"Sudah pasti!" tegas Berlin, ia menoleh menatap Ardhan dengan tajam. "Sudah pasti kau tidak akan di restui, umur mu yang tidak seberapa dengan Kenzia. Arga tidak akan merestuinya, Kenzia anak kesayangannya."
__ADS_1
Berlin mengambil kesempatan, kini saatnya dia meyakinkan Arga. Ia menggenggam sebelah tangan Arga. "Dengar, kau tidak cocok dengannya."
Ardhan tak menjawab, dia menarik tangannya. Hendak berbalik. Namun, dengan kuat Berlin menarik tangan Ardhan. Hingga kepalanya sedikit membentur tubuh Ardhan.
"Ardhan, jangan. tinggalkan aku," lirihnya. "Dia merangkup wajah Ardhan, kedua tangannya beralih memeluk Ardhan kemudian sedikit berjinjit sampai bibirnya menempel di bibir Ardhan.
Pria itu begitu terkesiap, ia ingin mendorong tubuh Berlin, namun melihat keadaannya ia merungkan niatnya dan malah memundurkan kepalanya.
Sedangkan di ambang pintu, Kenzia menegang. Hatinya terasa pilu, sesuatu yang sesak menjalar di seluruh tubuhnya. Seakan menjadi pencabut nyawanya.
Berlin tersenyum, ia memang melihat bayangan Kenzia di ambang pintu, makanya ia buru-buru menarik lengan Ardhan dan menciumnya.
"Berlin jangan seperti ini kau lagi sakit," ucap Ardhan, ia menarik kedua tangan Berlin yang memeluk lehernya.
"Aku tau, kau pasti merindukan aku. Oke, tidak masalah. Aku menyayangi mu dan mencintai mu, aku yakin kau begitu juga. Mencintai ku .... Hanya butuh waktu."
Tok
Tok
Tok
Kenzia mengetuk pintu belakangnya dengan senyum yang mengembang. Sepasang suami istri itu pun menoleh, Ardhan terkesiap, sedangkan Berlin tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kenzia,"
"Kenzia kau datang kesini."
Sekilas Kenzia menatap ke arah Ardhan, kemudian beralih menatap Berlin dan tersenyum.
"Tante sudah baikan," ucapnya.
Berlin mengangguk senyum ramah. "Tentu saja aku membaik, Ardhan merawat ku dengan baik. Ardhan sangat mencintai ku, aku Ardhan laki-laki yang baik yang tidak akan meninggalkan istrinya, apa lagi memilih wanita ******, oh wanita murahan maksudnya," sindir Berlin, lalu tertawa. "Ardhan sudah pasti buta kalau memilih wanita lain, dari pada aku."
"Berlin,"
Ardhan tidak enak hati, ia tau Berlin mengatakan hal yang menyakitkan karena sudah mengetahui hubungan mereka. Sedangkan Bella, belum mengetahuinya sama sekali.
"Wanita yang tidak memiliki aturan, mereka akan merebut milik orang lain."
"Berlin,"
Kedua mata Ardhan menajam, ia ingin Berlin menghentikan ucapannya.
Berlin tertawa, jari telunjuknya menyentuh bibirnya yang pucat. "Aku hanya bercanda, jang di ambil serius. Oh iya, Zia terimakasih telah menjenguk ku."
Kenzia mengangguk, bibirnya terasa berat mengucapkan apa pun. Perkataan Berlin menghantam keras hatinya, sampai ia merasakan sakit yang luar biasa. Fisik dan batinnya sangat terluka, ia tak mampu lagi untuk mengobatinya.
__ADS_1
"Ke-kenapa Ta-tante melakukan i-itu?" tanya Kenzia dengan gagap. Ia berharap Berlin tidak tahu.
"Aku bertengkar dengan Ardhan, aku tidak mau kehilangan Ardhan, lebih baik aku mati kalau tidak bisa bersama Ardhan."