Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#19 : Perebut


__ADS_3

Bibir Berlin gemetar, hatinya bagaikan kobaran api yang terus melahap. Sama seperti dulu, suaminya selalu membela Kenzia. Sampai saat ini, pria itu tak sedikit pun mengutamakan nya. Ia harus bertindak lebih cepat sebelum Ardhan jatuh pada Kenzia.


Semua orang pun bubar, mereka pun paham. Seorang istri tak bisa merawat suami, itulah ejekan yang Berlin dengarkan.


"Sial !!!"


Usahanya kali ini gagal, ia ingin memojokkan Kenzia, tapi siapa sangka Ardhan membelanya. Ia pikir, Ardhan sudah sepenuhnya menjadi miliknya. Apa lagi sekarang ia adalah istrinya. Ternyata dugaannya salah. Ardhan masih menjadikan Kenzia wanita yang paling dia utamakan.


"Jangan salahkan aku kalau aku tidak berperasaan."


###


"Dad !!" Kenzia berusaha menenangkan Ardhan. Pria itu di selimuti oleh amarahnya. Sejujurnya, ia begitu senang. Ardhan membelanya dengan terang-terang, yang artinya Ardhan membuktikan bahwa ia di utamakan.


"Dad,"


Kenzia mengelus lengan Ardhan. Laki-laki itu menatap fokus ke depan. "Sudah !"


"Tapi dia keterlaluan, Zi. Aku kira dia sudah berubah dan menerima mu. Semenjak aku menjadi pacarnya, aku selalu mengutamakan nya," ucap Ardhan.


Selama menjadi kekasihnya, Ardhan mengutamakan keinginan Berlin. Pernah dia mengingkari janji dengan Kenzia dan pada akhirnya membuat Kenzia menangis dan mendiaminya.


Ardhan menoleh pada Kenzia. Dia menepikan mobilnya ke pinggir jalan, menghadap pada Kenzia. "Zia, kamu tidak takut pada Daddy kan?"


Ardhan takut kemarahannya tadi membuat Kenzia tak nyaman dan akan menjauhinya.

__ADS_1


Kenzia menggeleng, dia mengelus pipi Ardhan. "Aku akan menerima semua kelebihan dan kekurangan Daddy. Bukankan pasangan saling melengkapi untuk memperbaiki kekurangan?"


Hati Ardhan terhunyuh, Kenzia sekarang telah berubah. Dia bersikap dewasa, jadi ia tak perlu khawatir bahwa akan ada orang yang menasehatinya, seandainya ia melakukan kesalahan.


"Zia, marahi aku kalau aku berbuat salah."


Cup


Ardhan mengecup telapak tangan Kenzia. Kedua matanya tak berkedip menatap kedua netra Kenzia. Perlahan wajahnya mendekat dan mencium bibir Kenzia.


"Terima kasih Zi."


"Kita balik lagi ke Apartement!" Ajak Kenzia. Hari ini cukup melelahkan baginya. Bertemu dengan istri sah sang kekasih. Dia merasa menjadi seorang pelakor.


Kenapa hubungan ini datang di waktu yang salah?


"Jangan pernah meninggalkan Daddy, Zi."


###


Kenzia menatap Ardhan yang sedang tertidur pulas di atas ranjangnya. Alangkah baiknya setiap hari ia bisa melihat pahatan indah tanpa ada rasa takut. Menikmati di setiap momen berharga.


Setelah sampai di Apartementnya. Dia menyuruh Ardhan untuk istirahat. Beberapa menit yang lalu, ia mengeloni kekasihnya sampai tertidur pulas. Ah, harapannya terlalu besar dan mungkin saja tidak bisa terwujud.


Bunyi bel Apartementnya memecahkan lamunannya. Dia buru-buru keluar agar tidak mengganggu sang Daddy.

__ADS_1


Di buka pintu itu dan seorang wanita langsung masuk. Dia berteriak nama Ardhan. Mencari ke dapur dan terakhir melihat ke lantai atas.


"Hentikan! Apa yang tante lakukan?!" Bentak Kenzia.


Plak


Anak rambut Kenzia menutupi pipinya yang panas dan sakit. Dia memegang pipinya itu, lalu menoleh.


"Kau merebutnya!" Tunjuk Berlin. Dia sangat kesal sampai-sampai ingin membunuhnya.


"Merebut? Merebut siapa?" Tanya Kenzia. Nyilu dan perih, ia di cap sebagai perebut.


"Kamu merebut Ardhan dari ku, Zia. Dari awal hubungan ku tidak akan tenang kalau ada dirimu. Ardhan selalu mengutamakan mu, dia selalu mengesampingkan aku. Apa kamu belum puas Zia?"


"Apa ini ajaran ibu mu?"


Deg


Kenzia mengepalkan tangannya, tangan kanannya langsung melayang ke arah pipi Berlin.


Plak


"Tante boleh menghina ku, tapi tidak dengan mommy ku!" Teriak Kenzia. Harga dirinya terasa tercabik-cabik.


"Ardhan!"

__ADS_1


Kenzia mematung, dia memutar tubuh dan melihat Ardhan yang berdiri di atas tangga.


__ADS_2