
Mommy Aira pun membungkuk, dia memegang bahunya Kenzia, perlahan Kenzia berdiri, matanya menatap sayu ke arah sang Mommy.
"Sayang ... " Mommy Aira pun langsung memeluk Kenzia. Dia mengelus surai hitamnya, mengecupnya berulang kali.
Kenzia, putri satu-satunya, walaupun ia kecewa, tapi Kenzia tetaplah putrinya, ia akan berada di pihak sang putri dan harus melindunginya. Hari ini, telah terbukti, bahwa ia gagal. Namun rasa cintanya pada sang putri tidak akan sirna begitu saja, inilah kasih sayang orang tua pada putrinya.
"Kau putri Mommy, Mommy akan melakukan apa pun demi kamu."
"Maafkan Zia, Mom."
Daddy Arga pun memeluk kedua wanita yang berharga di hatinya. Ia tidak bisa marah pada Kenzia, walaupun kesalahan itu sudah fatal. Kenzia, tetaplah putrinya, tidak akan ada yang bisa menghilangkan hubungan darah.
"Sudah,"
Daddy Arga membawa kedua wanita itu ke ruang tamu. Di sana mereka duduk melingkar, Daddy Arga dan Mommy Aira menunggu sebuah penjelasan.
Kenzia pun menceritakan semuanya, tidak ada satu pun yang terlewat dari mana semua terjadi dan sampai saat ini, niatnya yang pergi dan tentang kehamilannya.
Daddy Argha memijat pelipisnya, tidak mungkin dia menjadikan Kenzia istri kedua Ardhan. Sekalipun Ardhan menjanjikan, tapi tidak bisa di pungkiri, janji bisa di ingkari apa lagi jika keadaan yang memaksa. Apa lagi janji, sekalipun orang itu mencintai, tapi keadaan yang mendesaknya, pasti akan mengingkarinya.
__ADS_1
Manusia tidak ada yang sempurna, ia paham betul posisi Ardhan jika di teruskan. Meskipun ia tidak suka dengan Berlin, tapi Ardhan adalah suaminya, dan Berlin berhak atas Ardhan.
Apa lagi Berlin mengancam Ardhan dan sudah terbukti dengan kenekatannya.
"Apa Ardhan tahu tentang kehamilan mu?"
"Tidak Dad, aku ingin mempertahankannya, anak ini satu-satunya kenangan dari Daddy dan aku menyayanginya."
"Benar, kalau Ardhan tahu, mau tidak mau. Anak ini juga akan memanggil ibu pada Berlin, aku tidak mau Ardhan mengambilnya, ini cucu kita," ucap Daddy Argha.
Hatinya yang penuh kecewa, setidaknya ada cucunya yang membuatnya bahagia. Dia akan segera menjadi seorang kakek.
"Lalu, apa kau menghubungi Ardhan?"
"Tidak Dad, aku mematikan ponsel ku,"
Daddy Argha mengangguk, untuk saat ini. Pilihan itu lah yang paling benar, tapi ia tidak yakin kalau sampai Kenzia tidak mengangkatnya lagi, pasti Ardhan akan datang.
"Zia, apa kau sudah memikirkan matang-matang, ini masalah masa depan mu? seorang wanita memiliki anak sebelum menikah dan Ardhan, dia akan mencari mu."
__ADS_1
Kenzia tersenyum dengan bibir gemetar, ia memang salah dan ini adalah hukumannya. "Aku tidak menyesal, yang aku sesali, aku masuk ke dalam rumah tangga Daddy, berpura-puralah tidak tahu hubungan ku dan kepergian ku."
Mommy Aira semakin menangis, baru beberapa hari dia bertemu sang putri, namun nyatanya harus berpisah kembali. "Mommy, ikut ya sayang."
"Maaf, Mom. Bukannya, Kenzia tidak mau, tapi kalau Mommy ikut."
"Kita akan menjenguknya sebulan sekali atau tiga bulan sekali, asalkan Ardhan tidak mencurigai kita, Kenzia tetap aman. Sekarang, bersikaplah biasa-biasa saja, angkat panggilan Ardhan, agar tidak di curigai dan Daddy serta Mommy, akan berusaha merahasiakan kepergian mu."
"Kau ingin kemana?"
"London."
"Aku ingin memulai hidup ku di sana, ya..."
Mommy Aira pun kembali memeluk putrinya, sesaknya di dada terus terasa menyakitkan. Sekali lagi, putrinya akan menjauh. Meskipun ia ingin cucunya memiliki keluarga yang lengkap, tapi kehadirannya salah, di posisi yang salah.
"Bagaimana kalau nanti Ardhan tau?"
"Satu-satunya cara, kau harus bertunangan dengan orang lain untuk memalsukan anak mu."
__ADS_1