
Ceklek
Kenzia menghidupkan lampu ruang tamunya, ada rasa kecewa di hatinya. Orang ia cari tidak ada di Apartementnya, lampu ruang tamu pun mati, berarti tidak ada orang yang masuk.
Dan Ardhan sama sekali tidak menghubunginya. Beberapa kali ia mengecek gawainya, namun sama sekali tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Ardhan.
Ia melangkahkan kakinya dengan lesu, wajahnya cemberut dengan satu sudut bibirnya tertarik ke samping.
Ia melemparkan tasnya ke atas sofa, lalu mendaratkan bokongnya dengan kasar. Kemudian menyandarkan lehernya ke sandaran sofa, menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya.
"Kemana Daddy? apa Daddy bertengkar lagi dengan tante Berlin?"
Kenzia merasa kesal, namun ia tidak bisa mengungkapkannya, punya hak apa dia? ah, selalu itu yang muncul di benaknya ketika ia ingin memberontak dan melarang.
Jam dinding terus berdetak, Kenzia belum beranjak dari sofa itu. Dia mengambil gawainya di atas meja, menghidupkannya, lalu mematikannya kembali dan menaruhnya.
__ADS_1
Waktu telah menunjukkan jam 11.30, namun belum ada satu pesan pun yang masuk dari sang Daddy.
Karena lelah menunggu, Kenzia membaringkan di sofa putih itu dengan tangan yang ia tekuk sebagi bantalnya dalam posisi meringkuk. Kedua matanya terasa berat, namun pandangannya tidak lepas dari gawainya dan berakhir menutup matanya.
###
Di tempat lain.
Berlin sedang di rawat di salah satu ruangan di rumah sakit, wanita itu terbaring lemah dengan infus di sebelah tangannya. Beberapa jam yang lalu ia baru sadar dari masa kritisnya.
"Ar .... " Panggil Berlin dengan nada lemah, dia menatap suaminya yang diam sejak tadi. Ia merasa senang, setidaknya ia bisa mempertahankan Ardhan agar tidak bertemu dengan Kenzia. Ia tidak peduli dengan Kenzia, yang ia pedulikan hanya Ardhan dan Ardhan.
Pria jakung itu duduk sambil menyilangkan kedua kakinya, menatap bayangan kosong. Semenjak Berlin di nyatakan sempat sekarat, ada rasa bersalah di hatinya.
Bagaimana pun juga Berlin adalah istrinya, yang seharusnya ia jaga. Antara egois atau tidak, ia mengakui kalau ia egois, namun ia tidak ingin mengakui dirinya egois.
__ADS_1
"Ar.... Auw... "
Ardhan reflek berdiri, lalu menghampiri Berlin. "Ada apa?" tanya Ardhan khawatir.
Berlin tersenyum, kekhawatiran Ardhan mengingatkan tentangnya yang dulu. "Aku hanya bercanda, kau sejak tadi melamun saja dan mengabaikan ku."
Ardhan menghela nafas dan menatap dengan tatapan yang sulit di artikan pada wanita di depannya.
"Ar ... " Berlin meraih sebelah tangan Ardhan. "Aku mohon berikan aku kesempatan. Apa gunanya aku hidup kalau kau tidak memberikan kesempatan, aku ingin menjadi istri yang baik."
Ardhan diam, ia bingung harus menjawab apa. Satu sisi ia ingin menolak dan satu sisi ia teringat akan Dokter yang menyarankan agar Berlin tidak terlalu stres dan mengguncang jiwanya.
"Aku ingin kita seperti dulu, aku siap meninggalkan karier ku dan mengandung anak mu, kita akan memiliki anak. Bukankah, itu yang kau inginkan?" Tatapan Berlin sendu, ia tulus ingin memulai dari awal. Melihat Ardhan menoleh pada wanita lain, ia pun merasakan betapa sakitnya hatinya.
"Sebaiknya kau istirahat, aku juga lelah."
__ADS_1
Ardhan mengusap lembut kepala Berlin, lalu membaringkan tubuhnya di atas sofa. Perlahan memejamkan kedua matanya.