Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#part 22 : Hamil


__ADS_3

Kenzia syok, dadanya bergetar bercampur aduk dengan kekhawatiran.


"Dari dulu aku tidak pernah menyukai mu," Berlin melanjutkan langkahnya kembali, ia kira Ardhan berada di Apartemanya, kecurigaannya mulai kuat.


"Kau yang membuat Ardhan berubah, bahkan berani menceraikan aku." Dia berbalik dan berteriak "Kenapa kau tidak menghilang saja, Kenzia!"


"Maaf kalau aku yang membuat Daddy dan Tante bertengkar."


Berlin kembali melangkah, tangan kanannya langsung menjambak rambut Kenzia, kepalanya pun tertarik. "Sakit Tante," lirih Zia.


Tangan Berlin bergetar hebat, ia melepaskan rambutnya itu, sedikit menghempaskan kepala Kenzia.


"Aku tidak akan tinggal diam, Zia."


"Aku tidak akan pernah tinggal diam, sekalipun kedua orang tua mu, orang kaya aku tidak takut."


Berlin memutar tubuhnya, berlalu meninggalkan Kenzia yang menangis tersedu-sedu.


Sedangkan Berlin, dia menyandarkan tubuhnya di depan pintu Apartement Kenzia. Dadanya terasa sesak, kesakitan itu terus menumpuk dan ingin meledak. "Aku tidak mau, aku tidak mau bercerai."


Berlin meratapi nasibnya, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, ia masih mencintai Ardhan.


##


Kenzia menatap wajahnya, air matanya terus mengalir. Kenapa harus dia yang mengalami nasib seperti ini? kenapa harus dia yang merasakannya?"


hoek


hoek


Kenzia menutup mulutnya, dia berlari keluar kamar mandi. Perutnya sejak tadi teras mual teras seperti di ulek.

__ADS_1


"Kenapa ya?"


Kenzia menoleh, mengintip di antara pintu. Handphonenya berdering, ia ingin mengangkatnya. Namun, ia kembali mual dan memuntahkan semua makanan yang ada di dalam perutnya.


Kenzia mencuci mulutnya dengan air, dia berkumur, lalu memuntahkannya. Setelah di rasa tenang, ia kembali dan mengambil Handphonenya.


"Zia.."


Amel, sahabatnya ternyata menghubunginya.


"Iya Mel, kenapa?"


"Hmmm, kapan masuk kerja? aku sepi tanpa mu," goda Amel


Hoek


"Zia kamu kenapa?" tanya Amel. "Kamu gak enak badan?


"Aku gak pa-pa, perut ku hanya gak enak saja," ucap Kenzia.


"Kayak orang hamil saja,"


Dahi Kenzia mengkeruut, seakan berpikir keras. Kedua matanya kembali mengembun, kata hamil itu membuat jantungnya seakan lepas. Seharusnya bulan ini ia datang bulan.


Kenzia mengambil kalender kecil di atas nakasnya. Handphone di tangannya langsung jatuh ke lantai. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia hamil, ia hamil anak Ardhan. Semuanya tidak mungkin, kenyataan ini tamparan keras untuknya. Dia tidak mungkin hamil anak Daddynya.


###


Jack memencet tombol lift itu, tubuhnya terasa berat membawa tubuh Ardhan yang lemah. Ardhan sangat mabuk, untuk berjalan pun susah. Jadi terpaksa ia harus membopong sang tuan.


"Mari tuan," ucap Jack. Dia memasuki lift dan pintu itu tertutup kembali.

__ADS_1


"Zia."


Ardhan menggumamkan nama Zia. Sedangkan Jack merasa kasihan, tuannya begitu mencintai Kenzia sehingga dalam keadaan mabuk pun terus menyebut namanya.


ting


Pintu lift terbuka, Jack kembali memapah tubuh Ardhan. Ia bermaksud mengantarkan Ardhan ke Apartement Kenzia. Namun, seorang wanita telah berdiri di antara depan kedua pintu Apartement.


"Nyonya,"


Berlin langsung mendekat, dia melihat kemeja Ardhan yang lusut, kedua matanya terpenjam, kepalanya di sandarkan ke bahu Ardhan.


"Honey, kamu kenapa bisa mabuk seperti ini?" Berlin memegang kedua pipi Ardhan. "Cepat bawa dia masuk!" titah Berlin.


Jack terpaksa melangkah ke arah Apartement sang tuan, dia melirik pintu Apartement Kenzia.


Hatinya takut, bisa jadi sang tuan mengigau nama Kenzia. Lalu, bagaimana nanti kalau sang nyonya tau.


"Hati-hati,"


Jack membaringkan tubuh Ardhan dengan pelan. Dia melihat sang nyonya yang tampak khawatir.


Berlin membuka sepatu Ardhan satu demi satu, membuka kaos hitamnya. Kemudian beralih pada dasi dan jas Ardhan.


"Honey.. hmm..."


Berlin mengecup kening Ardhan, ia sadar, ia tidak bisa kehilangan Ardhan. Apa pun yang terjadi, ia akan membuat Ardhan berada di sampingnya.


"Kamu keluarlah, biar aku yang menanganinya."


Berlin ikut keluar, dia mengambil air dan sapu tangan. Mengompres tubuh Ardhan, ia menghapus air matanya, ia sadar, ia kurang perhatian. Waktunya hanya di habiskan untuk di luar.

__ADS_1


"Zia..."


Berlin menghentikan tangannya yang hendak mengelap tubuh Ardhan.


__ADS_2