
Terbesit rasa tidak setuju di hati Kenzia, ia tidak akan bisa bertunangan atau pun menikah dengan orang lain. Hatinya, sepenuhnya milik Ardhan. Namanya telah tertanam sangat dalam dan telah tumbuh, semakin hari cinta itu terus tumbuh. Katakanlah seperti bunga, setiap harinya bunga itu akan tumbuh.
Sedangkan Mommy Aira, ia pun bingung ada rasa tidak setuju. Pernikahan atau pun pertunangan bukanlah mainan, yang seenaknya memutuskan dan seenaknya bercerai. Ia khawatir pernikahan barunya, masih terbayang-bayang wajah Ardhan. Ia tidak yakin kalau pernikahan itu akan berlangsung lama.
"Kalian tidak setuju?" tanya Daddy Argha. Putrinya dan istrinya malah diam dengan usulannya, ia tahu ini mendadak, tapi demi kebaikan semuanya.
"Aku tau keputusan ini sangat berat untuk mu Zia, tapi lihatlah kebaikannya jangan hanya melihat keburukannya."
"Yang aku takutkan, kalau Kenzia masih menyimpan rasa. Aku tidak mau, laki-laki yang mencintai putri kita akan menderita. Akan semakin banyak orang yang terluka."
"Kenzia harus belajar menerimanya dan melupakan Ardhan."
"Mudah, mengucapkan memang mudah, tapi tidak semudah yang menjalaninya." Sentak Mommy Aira. Suaminya memang memberikan usulan, tapi terasa menekan dan memberatkan Kenzia.
"Lalu, kita harus bagaimana? menjadikan Kenzia istri kedua Ardhan?" Daddy Argha juga tak kalah sengit, dia mulai meninggikan suaranya kembali, otaknya sudah mendidih memikirkan masa depan Kenzia. Mungkin masih bisa ada sebagian orang yang menikahinya karena melihat statusnya, siapa yang akan menikahi wanita yang memiliki anak di luar nikah.
Mommy Aira bangkit, tangannya mengepal, hingga kuku putihnya menancap di tangannya.
"Mom .... "
Kenzia merasakan suasana semakin tegang, dingin dan menyeramkan. Kedua orang tuanya berdebat hanya karenanya, ia tidak sanggup lagi kalau harus menghancurkan rumah tangga orang tuanya.
Daddy Argha langsung melunak melihat darah segar yang menetes. "Sayang."
Daddy Argha memutari meja kaca di depannya, meraih tangan sang istri, tangan yang mengepal itu perlahan di buka. "Sayang, tangan mu berdarah." Panik Daddy Argha.
"Maaf aku salah," sesalnya. Selama pernikahan, baru pertama kalinya mereka berdebat.
Daddy Argha pun memeluk Mommy Aira, mencium keningnya. Hati Kenzia merasa rapuh, seandainya Ardhan seperti Daddy, pasti ia akan menjadi wanita yang beruntung. Sang Daddy dan sang Mommy tidak pernah berdebat, bahkan pernah perusahaan mereka terguncang. Keduanya saling menguatkan satu sama lainnya.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku terbawa emosi."
Selepas siapa pun yang salah dalam keluarga, mereka akan saling meminta maaf, seperti Daddy dan Mommy nya.
"Kenzia akan memikirkan apa di katakan Daddy."
Drt
Drt
Benda pipih yang berada di atas meja itu berkedip dan bergetar, Kenzia mengambil benda pipih milik Daddy nya yang tak jauh dari jangkauannya. Dia membaca nama itu dan menatap ke arah kedua orang tuanya.
"Daddy Ardhan."
"Sebaiknya kamu angkat dan katakan kalau kamu bersama Daddy, dia pasti khawatir."
Kenzia memejamkan matanya, ia menggeser tombol hijau itu, lalu mendekatkan ke arah kedua telinganya.
Air mata itu mengalir tanpa ia perintah, suara yang ia sangat rindukan, suara yang siang dan malam menghiasi otaknya. Sentuhan dan pelukan hangatnya, perhatiannya, semuanya ia rindukan.
"Ar .... Kenzia sudah sampai kan? aku menghubunginya tapi nomornya tidak aktif, apa terjadi sesuatu?"
"Daddy,"
Deg
Sejenak suara di seberang sana terdiam, pria itu tersenyum sambil meneteskan air matanya. Berhari-hari ia khawatir, takut dan kesepian.
"Hey, sayang. Kau kemana saja? apa kau tau? aku khawatir dan takut terjadi sesuatu pada mu. Kau mau membunuh Daddy ya,?" cecar Ardhan. Dia bagaikan orang gila tanpa Kenzia, hanya Kenzia arah kehidupannya.
__ADS_1
"Apa sih Dad?! aku sengaja menonaktifkan ponsel ku, Daddy tau sendiri, aku sangat merindukan Mommy dan Daddy," ucap Kenzia terkekeh. Padahal hatinya seperti di belah oleh pedang tajam.
"Hem ... "
Mommy Aira dan Daddy Argha pun saling menggenggam erat, seakan mereka menguatkan satu sama lainnya. Padahal yang di butuhkan di kuatkan adalah Kenzia.
"Em, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan. Bisa kamu bicara di tempat lain."
"Iya Dad," ucap Kenzia sambil menatap kedua orang tuanya.
Daddy Argha pun memberi kode pada Kenzia untuk mengeraskan suara di ponselnya, dan Kenzia pun menuruti perintah sang Daddy. Dia mengereskan suara ponselnya.
Mommy Aira mendekat dan memeluk tubuh putrinya dari arah samping.
"Begini, em ... Berlin mengatakan pada ku untuk memberikannya waktu satu bulan, selama satu bulan itu kalau dia tidak bisa membuat ku jatuh cinta padanya, dia akan menyerah. Aku yakin Zia, kamu bisa menunggunya kan, aku yakin, aku tidak akan jatuh cinta lagi pada nya."
Mommy Aira menghembuskan nafasnya, ia kesal dengan perkataan Ardhan. Memangnya, hati wanita boleh di permainkan?
Di tatap putrinya yang tidak bisa menjawab, ia pun memasang suara seakan memanggil Kenzia.
"Zia ... "
"Dad, Zia tutup dulu. Mommy memanggil Zia."
Kenzia menutup ponselnya dan langsung memeluk sang Mommy. Daddy Argha mengelus punggung putrinya.
"Sebaiknya, kita secepatnya mengirimkan Kenzia ke London, ini tidak baik untuknya."
Daddy Argha pun mengambil ponselnya, dia menghubungi Asistennya yang akan mempersiapkan tiket untuk putrinya.
__ADS_1
Daddy Argha pun memutuskan, dalam waktu tiga hari ini Kenzia akan berangkat ke London.