Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#38 : Kemarahan dan Kehancuran


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ardhan merasakan kepalanya berdenyut dan mengernyitkan dahinya, silau matahari menebus jendela kaca dan membuatnya silau. Kedua tangannya pun terlentang dalam tubuh telanjang, separuh tubuhnya tertutupi oleh selimut tebal.


Dia bangkit, lalu memijat keningnya yang terasa berdenyut.


"Honey, kau sudah bangun."


Ardhan menaikkan sebelah alisnya, Berlin membawa sebuah nampan yang berisi sepiring sandwich dan segelas susu. Dia menggunakan bathrobe dan handuk yang melilit rambutnya dengan menggulung ke atas.


"Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu."


"Kau .... "


Ardhan ingin menuju ke kamar mandi, dia meyingkap selimutnya dan mendapati miliknya telanjang polos. "Apa yang terjadi?" gumam Ardhan bertanya-tanya. Ia kembali melihat miliknya dan membuat Berlin terkekeh geli.


"Honey, bukankah tadi malam kau sangat puas."


Ardhan mencoba mengingat kejadian tadi malam, yang ia lihat Kenzia dan benar ia menyentuh Kenzia. "Dimana Kenzia?" sarkas Ardhan.


Berlin terkekeh, "Sayang, tidak ada Kenzia. Kau harus ingat, ini Apartement mu sedangkan Kenzia sudah pulang kan."

__ADS_1


"Tidak mungkin, aku melihat Kenzia." Sentak Ardhan. Benar, tadi malam dia menyentuh Kenzia.


"Cobalah, ingat sayang tidak ada Kenzia. Hem ... Sudahlah, kau memang butuh ketenangan. Aku akan bersiap-siap untuk bertemu dengan adik ku," ucap Berlin. Dia berjalan ke arah lemari dan mengambil pakaian. Ia melirik sekilas dan tersenyum licik. Ia yakin, ia akan hamil karena tadi malam adalah masa suburnya.


"Ardhan, walaupun aku tidak hamil, tapi Kenzia tetap memilih menyerah." Gumam Berlin, dia mengabadikan momennya dan mengirimnya ke Kenzia. Ia tersenyum kemenangan membayangkan wajah Kenzia yang menangis dan betapa rapuhnya wanita itu.


"Kau salah bermain dengan ku Kenzia."


Berlin berlalu dengan cepat, dia seolah tak memperdulikan Ardhan. Padahal hatinya bersorak dengan senang. Tidak sia-sia ia mengeluarkan puluhan juta demi rencananya.


Sedangkan Ardhan, ia tak percaya, ia yakin tadi malam ia menyentuh Kenzia dan berpikir itu memang Kenzia. Ia merasa hancur, untuk pertama kalinya ia menangisi rasa penyesalannya, ia menyentuh Berlin dan telah menghancurkan kepercayaan Kenzia.


"Argh!!" Ia berteriak sekencang-kencang, merutuki kebodohannya dan Berlin yang mendengarkan teriakan suaminya tersenyum, meskipun ada rasa sakit saat suaminya menyesali perbuatannya yang menyentuhnya.


Ardhan menangis berderai air mata, hatinya hancur, hatinya sakit, kenapa ia bisa melakukan kebodohan ini? janjinya yang ia ucapkan dengan sempurna, janjinya yang ucapkan dengan penuh keyakinan. Kini telah menghancurkannya.


"Ini pasti akal-akalan Berlin, aku akan memberikan pelajaran pada wanita itu."


Ardhan menyibak selimutnya, ia memakai kaos oblong dan celana selututnya. Ia menyapu semua ruangan itu, sial! tidak ada CCTV yang membuktikan.


Brak

__ADS_1


Ardhan menggendong pintu kamar mandi itu dengan kasar. "Berlin! keluar kamu!"


Berlin dengan cepat mengganti pakaiannya, ia pun keluar dengan wajah bingung. "Honey kau kenapa?"


"Sini kamu,"


Ardhan menyeret Berlin dengan kasar, sedikit menjauh dari pintu itu. Matanya memerah dan tajam seakan menusuk jantung wanita di hadapannya. Ia sangat membencinya dan menyesal telah menyetujuinya.


"Apa yang kau campurkan pada ku tadi malam?!" bentak Ardhan. Dengan kasar ia menarik rambut Berlin dan membuat Berlin sedikit mendongak ke atas. Rambutnya seperti di cabut.


"Ar .... Sakit! aku tidak melakukan apa pun. Kau yang memintanya, awalnya aku menolak, tapi kau terus memaksa ku."


"Memangnya aku percaya pada mu, hah!" Ardhan semakin menarik rambut Berlin, kegelapan kemarahannya pada istrinya meluap-luap.


"Kau mencampurkan sesuatu pada ku, Berlin."


Ardhan langsung menghempaskan tubuh Berlin dan keningnya terbentur ke sisi ranjang. "Aku sudah bilang Berlin, aku bisa bersikap kejam termasuk dirimu."


"Ardhan! apa salah ku? aku hanya meminta kesempatan, saat kau melamar ku, kau berjanji akan membahagiakan aku."


Hatinya begitu teriris sampai menusuk dalam hatinya. Jantungnya seakan di bakar habis oleh Ardhan, ia sakit dan tak berdaya. Nyawanya seakan di hempaskan begitu saja.

__ADS_1


Ardhan mendekat dan mencengkram dagu Berlin. "Dengar! sekali pun kau mengandung anak ku, jangan harap aku peduli pada mu, aku bisa saja mengabaikan anak yang di kandung mu itu."


__ADS_2