
Keesokan harinya.
Jack menunggu pintu kamar sang tuan. Beberapa menit yang lalu dia mendapatkan kabar bahwa Berlin memintanya menjemputnya di Bandara.
"Tuan." Jack menunduk. "Ada sesuatu yang ingin saya katakan. Nyonya Berlin meminta tuan untuk menjemputnya di Bandara."
"Apa?!"
Ardhan mengusap keningnya. Berlin tidak mengatakan apa pun padanya. Saat ini ia bingung, bagaimana ia bisa mempertemukan keduanya, yang satunya adalah kekasihnya dan yang satunya adalah istrinya.
"Kita bahas nanti."
Kenzia menunduk, bagaimana dia bisa menghadapi Berlin sebagai selingkuhan suaminya. Dia mendengarkan perkataan Jack, sejak tadi dia berdiri di belakang pintu. Ia hendak membuka pintu itu, namun, mendengarkan perkataan Jack yang serius, ia tidak jadi membuka pintunya.
Hah
Kenzia memejamkan matanya. Dia berteriak seolah tidak mendengarkan apa pun.
"Dad, Daddy."
Ardhan membuka pintu itu, sedangkan Jack langsung pergi.
"Iya baby, kenapa?" Ardhan tersenyum. Dia mengecup kening Kenzia.
"Kapan kita bisa pulang Dad? Zia rindu Apartement Zia," tutur Kenzia. Perkataan ambigu itu keluar. Ia tidak mungkin meminta Ardhan pergi ke luar kota. Sedangkan Ardhan harus menjemput istrinya.
"Hanya itu, baiklah."
__ADS_1
Ardhan memang berniat untuk membawa Kenzia kembali. Ia harus menyelesaikan pernikahannya dulu dengan Berlin. "Setelah sarapan, kita bersiap-siap kembali."
###
Kenzia memasuki Apartementnya di ekori Ardhan. Pria itu tidak mengerti keterdiaman Kenzia. Ia takut memiliki kesalahan pada wanitanya itu.
"Baby, kamu kenapa? Apa aku ada salah?" Ardhan berkata serius, dia menatap wajah Kenzia. Kedua tangan Kenzia melerai pegangan Ardhan pada bahunya, kemudian membalikkan tubuhnya.
"Tante Berlin akan pulang kan?"
Kini Ardhan mengerti, ternyata calon istrinya sedang memikirkan kedatangan Berlin. "Maaf Honey, Baby, sayang, hemmm. Jadi kamu mendengarkan pembicaraan ku tadi dengan Jack."
"Jangan khawatir sayang."
Ardhan membelai pipi Kenzia, mengangkat dagunya, dan bibirnya pun menyatu dengan bibir Kenzia. "Sudah, kamu istirahat jangan pikirkan apa-apa lagi."
Kenzia mengambil benda pipih di dalam tasnya. Dia mengangkat panggilan itu.
"Daddy,"
"Zia sayang, bagaimana kabar mu? O iya, sudah bertemu dengan Daddy Ardhan?"
Kenzia melirik Ardhan. "Iya Daddy."
Ardhan tersenyum, memeluk Kenzia dari belakang. Dalam waktu singkat, dia akan mengatakan hubungannya pada sahabatnya.
"Baguslah, dia itu sering mencari mu," ucap Daddy Arga.
__ADS_1
"Dad, Zia ada perlu, Zia tutup dulu ya." Kenzia memutuskan panggilannya, dia terkekeh, Ardhan menjilat lehernya.
"Daddy, hemmpz.."
"Ingin lagi, ayo kita lakukan sayang."
Ting
Kenzia menoleh, dia mendengarkan bel pintu Apartementnya berbunyi. "Dad, hentikan! Ada orang yang datang." Kenzia bermaksud kabur, dia ingin istirahat. Sudah cukup semalam dia di gempur oleh sang Daddy.
"Biarkan saja, pasti Jack." Kenzia melepaskan tangan Ardhan, dia berlari dan membuka pintu Apartementnya.
Kedua matanya menatap, kedua orang yang bergantian itu. Wajahnya langsung pias, di Apartementnya masih ada Ardhan.
"Zia.." Sapa Amel. Gadis itu memeluk Kenzia. Dia khawatir, karena beberapa hari ini Kenzia tidak masuk kerja.
Tap
Ardhan melihat dua orang yang tanpa berkedip melihatnya. Sedangkan Kenzia, ia bingung harus menjelaskan apa?
Kenzia tertawa canggung, dia tidak ingin tertawa, tapi ia ingin memaksakan bibirnya untuk melengkung ke atas. "Dia Daddy angkat ku, sahabat Daddy. Ayo masuk!"
Ardhan menatap Arkhan dengan tatapan tajam. Dia tidak suka ada laki-laki yang mendekati Kenzia. Ia menepi, membiarkan kedua orang itu masuk. Matanya terus saja melihat ke arah Arkhan.
Aneh, kenapa dia melihat ku seperti itu? Batin Arkhan dia merasa pria matang itu berbeda.
"Zia, Daddy keluar sebentar," ucap Arkhan. Dia mendapatkan panggilan dari Jack, sebentar lagi Berlin akan sampai di bandara.
__ADS_1