
Wajah Berlin terlihat jelas di kerutannya, beberapa kali ia menghubungi Ardhan, tidak di angkat satu pun. Ia meremas ponselnya dan langsung melempar ponselnya ke sembarangan arah.
"Pasti dia bersama Kenzia dan sekarang mengabaikan ku. Sial! seharusnya aku lenyapkan saja dia," ucap Berlin. Dia memukul udara dengan kasar, lalu membuang selimutnya dengan kasar ke lantai.
***
Sedangkan Ardhan, setelah kejadian itu. Dia memanjakan dirinya dengan Kenzia, keduanya menginap di sebuah Villa dekat pantai. Dia sengaja menjauhkan ponselnya, begitu pun Kenzia, melakukan hal yang sama, dia tidak mengaktifkan ponselnya. Keduanya telah sepakat agar tidak ada yang mengganggu.
"Zi, aku mau ikut dengan mu." Ardhan memeluk Kenzia dari belakang. Sedangkan Kenzia sibuk memasak, membuat tumisan.
"Tidak bisa Dad, kamu kan harus menjaga Tante Berlin, berikan aku waktu berpikir Dad."
"Zi, aku berjanji akan selalu mengutamakan kamu. Aku berjanji, akan selalu ada untuk mu. Jadi jangan meragukan keinginan ku, aku ingin bertanggung jawab sepenuhnya," ucap Ardhan.
Kenzia tertawa sumbang, "Iya, Dad aku paham."
Tidak Dad, aku tidak bisa. Berlin, sebagai seorang istri dia tidak akan berbagi, begitu pun dengan aku. Aku menyerah Dad, aku tidak ingin meneruskan hubungan yang salah ini. Bagaimana dengan anak ku, kalau suatu saat nanti dia bertanya. Haruskah aku yang mengatakan, kalau aku yang datang.
"Zi, kok diam, hemm .... "
"Apa yang kamu pikirkan?" Ardhan melepaskan tangan Kenzia yang memegang spatula itu, dia memutar tubuh Kenzia dan merangkup di wajahnya. "Jangan pernah berpikir untuk meninggalkan ku, Zi."
Ardhan menatap kedua mata Kenzia, seakan mencari sesuatu, ia tatap begitu dalam dan menemukan sebuah kesedihan. "Maafkan aku Zi, aku egois, tapi aku bisa apa? Berlin mengancam ku."
"Iya aku mengerti Dad, jadi biarkan pikiran ku tenang dulu."
__ADS_1
"Sudahlah, Dad. Ini bukan waktunya kita bersedih, ayo kita happy, kita lupakan semuanya."
Kenzia merangkup wajah Ardhan dan berjinjit, mencium bibir sexy. Ardhan pun memeluk erat punggung Kenzia, menariknya ke dalam dekapannya. Keduanya pun hanyut dalam melodi lidah yang saling membelit.
Tangan kanan Ardhan mematikan kompor di belakang Kenzia, ia tidak mau nantinya menjadi gosong dan mengganggu kenyamanan mereka.
Ardhan pun menaikkan tubuh Kenzia ke perutnya dan tangan Kenzia bergelung manja di leher Ardhan. Keduanya hanyut dalam sebuah senyuman.
Ardhan terburu-buru membawa Kenzia masuk ke dalam kamarnya sambil menggendongnya. Lalu menjatuhkan tubuh Kenzia ke atas ranjang.
Dengan buru-buru Ardhan membuka seluruh pakaiannya, menyisakan kain segitiga yang menutupi sang pedang.
Dia kembali mencium Kenzia dan menidihnya, kaos berwarna putih memperlihatkan bentukan tubuh Kenzia dan celana Jens di atas lutut yang melekat di tubuh Kenzia, langsung ia buka menyisakan kain berenda berwarna maroon senada dengan bentuk segitiga di bawahnya.
Ardhan kembali menyerang Kenzia, mencium setiap inci di wajahnya. Turun ke lehernya dan kedua tangannya sambil memainkan kedua bongkahannya.
Kenzia mendesah panjang, ia terbawa aluna melodi sang Daddy, pria itu menggesekkan sesuatu di bawah sana yang masih terhalang kain.
Tidak tahan lagi, Ardhan membuka tali yang mengikat kain berenda itu di pinggang Kenzia. Lalu membuangnya ke lantai, sama halnya dengan dia. Ia membuka miliknya dan terlihatlah kacungnya yang mulai menegang. Ardhan pun menggesekkan miliknya, Kenzia merasakan sebuah benda keras yang bergesek di sana.
Dia menggesekkannya dan membuat aliran panas itu menyetrum di tubuh kedua.
"Oh Zi .... " Desah Ardhan. Dia merasa geli dan nyaman. Kedua tangannya terus memainkan dua bongkahan terindah milik Kenzia.
Ardhan pun memasukan si kacungnya, hingga membuah lenguhan di bibir Kenzia. Ardhan membenamkan miliknya, kedua bibirnya menyambut satu bongkahan terindah itu dan perlahan, Ardhan menarik ulur di bawah sana hingga sebuah ******* itu tercipta di ruangan itu.
__ADS_1
Peluh keringat terus keluar dari tubuh keduanya, ranjang yang rapi itu kini sudah lusuh dan suara berdecit, seakan ada sebuah gempa yang menghantui ranjang sepasang insan itu.
Kenzia terus mengeluarkan suara merdunya, gelora hasrat Ardhan semakin membara, semakin Ardhan melajukan dengan cepat semakin Kenzia menggeliat tak karuan, hingga kedua buah itu naik turun, mengikuti irama di bawah sana.
"Oh, terus Dad."
Tahap terkahir, di mana ia merasakan tubuhnya semakin panas dan merasakan sesuatu yang mengalir.
"Ah, kau basah Zi ... "
Ardhan merasakan di bawah sana semakin licin, sedangkan Kenzia baru melepaskan pelepasannya.
"Dad kau belum,"
"Iya ... "Ardhan memainkan kedua bongkahan milik Kenzia, sesekali mengecup dan menyedotnya, layaknya botol susu.
"Emmm .... "
Ardhan melepaskan miliknya, "Berbaliklah, Zi."
Dengan nafas naik turun dan tubuh lelah, Kenzia berbalik. Ardhan pun kembali menancapkan miliknya, dan kembali mendorongnya. Kenzia meremas bantalnya, sedangkan Ardhan membungkuk di atas punggung Kenzia. Dia kembali memainkan dua bongkahan itu dan terus melajukan.
"Ah .... "
Ardhan mengeluarkan suara indah miliknya seiring dengan sebuah cairan berwarna putih itu keluar.
__ADS_1