
Setelah Dokter memeriksa Ardhan di ikuti satu suster yang menemaninya dengan memeriksa tetesan demi tetesan infus di tangan Ardhan.
Sedangkan Kenzia dengan setia berdiri di samping Dokter dan Dokter pun menjelaskan kalau Ardhan telah melewati masa kritisnya dan akan di pindahkan ke ruang rawat inap.
Mommy Aira dan Papa Argha saling berpelukan sejenak, kemudian melepaskan pelukannya. Rasa lega di hatinya pada putrinya, sekaligus menantu dan sahabatnya itu.
"Zi ..." Ardhan menggerakkan sebelah tangannya ke atas, meminta Kenzia mendekatinya.
Kenzia langsung menggenggam tangan Ardhan dan sebuah kecupan mendarat di keningnya dan pria itu pun menikmatinya sambil memejamkan kedua matanya, merasakan sebuah aliran yang bagaikan air di keningnya.
"Terima kasih Dad,"
"Jangan pergi..."
Kenzia mengangguk, dia beralih mencium tangan Ardhan. "Aku tidak akan pergi, maafkan Zia..."
"Maaf ...." Satu tetes mengalir dari sudut sebelah mata Ardhan. Dia ingin memeluk Zianya, tapi rasa sakit di perutnya masih ada.
"Daddy lelah Zi..." Ardhan merasa mengantuk, perlahan dia memejamkan kedua matanya.
"Mom, Dad."
"Mungkin karena efek dari obatnya Zi." Ucap Mommy Aira.
__ADS_1
"Jangan khawatir sayang, Ardhan pasti sehat." Daddy Argha menyela sambil mengelus kepala Kenzia.
Kenzia pun mengangguk, dia mengelus dahi Ardhan dan kembali menciumnya, membuat Mommy Aira dan Daddy Argha saling melempar senyum.
***
Pada malam harinya. Ardhan kembali membuka kedua matanya untuk yang kedua kalinya. Dia mengedarkan pandangannya, bau obat yang menyengat dan ia tau di mana dirinya sekarang, dia pun melirik kanan kiri tidak mendapati siapa pun di sampingnya.
"Apa aku mimpi?" Ardhan bertanya-tanya, tapi rasanya tadi seperti nyata. "Kenapa aku harus bangun kalau hanya sebatas mimpi? aku ingin tenggelam ke dalam mimpi itu."
krek
Suara bunyi pintu berdecit, Ardhan tetap memandang lurus ke depan, ia pikir salah satu seorang perawat yang mendatanginya.
"Daddy?" Kenzia tersenyum membuat Ardhan menoleh ke asal suara.
Kenzia menggeleng, "Ini bukan mimpi Dad, ini Zia, Kenzianya Daddy."
"Aku mencintai mu Zi."
Kenzia memeluk Ardhan, sebelah tangannya melingkar di dada Ardhan. "Kenzia juga mencintai Daddy. Daddy tau, Kenzia hampir gila saat mendengarkan Daddy."
"Apa Daddy ingat tentang kejadiannya?" Ardhan mencoba mengingat, yang dia lihat pertama kali adalah Kenzia.
__ADS_1
"Aku melihat mu Zi."
Kenzia menggeleng, "Itu bukan aku Dad, tetapi tante Berlin."
"Tapi kenapa mirip dengan mu?"
Kenzia menceritakan semuanya sesuai dengan penjelasan Jack, tidak ada satu pun kata yang ia kurangi dan lebihi.
"Ah, jadi Berlin melakukannya. Lalu di mana dia sekarang? apa dia melukai mu?"
"Tidak Dad, Tante Berlin sudah ada di penjara. Hidupnya akan habis di penjara."
"Maafkan aku, akulah penyebab luka mu."
Kenzia mengelus rahang Ardhan yang sedikit kasar, bulu-bulu halus mulai tumbuh. Tubuh Ardhan tak lagi seperti dulu, kini kurus dan kering.
"Apa Daddy sangat mencintai ku seperti ini?'
"Iya Zi, kau jiwa ku Zi. Kalau tidak ada kau, aku tidak tau hidup seperti apa?" Tutur Ardhan, dalam hidupnya, inilah penyesalannya. Dia tidak pernah merasakan sesakit ini dan penyesalan sedalam ini.
"Ini, ini anak kita."
Bibir Ardhan bergetar saat tangan itu menyentuh perut Kenzia. "Zia ...." Ardhan terisak, dia semakin menyesal membayangkan bagaimana anaknya kelak.
__ADS_1
"Iya Dad, cepatlah sembuh agar bisa menemani hari-hari ku menjaga anak kita."
Kedua mata Ardhan beralih menatap perut Kenzia yang masih rata. "Sayang, ini Daddy Nak. Maafkan Daddy yang membuat mu kecewa. Daddy berjanji akan membahagiakan mu dan Mommy mu."