Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#46 : Terbongkar


__ADS_3

Seminggu kemudian.


Ardhan bagaikan orang yang tak bernyawa, seminggu ini ia tidak merawat dirinya, ia hanya bisa menangis dan menatap kosong ke depan. Badannya mendadak kurus dan lingkaran hitam di bawah matanya. Seminggu ini ia tidak ada niatan untuk mandi, membersihkan diri dan tidak berniat untuk bekerja.


Hidupnya telah hancur, buat apa ia hidup kalau jiwanya telah pergi. Seminggu ini ia selalu mengurung diri di kamarnya, di temani beberapa botol minuman. Kadang ia menangis dan tertawa sendiri.


Jack berusaha menghubungi Kenzia, namun usahanya sia-sia. Dia juga mendatangi dan memohon pada Daddy Argha dan Mommy Aira, namun kedua orang itu acuh dan tak peduli.


Sedangkan Berlin, berulang kali dia menemui Ardhan, namun laki-laki itu tak merespon. Tentu saja ia ia tidak terima, Ardhan melayangkan gugatan cerai. Ia tidak mau, ia sangat mencintai Ardhan. Sama seperti saat ini, ia kembali mendatangi Ardhan.


"Ar, aku mohon kita lakukan dari awal."


Berlin memohon dengan paling dalam di lubuk hatinya. "Aku mencintai mu, kau ingin aku seperti Kenzia, maka aku juga akan seperti Kenzia."


Brak

__ADS_1


"Nyonya, saya mohon jangan mengganggu tuan, biarkan tuan tenang," ucap Jack. Ia takut, majikannya mengamuk dan melukai Berlin.


"Jack, aku tidak mau bercerai."


"Cukup nyonya!" bentak Jack. Dia menyeret Berlin dengan kasar, sampai menuruni anak tangga kemudian melepaskan tangannya.


"Jangan seolah-olah nyonya di sini adalah korban. Apa nyonya tidak ingat dengan kejadian penculikan nona Kenzia?" tanya Jack.


Beberapa hari yang lalu tanpa sengaja dia mendengarkan perkataan Rio dengan seorang temannya di salah satu Restaurant, beberapa hari ia lelah dan ingin menghirup udara segar, karena lapar ia memasuki sebuah Restorant dan melihat Rio. Ia pun tidak menyapa dan malah duduk di belakang Rio.


Pria itu tertawa bersama temannya dan tanpa di sangka mengungkit penculikan Kenzia. Rio pun menceritakan semuanya pada temannya itu tanpa di sadari di belakangnya ada seseorang yang telah merekamnya.


Tanpa menyentuh hidangan yang telah tersaji itu, Ia langsung pergi dengan membawa sesuatu dan menyuruh temannya menyelidiki semua aktivitas Berlin dan Rio beberapa tahun lalu.


###

__ADS_1


"Apa maksud mu Jack? aku tidak mengerti," ucap Berlin. Kedua matanya melotot dan gugup, ia hendak pergi, namun Jack mencekal lengannya.


Jack telah mengumpulkan bukti, obrolan Berlin dan Kenzia di rumah sakit dan semua pertemuannya dengan Rio.


"Aku sudah mencari identitas orang yang berkaitan dengan mu dan Rio, tapi sayang kau terlalu membersihkannya dengan cepat."


Jack bagaikan hewan buas, aura hitamnya keluar dari tubuhnya. Ia langsung mencekik Berlin dan membuat Berlin kesulitan bernafas, kedua tangannya memukul tangan kekar Jack.


"Seharusnya aku membunuh mu dari dulu nyonya Berlin, pilihan tuan tidak salah menceraikan mu, karena kau wanita yang sangat licik."


Jack mendorong tubuh Berlin dengan kasar ke lantai, dan Berlin mulai mengatur nafasnya. Dia menoleh ke arah Jack dan perlahan memundurkan tubuhnya.


"J-jack, kau mau apa? kalau kau membunuh ku, kau akan di hukum."


Tubuh Berlin gemetar ketakutan.

__ADS_1


"Seharusnya tuan membiarkan mati, agar tidak ada parasit di tubuh tuan."


"Kau bicara tentang hukum, seharusnya hukum itu berlaku pada mu dan adik mu. Kau tahu, adik mu sekarang di mana? dia berada di penjara, kau akan menyusulnya."


__ADS_2