
Berlin menghela nafas panjang, menghilangkan sesak yang menyelimuti dadanya. Rasa panas mengiringi pernafasannya. Di bibir tampannya, membuat petir yang menyambarnya dengan keras.
Dia melanjutkan kembali mengelap tubuh suaminya, setelah selesai. Dia melanjutkan mengganti pakaian suaminya.
"Apa cinta mu telah hilang untuk ku?"
Berlin melihat ke langit-langit, entah berapa kali ia terus menghembuskan nafas kasarnya. Dia menepuk dadanya, tepat di mana ia merasakan sakitnya.
"Aku tidak mau kehilangan mu, aku tidak mau. Aku akan melakukan apa pun demi kamu, ya..."
Berlin keluar, dia memanggil Jack dan tentunya pria itu menurut berhadapan dengan Berlin.
"Jack,"
Pria itu menunduk, sepertinya ia mengerti satu hal. Sang nyonya ingin mengorek informasi sang tuan.
"Bagaimana hubungan Kenzia dan Ardhan?" Berlin menatap lurus ke depan? bibirnya bergetar, ia takut, sangat takut, kenyataan bahwa Ardhan tidak mencintainya lagi.
"Tentu baik nyonya," jawab Jack dengan tenang.
Berlin menoleh, menatap Jack yang masih menunduk. Ia tidak percaya, hubungan keduanya sebatas seorang anak dan Daddy. "Baik dalam keadaan apa? hubungan anak dan ayah atau hubungan kekasih?"
Deg
__ADS_1
Jack meneguk ludahnya susah payah, oh dunia tidak berpihak padanya. Bagaimana ia harus menjelaskan?
"Jack, aku tau, kau setia pada suami ku. Tentunya, kau tidak mengatakannya. Tapi, setelah semua kejadian ini. Aku mengerti satu hal, suami ku telah berpaling."
"Jack, katakan, apa sebagai seorang istri selama ini, aku keterlaluan."
Berlin tertawa kecil, sebuah senyuman yang artinya menangisi hidupnya. "Aku bukan wanita yang baik. Aku melakukan semua yang aku inginkan tampa melihat Ardhan, tanpa memikirkan Ardhan."
"Jack, aku mencintainya. Saat ini, aku takut kehilangannya."
"...."
Emmm
"Tuan!" seru Jack.
Berlin yang duduk pun bangkit, dia menghampiri Ardhan dan memegang lengan Ardhan. "Duduk dulu, kau baru sadar," ucapnya dengan lembut.
Ardhan ingin menolak, namun, ruangan itu seakan memiliki beberapa bayangan. Ia pun menurut. Ardhan duduk, sedangkan Berlin berlalu ke dapur untuk membawakan segelas air dan Jack berdiri di samping Ardhan.
"Jack," Ardhan mengusap keningnya. Kepalanya cenat-cenut seakan otaknya ingin keluar. "Kenapa kau membawa ku kesini?"
"Maaf tuan! tapi, tadi saya melihat nyonya Berlin menunggu kedatangan tuan di depan pintu. Jadi, mau tidak mau saya harus membawa tuan ke Apartement tuan." Jelas Jack.
__ADS_1
"Ini di minum," ucap Berlin menyela. Sebenarnya, ia mendengarkan sedikit ucapan Jack. Sedikit saja, ia sudah paham. Bahwa Ardhan tidak setuju Jack membawa ke Apartementnya.
Berlin mendekat, dia memijat leher Ardhan dan pria itu terkejut, seumur hidupnya Berlin tidak pernah melakukan ini padanya.
Ia menepis pelan tangan Berlin.
"Ardhan, kau pusing. Dengan di pijat sedikit pusing mu akan hilang."
"Apa mau mu?" tanya Ardhan.
"Apa maksud mu, Ardhan? aku hanya memijat suami ku, apa aku salah?"
Ardhan, dia tidak suka berbasi-basi. "Katakan saja, berapa nominal yang kau inginkan."
Nyes
Berlin meremas gaun yang menutupi lututnya. Ucapan Ardhan bagaikan butiran anak panah es yang menancap dan membekukan hatinya, lalu menghancurkannya.
"Apa maksud mu? aku hanya tidak ingin kau sakit."
"Ar... Aku tahu aku salah, aku minta maaf." Berlin menggenggam sebelah tangan Ardhan. Air matanya mengalir, menatap dalam kedua mata bernetra cokelat itu.
"Selama ini aku salah, aku tahu. Berikan aku kesempatan, aku ingin memperbaiki hubungan ku dengan mu. Aku mohon, maafkan aku, Ar."
__ADS_1
"Berikan aku kesempatan, aku ingin memperbaiki pernikahan ini."