Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#44 : Kemana Cinta Mati Itu?


__ADS_3

Keheningan di ruang makan itu membuat suasananya mencengkam. Hanya ada dentingan sendok yang tak membuat suasana itu mencair. Kedua orang itu tampak memakan makan malamnya tanpa berbicara sedikit pun.


Biasanya, Daddy Argha selalu menggombal pada sang istri, namun pria itu kali ini merasa kurang bersemangat. Sesekali dia hanya melirik sang istri tanpa ingin berbicara. Sedangkan Mommy Aira, menunjukkan ekspresi yang sangat sulit di pahami. Mulai dari awal sampai dia menyantap makan malamnya, tidak ada sepatah kata yang keluar.


Tap


Tap


Tap


"Tuan, Nyonya, maaf mengganggu, di luar ada tuan Ardhan yang ingin bertemu dengan Nyonya dan Tuan," ucap seorang pelayan.


Mommy Aira langsung tersedak, dengan cepat Daddy Argha mengambilkan air di depannya, lalu membantu sang istri untuk minum.


"Kau bicara apa?" tanya Mommy Aira menatap tajam.


"Di luar ada tuan Ardhan nyonya," ucapnya lagi dengan rasa takut melihat wajah sang nyonya yang menyeramkan.


"Sayang, tahan emosi mu. Ingat pesan Kenzia," ucap Daddy Argha menenangkan. Padahal ia tengah menenangkan perasaannya yang juga ingin memaki Ardhan.


Mommy Aira kembali meneguk gelas yang berisi air dan tinggal separuh itu. "Kita temui dia, aku tidak sabar melihat wajah brengseknya."


Mommy Aira pun bangkit dan Daddy Ardhan merangkul serta mengelus sebelah tangannya, berharap hatinya sedikit tenang.

__ADS_1


Mommy Aira tersenyum kecut, inilah sosok yang ia benci saat ini, temannya, sahabatnya menusuk putri semata wayangnya dan membuatnya berpisah kembali.


"Sayang,"


Mommy Aira mendongak dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Ardhan?"


Pria itu tersenyum, dia merapikan jas hitamnya, lalu melewati meja kaca itu dan memeluk Daddy Argha sebagai tanda pertemuan.


"Aku senang bertemu dengan mu lagi," ucap Ardhan sambil tersenyum.


Mommy Aira tersenyum dengan paksa, seakan ia tidak bisa lagi membuat senyuman di wajahnya. "Silahkan duduk," ucapnya.


Ardhan pun kembali ke tempat semula, ia merasa canggung dan detak jantung yang semakin berdebar, ia melihat sekelilingnya, namun tidak melihat siapa yang ia cari.


Mommy Aira semakin meremas tangan Daddy Argha yang menggenggamnya.


"Em, semenjak kapan kau pulang?" tanya Daddy Argha mengalihkan pembicaraannya.


"Tadi, setelah itu aku langsung kesini."


Daddy Argha mengangguk, ia menghela nafasnya. Entah sampai kapan dia bisa mengontrol emosinya?

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Berlin?" tanya Mommy Aira. Dia melihat ke arah lain agar air matanya tidak langsung jatuh.


Deg


"Dia baik-baik saja," jawab Ardhan.


"Aku harap kau menjaganya dengan baik, Berlin wanita yang baik." Mommy Aira menjeda dan melanjutkan perkataannya di dalam hatinya.


Dan kau pria brengsek yang telah menghancurkan putri ku umpat Mommy Aira di dalam hati.


Ardhan hanya mengangguk tanpa ingin menjawab.


"Kau beruntung mendapatkannya, jadi jaga dia dengan baik."


Ardhan mengerutkan keningnya, sepertinya ada sesuatu yang salah. Tidak biasanya Aira sahabatnya mengatakan Berlin wanita yang baik, ini hal langka yang menurutnya sangat sulit di temukan.


"Tumben kau mengatakan Berlin sangat baik."


"Aku mengatakannya karena dia mencintai mu, jadi sia-siakan perjuangannya."


Dan jangan sia-siakan perjuangan putri ku, justru aku berharap kau tidak bertemu dengannya.


"Tapi aku ingin menceraikan Berlin dan aku sudah mengurusnya."

__ADS_1


Daddy Argha tertawa sumbang, sebagai seorang ayah dan seorang laki-laki ia sangat malu. Putrinya di perlakukan seperti barang yang di inginkan tapi seperti merasa tak di inginkan, layaknya barang yang kapan akan berarti dan kapan tidak akan berarti, bukankah sangat kejam? jika di lakukan pada seorang manusia.


"Kenapa? kenapa kau ingin bercerai? bukankah dulu kau bersikeras untuk menikah dengan Berlin? kau mengatakan, kalau kau cinta mati? kemana cinta mati itu? apa sekarang kau menemukan gadis yang lebih memukau dari Berlin? tapi ingat, jangan jadikan wanita itu seperti barang." Tekan Daddy Argha dengan perasaan marah yang membeku di hatinya.


__ADS_2