Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#40 : Kekesalan Jack


__ADS_3

Di sebuah bar, seorang pria tengah meneguk beberapa botol Wine, kerlap kerlip lampu memenuhi ruangan itu, para wanita sexy dan beberapa anak muda tengah berjoget ria, seakan mereka tidak pernah mengalami kesusahan.


"Tuan, sebaiknya kita pulang."


"Jangan menyentuh ku, aku tidak mau pulang. Di sana bukan rumah ku," rancau Ardhan. Dia menggelengkan kepalanya yang terasa pusing. Ia belum puas meluapkan segala kemarahannya, ingin sekali dia mencekik Berlin.


"Wanita murahan itu, kenapa tidak sekalian saja dia bekerja jadi wanita malam?" imbuhnya kembali. Dia menuangkan cairan itu, kemudian meneguknya.


Jack merasa kesulitan, kalau sudah begini, ia yang repot sendiri. Dulu ia sudah memperingatinya agar menolak Berlin, tapi Ardhan tidak mendengarkannya, dan sekarang ia juga yang repot.


"Kau menghubungi Kenzia?" tanya Ardhan sambil terkekeh, ia begitu merindukan Kenzia. Ia sakit hati, tiap hatinya terasa di cubit.


"Tidak tuan,"


"Jangan menghubungi dia, hati ku belum kuat!" Ardhan menangis, ia sangat rapuh dan sangat menyesal. Semua perbuatannya tidak bisa di maafkan, tapi ia ingin di maafkan. Ia belum memiliki keberanian mengatakannya secara jujur pada Kenzia.


"Maafkan Aku Zia."


Bruk

__ADS_1


Kepala Ardhan terjatuh ke meja di depannya dan Jack mengambil gelas kecil itu di tangannya.


"Dulu aku sudah menasehati mu, tuan."


Jack memapah tubuh Ardhan, dia berjalan terhuyung, selain gagah ternyata badan sang tuan sangat berat. Dia pun membawa Ardhan ke Apartementnya.


"Jack, kenapa dengan Ardhan? dia minum?"


Berlin sangat khawatir, berulang kali menghubungi Ardhan, namun hanya ada operator yang menjawabnya. "Bawa masuk, tolong baringkan Ardhan dengan hati-hati."


"Honey, kenapa mabuk lagi?"


"Apa nyonya sekarang sudah sadar dan menyesali perbuatan nyonya?" tanya Jack.


Berlin menoleh dan menatap Jack tanpa berkedip, ia pun menunduk dan berlanjut membuka kancing kemeja Ardhan satu per satu.


"Setelah tuan jatuh cinta pada orang lain, baru nyonya merasakan takut?"


Jack, pria itu bertahun-tahun merasa kesal pada nyonya nya, dia merasa iba dan kasihan pada sang tua yang di abaikan.

__ADS_1


"Seharunya nyonya sadar, cinta tuan tidak lagi pada nyonya. Sebelum tuan menikah, saya tau, tuan memiliki perasaan pada nona Kenzia, tapi karena masalah persahabatan, tuan mengurungkan niatnya dan saat itu nyonya tiba-tiba kembali, tahukah nyonya? tuan menikahi nyonya tanpa cinta? tahukan nyonya, selama ini dia berusaha baik dan berusaha mencintai nyonya, tapi cinta tuan untuk nona Kenzia kembali bersemi."


Berlin meremas kemeja Ardhan, seperti sengatan listrik yang menarik seluruh jiwanya, hatinya seperti di hantam oleh batu yang tajam.


"Tapi nyonya menyia-nyiakan kesempatan itu, dan sekarang nyonya seolah mencintai tuan."


"Cukup Jack! aku tahu aku salah," ucap Berlin, dia berdiri meluapkan emosinya dan menunjuk ke dadanya. "Aku tahu aku salah dan ingin memperbaikinya,"


"Setelah semuanya terlambat," tekan Jack. Dia tidak lagi memikirkan atasan dan bawahan, penderitaan tuannya di sebabkan oleh wanita di depannya. "Apa nyonya tahu? di sini yang di korbankan adalah nona Kenzia dan tuan Ardhan. Mereka yang merasakan betapa sakitnya terpisahkan."


"Dari awal Ardhan milik ku?"


Jack tertawa sinis, baru sekarang miliknya, lalu yang kemarin kemana? bukan miliknya?


"Anda merasa tersiksa atas perlakuan tuan? tapi dulu, anda tidak merasa menyiksa tuan, dia tidak mencintai anda, cinta untuk anda sudah hilang, tapi apa? tuan berusaha mencintai dan memberikan yang terbaik, lalu sekarang semuanya sudah hilang, anda mengatakan anda kesakitan dan tersiksa. Anda memang egois."


Jack langsung keluar, setelah mengeluarkan seluruh hatinya. Dari awal ia ingin sekali meluapkan kekesalan dan kemarahannya pada sang nyonya.


Berlin duduk di bawah, ia bersandar di tepi ranjang sambil menangis, ia sakit hati dengan perkataan Jack. Baru kali ini ia melihat wajah Jack yang menyeramkan dan meluapkan kemarahan di hatinya padanya.

__ADS_1


__ADS_2