
Ardhan begitu menikmati pelukan hangat tubuh Kenzia. Ia tidak ingin beranjak sedikit pun.
"Dad!"
"Hemmz..."
Ardhan berderhem. Ia tidak merasa ada yang mengganggunya. Walaupun Handphonenya berdering sejak tadi. Sedangkan Kenzia, dia selalu melirik benda pipih itu. Dia merasa tak nyaman pada Berlin.
"Dad, angkatlah." Ucap kenzia.
"Sudahlah, paling-paling dia meminta sesuatu," ucap Ardhan. Dia tau sifat istrinya, ia tidak pulang ke rumahnya saja. Berlin tidak mengkhawatirkannya dan tidak menanyakannya.
Kenzia mengelus rambut Ardhan. Sering kali dia mencium pucuk kepalanya.
"Baby, aku ingin secepatnya hubungan kita di ketahui oleh orang tua mu. Aku tidak mau begini terus, aku ingin bertanggung jawab," ucap Ardhan. Dia ingin secepatnya terikat dengan Kenzia. Tidak seperti ini, melakukannya tanpa ikatan pernikahan.
"Belum waktunya, kamu harus membereskan dulu masalah mu dengan tante Berlin," ucap Kenzia. Sebenarnya dia merasa bersalah selalu menuruti Ardhan, tapi hati dan tubuhnya tidak bisa berbohong. Dia ingin memiliki Ardhan sepenuhnya.
Hati Ardhan terasa dongkol, ia selalu merasa Kenzia akan pergi darinya. Ia harus menggenggam erat Kenzia.
Drt
Untuk sekian kalinya, handphone Ardhan berbunyi. Ardhan meraih benda berdering itu, lalu menggeser tombol hijau.
Sudah biasa baginya mendengarkan hal seperti ini. Dimana istrinya lagi-lagi meminta uang karena uang yang di berikan oleh Ardhan telah habis.
Ardhan menjawab sekenanya saja, lalu mematikan benda miliknya. "Dia minta uang lagi," gumam Ardhan.
__ADS_1
Kenzia merasa kasihan. Apa sebegitu pentingnya uang untuk Berlin? Sampai tidak tahu suaminya membutuhkan kehangatan pada orang lain, membutuhkan belaian.
"Apa tante Berlin seperti itu pada Daddy?"
"Iya, aku hanya suami penghasil uang baginya."
Kenzia memeluk erat Ardhan. "Datanglah pada ku Dad, tangan Kenzia selalu terbuka untuk mu."
"Baby, bagaimana kalau kita keluar. Sekalian kita membeli baju atau perhiasan untuk mu."
Kenzia berpikir, mungkin dengan cara keluar dia bisa menghilangkan kebosanannya itu.
###
Kenzia dan Ardhan melajukan mobilnya ke salah satu pusat perhiasan yang terkenal. Ardhan berniat akan membelikan sesuatu untuk Kenzia. Sudah lama ia tidak membelikan kalung atau perhiasan lainnya.
Dia memberikan sebuah kalung, berbentuk love dan ada hiasan daun kecil.
Ardhan mengambil kalung itu lalu memakaikannya untuk Kenzia. Tangan Ardhan menyibak surau hitam itu. Melihat leher Kenzia, tiba-tiba sesuatu bangkit kembali. Ia ingin mencium leher itu.
"Bagaimana Dad?"
"Mrs perfect." Ardhan menunjukkan jarinya dengan bulatan huruf O sambil menaikkan salah satu alisnya.
Sedangkan dari jauh, seorang wanita tengah melihat kedekatan mereka. Wanita itu meremas tangannya dengan kuat. Nyeri di hatinya bagaikan sebuah petir yang langsung menghancurkannya. Dia tidak suka Ardhan kembali dekat dengan Kenzia.
Selama ini, ia selalu berusaha memisahkan mereka. Perhatian Ardhan pada Kenzia melebihi sepasang kekasih.
__ADS_1
Dengan mata tajam yang lurus ke arah Kenzia dan Ardhan. Dia melangkahkan kakinya ke arah mereka.
"Honey!"
Kenzia terkejut, sedangkan Ardhan. Dia begitu santai menghadapi Berlin.
"Aku tidak tahu kalau kamu ada di sini dengannya."
Pelayan itu pun kebingungan, wanita itu memanggil Honey, yang artinya laki-laki itu memiliki wanita lain.
"Istri mu menunggu mu."
Kenzia menoleh, dia mendengarkan bisik-bisik dari kedua pelayan di sampingnya. Sedangkan pelayan toko di depannya hanya menatap kebingungan.
"Menunggu? Bukankah aku yang selalu menunggu? Bukankah kamu baru pulang dan setelah ini kamu langsung belanja. Justru aku yang selalu menunggu mu untuk pulang. Dari tadi aku menghilang kamu justru tidak mengkhawatirkan aku. Kamu malah menghubungi ku meminta uang," ucap Ardhan. Dia tidak ingin Kenzia tersudutkan oleh Berlin.
"Semua orang akan menyangka kalau kalian adalah sepasang kekasih dan Kenzia akan di cap sebagai pelakor."
Ardhan melihat sekelilingnya. Orang-orang berdatangan melihat ke arah mereka dan berbisik-bisik, ada juga yang terang-terangan.
"Aku istri mu." Berlin memanfaatkan situasi saat ini untuk menjatuhkan Kenzia. "Bukankah begitu Kenzia."
Kenzia menunduk lekat, ia meremas gaunnya. Ingin sekali ia menangis. Ada beberapa orang yang sudah menyalahkannya.
"Berlin, aku sudah menuruti mu. Kau ingin jadi model dan mengabaikan tugas mu sebagai seorang istri aku mengerti. Sekarang aku tanya, apa uang ku puluhan juta setiap bulannya kurang untuk mu? Kau mengabaikan tanggung jawab mu sebagai seorang istri."
Ardhan menarik lengan Kenzia. Menerobos beberapa yang melihat mereka. Berlin mengepalkan tangannya dia akan membuat perhitungan dengan Kenzia.
__ADS_1