Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#16 : Tragedi Kenzia


__ADS_3

"Honey, kau kenapa?" Tanya Berlin. Wajah suaminya terlihat kusut setelah kejadian tadi. Ia tidak begitu suka suaminya terlalu melindungi Kenzia. Siapa Kenzia baginya? Gadis itu hanyalah anak teman sahabat suaminya.


"Honey,"


Berlin memeluk Ardhan dari belakang. Dia menggesekkan kedua bongkahannya di punggung Ardhan. Biasanya Ardhan akan tergoda dengan aksinya.


"Jangan di pikirkan, sebaiknya kita melakukannya."


Berlin sangat merindukan Ardhan. Sentuhannya, belaian Ardhan dia rindu dengan semuanya.


"Hentikan Berlin! Aku harus keluar. Kamu beristirahatlah,"


Tanpa mendengarkan jawaban Berlin, Ardhan keluar dengan melangkah cepat. Ia ingin menemui Kenzia.


"Ar..." Berlin menatap punggung Ardhan dengan kekecewaan. Ardhan menolaknya, tidak pernah Ardhan menolaknya, justru ia lah yang sering menolak Ardhan, tapi sekarang.


Argh


"Ini semua gara-gara Kenzia. Dari dulu aku memang tidak suka dengan anak itu, yang selalu mengganggu Ardhan, melekat pada Ardhan, untung saja, Ardhan mau kembali pada ku."


Walaupun ia tidak begitu yakin tentang Ardhan menerimanya dan memaafkannya, baginya sudah cukup. Ardhan berada di sisinya untuk memenuhi kebutuhannya.


Drt


"Honey,"


Terdengar suara mesra seorang laki-laki di sebrang sana. Belum hilang amarah Berlin, namun, laki-laki itu malah menghubungi.


"Apa?! Apa uang ku tidak cukup memenuhi kebutuhan mu?" Tanya Berlin. Dia begitu kesal dengan laki-laki itu. Selalu memintanya uang dan uang.


"Tidak, aku merindukan mu, kakak."


Berlin memejamkan matanya. Memutar bola matanya dengan jengah. "Berapa yang kamu inginkan?" Tanya Berlin.


"Kirimkan aku 10 juta?"


"What?! Jangan gila kamu, dua hari yang lalu kamu meminta ku mengirimkan uang 40 juta, aku sudah menurutinya kan,"


Kalau saja bukan adiknya yang bisa ia manfaatkan, sudah pasti ia mencekiknya.


"Jangan terlalu emosi, kakak tahu kan kejadian beberapa tahu lalu. Bagaimana kalau suami kakak tahu?"


"Kau!" Kecam Berlin. "Aku akan mengirimkannya, tapi tutup mulut mu."


Berlin membuang handphonenya ke arah sofa dengan kasar. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, kalau sampai semuanya terungkap. Bisa jadi, bukan hanya kedua orang tua Kenzia yang marah padanya, tapi juga Ardhan.


Flasback


Seorang wanita tengah menatap tajam pada dua orang. Meskipun perbedaan umur keduanya terlihat, tapi tidak bisa dihilangkan keduanya seperti kekasih. Dia Kenzia dan Ardhan.

__ADS_1


Daddy dan anak angkat itu tengah bersanda gurau di taman. Sedangkan Berlin, dia merasakan terbakar cemburu. Ardhan tidak mencarinya, justru laki-laki itu malah bersenang-senang dengan putri angkatnya.


"Hallo kakak sayang." Berlin melirik adiknya yang mendekat.


"Oh, punya saingan baru." Rio, adik kedua sekaligus si bungsu.


"Sepertinya kakak akan benar-benar di lupakan." Laki-laki itu terkekeh. Di usianya yang muda, dia menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang.


"Apa mau aku bantu? Kalau kakak tidak bertindak cepat, kakak bisa kalah telak."


Rio tertawa mengejek, Berlin mengepalkan tangannya.


"Aku ingin, kamu membereskan gadis itu. Buat Ardhan membencinya."


Rio terkekeh, ia menemukan mangsa yang berbeda dari biasanya. Menatap Kenzia dari kejauhan, tangannya sangat gatal ingin meraba tubuhnya.


"Kapan kita bertindak kak?"


"Secepatnya, kalau Ardhan sudah menjauh darinya."


Berlin membalikkan tubuhnya. Kalau tidak menjauh, ia tidak akan bisa menahan diri untuk tidak mencakar wajah Kenzia.


