Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#47 : Penuh Dendam


__ADS_3

"Apa yang kau lakukan pada adik ku?!" teriak Berlin. Dia meneriaki Jack tepat di depan wajahnya dan pria itu malah terkekeh lucu.


Sambil bersendekap, dia memandang Berlin aneh. "Ternyata hubungan yang tidak akur bisa juga membuat sebuah persaudaraan saling khawatir." Jack memicingkan mulutnya ke bawah, kemudian berdecih.


Dia mengingat betul saat Rio di bawah oleh polisi dan hal pertama yang ia katakan, Jangan sakiti Kakak ku, biar aku yang menanggungnya, lumayan mengesankan baginya.


"Dia titip pesan pada ku, agar aku tidak menyakiti mu dan malah memaafkan mu, maaf aku bukan orang yang bodoh." Jack memutar tubuhnya, dia duduk dan bersendekap lalu menyilangkan kakinya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sebelah lengannya. "Dia khawatir pada mu, tapi aku tidak bisa memutuskan semua kesalahan mu."


"Beri aku waktu, kau boleh mencobloskan ku ke dalam penjara, tapi sebelum itu. Aku ingin menemui adik ku dan juga Ardhan, aku ingin meminta maaf padanya, untuk yang terakhir kalinya."


"Kau menyerah begitu saja?" tanya Jack sambil menoleh, sebelah alisnya terangkat ke atas. Rasa tidak percaya di hatinya menyeruak begitu saja.


"Iya, aku lelah berusaha, pada akhirnya aku tetap kalah, bukan. Jadi aku hanya meminta waktu sedikit." lirih Berlin. Ia telah menyesalinya dan tak ingin terlibat lagi pada hubungan Ardhan.


"Baiklah," Jack melihat jam tangan di tangannya. Waktu telah menunjukkan pukul 08.30. "Dua bawahan ku akan mengawasi mu," ucap Jack.


"Baik, aku akan menemui adik ku."

__ADS_1


Jack pun berlalu, dan Berlin menatap punggung yang semakin menjauh itu dengan kebencian yang sangat mendalam. "Jika, aku tidak bisa mendapatkan Ardhan, maka jangan berharap Kenzia juga bisa mendapatkannya."


Berlin pun menatap beberapa Art yang sedang menatapnya, dia pun menatap tajam Art itu yang sejak tadi melihat semua kejadian.


##


"Tuan, apa kau tidak lelah seperti ini?"


Tidak ada jawaban, sudah biasa bagi Jack yang beberapa hari ini perkataannya bagaikan angin lalu. Selama beberapa hari ia berusaha berbicara pada kedua orang tuan Kenzia, namun hanya sikap acuh dan tak peduli dan menganggap apa yang terjadi pada sang tuan adalah hukuman.


Seketika Ardhan menoleh, "Dia tidak boleh meninggalkan ku." lirih Ardhan. Dia bagaikan orang gila yang merasa ketakutan.


Jack berjongkok dan menatap mata yang memerah itu. "Iya, makanya tuan harus bangkit."


"Dia tidak boleh meninggalkan aku."


"Hah!" Jack merasa pasrah, dia pun kembali berdiri. Sepertinya kali ini pun sia-sia. "Aku pamit tuan untuk mengecek perusahaan, aku secepatnya kembali kesini."

__ADS_1


##


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Berlin. Dia melihat sang adik yang menggunakan baju tahanan. Pria itu tersenyum, "Aku minta maaf karena tidak bisa menjadi adik yang baik untuk kakak."


Rio menyesali semua perbuatannya selama ini, semenjak kejadian penculikan Kenzia, dia selalu mengancam sang kakak untuk mengiriminya uang sesuai keinginannya. Uang yang di kirim bukan melakukan hal yang baik, ia gunakan untuk bersenang-senang. Namun, saat melihat pipi sang kakak yang di tampar, ia merasa kasihan dan hatinya bergetar. Anggap saja, hubungan darah sangat kental.


"Kau tidak salah Rio, aku yang salah. Aku terlalu mencintai Ardhan, sampai aku melakukan semuanya."


"Tapi aku bersyukur, Jack tidak membawa mu kesini."


Kenzia menangis menunduk, hatinya sangat sakit melihat keluarga satu-satunya mendekam di penjara.


Rio pun mendekati sang kakak, lalu memeluknya. "Maafkan aku kak, aku belum menjadi adik yang baik."


"Kau harus hidup dengan baik."


Berlin tersenyum kecut, bagaimana mungkin dia hidup dengan baik, kalau masih ada bayang-bayang Kenzia. "Aku akan melakukannya, aku akan melakukan sesuai keinginan mu," ucap Berlin dengan penuh dendam di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2