
Kenzia tersenyum hambar, "Hanya perasaan Daddy saja, mana mungkin aku menjauh. Aku tidak bisa pergi dari Daddy."
"Hah," Ardhan mencium ceruk leher Kenzia. "Benar, kau tak bisa jauh dari ku."
Seusai memberikan obat pada Ardhan dan menyelesaikan sarapannya. Kenzia meminta ijin keluar untuk menemui kedua sahabatnya. Ia berniat akan mengundurkan diri dan kembali ke Indonesia.
Ardhan pun mengijinkannya dan mengantar Kenzia ke tempat tujuan. Sedangkan ia akan menemui Berlin.
Kenzia melihat mobil Ardhan yang telah menghilang, ia menoleh ke toko bunga. Sama sekali ia tidak berniat masuk, ia akan menemui kedua sahabatnya setelah pulang dari Apotek.
Kenzia menyetop sebuah taxi, dia masuk dan mengatakan pada taxi berhenti di jalan Xxx.
Dia meminta dua alat test pack. Dia menggenggam erat kedua alat itu. Setelah membeli alat tes kehamilan itu, dia kembali bergegas menuju toko bunga.
"Amel," sapa Kenzia di ambang pintu. Hari ini lumayan ramai, ia melihat beberapa pengunjung yang sedang mengantri.
"Zia, aku rindu kamu," ucap Amel. Sifatnya memang sedikit lebay dan mudah akrap.
"Zia, kau lagi sakit, sebaiknya istirahat dulu di ruangan ku," ucap Arkhan. Pria itu meminta waktu pada pelanggannya untuk menemui Zia.
"Aku sudah sembuh, ya aku ke toilet dulu. Nanti aku balik lagi."
Arkhan dan Amel mengangguk, Keduanya kembali melayani pelanggan yang sempat tertunda.
Kenzia menutup rapat pintu toilet itu, ia mengambil kedua alat itu di dalam tasnya. Antara takut, khawatir dan sedih. Perasaan itu selalu hadir, menemani hari-harinya. Ia sedih, karena sebentar lagi akan meninggalkan Ardhan. Ia takut, kalau ia tidak hamil. Sejujurnya, ia ingin memiliki anak dengan Ardhan, walaupun kehadirannya akan membuatnya berpisah.
Ia menghembuskan nafas kasarnya, ia menunggu hasilnya keluar. Jantungnya bagaikan gendrang yang di pukul tidak ada habis-habis.
Ia memejamkan kedua matanya dan menutup mulutnya yang menganga, ia tidak bisa mengungkapkan apa-apa melihat garis dua itu.
"Aku hamil."
__ADS_1
Kenzia memegangi perutnya yang masih datar, rasa haru, senang dan sedih kini mengaduk-ngaduk hatinya.
"Mommy akan merawat mu, tapi sebelumnya, Mommy minta maaf, Mommy harus memisahkan mu dengan Daddy mu. Mommy, tidak bisa merusak bahtera rumah tangga Daddy mu."
Kenzia menangis pilu, dadanya terasa nyilu. Ia harus berpisah, tapi inilah yang ia inginkan dan harapkan.
tok
tok
tok
"Zi .... "
Amelie merasa khawatir, sahabatnya itu berlama-lama di dalam toilet. Ia takut terjadi sesuatu, apa lagi Kenzia kelihatannya baru sembuh.
"Zi .... kamu baik-baik saja kan di dalam?"
Meskipun bingung, Amelia membalas pelukan Kenzia dan mengelus punggungnya. "Zi, kamu kenapa? apa terjadi sesuatu?"
Kenzia melerai pelukannya, hatinya tak kuasa mengatakan semuanya. Ia kembali memeluk Amelia.
###
Kenzia menatap ke arah lantai, dia masih sesegukan sejak tadi. Amelia memberikannya segelas air dan Arkhan, pria itu menyandarkan pinggangnya ke sisi meja ruang kerjanya, sambil bersendekap melihat ke arah Zia.
Sejak tadi, pikirannya terus menebak-nebak. Ia memang curiga dengan Kenzia dan Ardhan, sebatas anak angkat dan Daddy, tapi ia merasa hubungannya jauh lebih dari itu.
"Ini,"
Amelia menyodorkan segelas air. Dia lalu duduk di samping Kenzia. Ia mengambil bantal di sampingnya, menaruhnya di atas pangkuannya. Tangan kanannya mengelus bahu Kenzia untuk menenangkannya.
__ADS_1
"Katakan Zia, ada apa?"
Kenzia meneguk setengah air putih itu, ia menatap kedua orang itu satu per satu. Ia pun memulai pembicaraannya.
###
Arkhan, pria itu mengeluarkan semua kekesalan, kekecewaan di hatinya dengan minum di salah satu bar. Matanya memerah dan menerawang jauh, meneguk wine di gelas kecil yang berada di tangannya.
"Heh,"
Ia tertawa miris, ternyata cintanya dari dulu bertepuk sebelah tangan. Kenzia, wanita pertama yang membuat jantungnya berdebar-debar, tidak melihat senyumannya, ia merasa dunia akan runtuh. Wanita itu telah menghiasi hari-harinya.
"Kenapa sesakit ini?"
Arkhan mengambil botol di depannya, lalu menuangkan cairan itu ke gelas kecil.
"Ak .... "
Seorang wanita menepuk pundak Arkhan, dia Amelia. Beberapa menit yang lalu Arkhan meminta Amelia untuk menemaninya minum.
"Kenapa sesakit ini Mel?"
"Anggap aja ini cobaan buat kamu, aku yakin, kamu bisa menghadapinya. Kenzia, dari dalu memang selalu merindukan Daddynya, aku sempet curiga waktu Kenzia pertama kali menceritakan Daddy nya, dari itu aku mulai paham, tapi selama ini, aku gak yakin, jadi aku membuang pikiran itu jauh-jauh."
"Sebaiknya kamu ungkapkan saja perasaan mu."
Arkhan menggeleng, ini bukan waktu yang tepat untuknya mengatakan perasaannya.
"Atau begini saja, kamu pelan-pelan mendekati Kenzia. Dia berniat menjauh dari Daddy nya, ini kesempatan bagi mu untuk mendekatinya."
"Tiga hari lagi Kenzia akan balik ke Jakarta, kau harus tegar, jangan membuat Kenzia melihat air mata mu dan membuatnya bertambah sedih."
__ADS_1
Segala nasehat dan ceramah, Amelia keluarkan untuk sahabat sekaligus bosnya. Ia tau sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, karena ia pernah mengalaminya. Bahkan lebih menyakitkan dari pada Kenzia.