Selama tiga hari Berlin dan Rio mencari celah. Kedua wanita itu terus mengikuti Kenzia. Keduanya akan mencari lengah. Pagi, siang, sore dan malam. Mereka tidak pernah melepaskan Kenzia, memasang mata-mata di dekat Kenzia.


Tepat pada malam hari, Kenzia kebetulan keluar sendirian. Dia pergi ke toko buku, Berlin dan Rio bersiap menerkam mangsanya. Keduanya menunggu Kenzia keluar dari toko buku.


Rio tersenyum, dia turun dari mobilnya. Menggunakan jaket hitam serta topi hitam. Dia mengikuti Kenzia sampai jalanan cukup sepi. Karena tidak ada yang memperhatikan, Rio menutup hidung dan mulut Kenzia menggunakan sapu tangan.


Berlin yang menyetir, dia segera melajukan mobilnya ke arah Kenzia dan Rio.


Mobil itu pun melaju kesebuah gedung terbelangkalai. Rio menyeret tubuh Kenzia dengan menarik kedua lengannya, tubuh Kenzia terlentang dan lemas.


"Apa teman mu sudah datang? Kita tunggu dia sadar," ucap Berlin tersenyum sinis.


"Wah bos, ini wanitanya." Ketiga preman itu menghapus air liur yang hampir menetas. Mereka tergiur dengan keelokan tubuh Kenzia.


"Iya, wanita ini. Cepat bantu aku bawa dia masuk." Titah Rio.


Salah satu dari mereka mengangkat kedua kaki Kenzia. Kemudian menaruhnya di atas kardus di sebuah ruangan yang kotor, di ruangan itu hanya ada satu cahaya lampu lilin yang meneranginya.


"Kita keluar, kita tunggu wanita ini sadar."


Beberapa menit kemudian.


Kenzia sadar, samar-samar kedua netranya melihat ruangan yang gelap. Ia terkejut, ia mencoba mengingat apa yang terjadi padanya dan pada akhirnya mengingat semuanya. Ternyata dia tengah di culik.


Kenzia mencoba tenang, para penjahat itu belum tahu ia sudah sadar.


Mencari handphone di saku jaket dalamnya, kebetulan dia menaruh benda pipih miliknya di sakunya. Entah mengapa tadi ada sesuatu yang menyuruhnya untuk menaruh benda pipih itu di sakunya.

__ADS_1


"Syukurlah, masih ada harapan."


Kenzia menghapus air matanya, setenang-tenangnya dia. Masih ada rasa takut yang mendalam di hatinya.


Dia memencet tombol sang Daddy. "Tolong Zia Dad, Zia di culik." Kenzia menangis tersedu-sedu.


Krek


"Rupanya kau sudah sadar."


Ketiga preman itu melangkah bersamaan ke arah Kenzia dan tersenyum menyeringai.


"Apa mau kalian? Aku bisa memberikan kalian uang."


Ketiga preman itu tertawa, salah satu dari mereka mengambil benda pipih Kenzia. Dia melihat sebuah panggilan dan suara seorang laki-laki.


"Sial!"


Prank


Benda pipih itu hancur setelah du lempar ke dinding. Kenzia berusaha mengambil benda pipih itu, namun preman berbaju merah itu menangkap salah satu kaki Kenzia.


"Lepaskan! Daddy tidak akan mengampuni kalian."


"Tidak perlu banyak bicara, ayo kita lakukan."


"Tidak! Lepaskan aku, aku mohon." Lirih Kenzia.


Dia terus memberontak. Kedua tangannya di pegang oleh kedua preman. Sedangkan satu preman memegang kedua kakinya.


"Lepaskan aku!" Teriak Kenzia. "Tolong!" Teriak Kenzia.


Namun, percuma Kenzia meminta tolong. Gedung itu jauh dari pemukiman penduduk.


"Hahaha."


Ketiga preman itu tertawa lepas, dengan kasar salah satu dari mereka merobek baju Kenzia. Kedua preman itu membantu membuka jaket dan terakhir dress berwarna putih motif bungan mawar.


"Tidak!!!" Teriakan Kenzia menggelagar.


Preman yang merobek baju Kenzia itu, bersiap menyentuh kedua bongkahan itu. Namun, ia terganggu dengan bunyi benda yang berdering.


Preman itu mengangkatnya dan wajahnya langsung berubah menjadi amarah.


"Cepat! Kita tinggalkan tempat ini. Sebelum mereka datang."


Namun tanpa mereka sadari, Berlin dan Rio telah mempersiapkan semuanya. Sehingga tidak akan meninggalkan jejak untuk mereka.


Flasback off.

__ADS_1


__ADS_2