Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#6 : Kacau


__ADS_3

Ardhan duduk dengan tenang, namun hatinya merasa was-was. Sebenarnya Kenzia sudah curiga dengan kado yang akhir-akhir ini di terima olehnya.


"Apa kado itu dari Daddy?" Tanya Kenzia.


Ardhan terdiam. "Iya, kado itu memang benar dari Daddy."


"Lain kali jangan melakukan hal-hal yang seperti anak kecil. Jangan mengganggu Kenzia, kehadiran Daddy sangat mengganggu."


"Kalau Daddy datang kesini kerena pekerjaan fokuslah untuk bekerja, kalau Daddy datang kesini untuk berbulan madu, fokuslah berbulan madu."


"Kenzia, kenapa kamu seperti ini?" Tanya Ardhan. Ia tidak tahu kesalahan apa yang telah ia lakukan pada Kenzia. Selama ini ia selalu berusaha berbuat baik.


"Apa kamu takut Daddy akan melupakan mu?" Tanya Ardhan. Dia akan menjelaskan, bahwa pemikiran itu tidak pernah terlintas di pikirannya.


"Iya... Bukan itu, tapi seseorang yang telah memiliki istri, kita harus menjaga jarak."


"Berlin juga menerima mu.."


"Hentikan! Aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Silahkan Daddy keluar, pintu di sana terbuka lebar." Kenzia menunjuk pintu Apartementnya.

__ADS_1


"Tidak! Daddy butuh alasan."


"Baiklah, Daddy butuh alasan bukan." Kenzia memejamkan matanya sejenak. "Sejak dulu, aku menganggap mu sebagai Daddy ku, menurut ku. Kamu laki-laki yang baik, tapi aku tidak tahu, semenjak kapan aku menyukai Daddy. Saat Daddy mengatakan akan menikah, saat itu hati ku hancur Dad, jadi selama ini aku menjauh dari Daddy untuk menghilangkan rasa sakit di hati ku Dad."


Kenzia menghapus air matanya dengan punggung tangannya. "Aku rasa Daddy bukan orang yang bodoh, yang tidak mengerti perkataan ku. Daddy pasti paham perkataan ku kan, jadi inilah alasan ku. Silahkan Daddy keluar!"


Ardhan yang masih terkejut, tubuhnya seakan tak bisa ia gerakkan. Jantungnya terus berdebar tak karuan.


"Keluar Dad!" Suara Kenzia meninggi dan menatap tajam Ardhan. "Keluar!!" Teriaknya kembali.


Ardhan berjalan lunglai, perkataan Kenzia sontak membuat hati dan pikirannya berkecambuk. Kenyataannya, Kenzia selama ini menyukainya bukan sebagai Daddynya melainkan sebagai seorang pria.


"Tuan?" Jack menatap Ardhan. Keringat dingin keluar dari dahinya.


"Apa tuan merasa tidak enak badan? Bagaimana kalau saya membawa tuan ke rumah sakit?" Tawar Jack. Barusan majikannya baik-baik saja, tapi setelah keluar dari Apartement Kenzia. Wajah majikannya langsung berubah. Seakan tidak memiliki tenaga.


Jack memencet pin tombol pintu itu, kemudian mengikuti Ardhan memasuki gedung itu.


Drt

__ADS_1


Ardhan memejamkan matanya, ia membuka jasnya yang membuat tubuhnya tak leluasa dan berkeringat. Jack mengambil segelas air putih, menaruhnya di atas meja.


Drt


Jack mengambil benda pipih miliknya di saku jasnya. Dia menatap Ardhan kemudian mengangkat panggilan itu.


"Jack, di mana Ardhan? Kenapa tidak mengangkat panggilan ku?" Tanya Berlin dengan marah. Dia kesal Ardhan mengabaikannya.


"Tuan," Jack menjauhkan dari telinganya dan berbisik. "Nyonya Berlin menghubungi tuan."


"Berapa yang Berlin minta Jack? Katakan saja kalau aku tidak enak badan."


"Nyonya, tuan sedang tidak enak badan. Apa Nyonya akan datang kesini untuk menjenguk tuan? Sekarang tuan ada di Prancis?"


"Jack kamu tidak tahu betapa sibuknya aku. Aku di sini sedang pemotretan, aku sibuk. Ya sudah, suruh Ardhan jaga kesehatannya dan secepatnya kirimkan aku uang. Aku ingin membeli tas keluaran terbaru."


Jack merasa kasihan pada Ardhan. Selama menikah, walaupun Ardhan sakit, Berlin akan tetap melanjutkan perjalanannya.


"Tuan."

__ADS_1


"Berikan saja apa yang dia mau Jack."


Ardhan meneguk segelas air putih di atas meja itu. Dia kemudian beranjak masuk ke kamarnya untuk menenangkan pikirannya.


__ADS_2