
Kenzia menatap sebuah rumah yang tampak sederhana, berlantai dua dan tidak terlalu luas. Halaman yang di tumbuhi rumput hijau dan sebuah pohon di depan. Di kelilingi dinding berwarna kuning ke emasan.
Kenzia memasuki halaman itu dan rasa senang membuncah di hatinya, suasana baru dan udara baru.
"Silahkan masuk nyonya," ucap seorang laki-laki. Dialah yang akan mengantar jemput Kenzia tadi beserta bibi Ane.
Kenzia memasuki ruangan itu, dia menatap sekeliling ruangan itu sebuah meja dan kursi serta TV dan sebuah kasur lantai.
"Sebaiknya nyonya istirahat dulu."
"Iya," ucap Kenzia. Dia memang lelah, perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan membuat tubuhnya seakan tak bertenaga.
Sedangkan di tempat lain.
Bibi Ane telah memberikan kabar, bahwa ia dan Kenzia telah sampai dan hal itu membuat Mommy Aira dan Daddy Argha merasa tenang.
"Syukurlah." Daddy Argha bernafas lega. Dia menatap istri yang masih menekuk wajahnya.
"Kapan kita mau ke sana?" tanya Mommy Aira. Daddy Argha malah melongo, baru saja Kenzia sampai, istrinya malah menanyakan kapan.
"Sesuai janji sayang, kita harus menjaga jarak dulu."
"Ini semua, gara-gara Ardhan sialan itu," ucap Mommy Aira. Dia kesal sampai ke tulang belulangnya. Ingin sekali ia menghajar Ardhan habis-habisan.
__ADS_1
"Sudahlah, marah-marah tidak baik untuk kesehatan mu." Nasehat Daddy Argha.
###
Ardhan menatap pintu Apartement Kenzia dia menekan tombol, lalu mendorong pintunya. Pandangannya menyapu semua ruangan itu, setiap sudut selalu ada bayangan dia dan Kenzia, kebersamaan yang mereka lalui.
Dia menatap sofa yang pernah menjadi saksi bisu antara dirinya dan Kenzia. Dia duduk dan menatapnya. Bayangan ketika dia mencumbu Kenzia, dadanya berdetak lebih kencang. Dia merindukan wanita itu, besok ia akan pulang dan bertemu dengannya.
"Bagaimana kalau Berlin hamil?"
Sebuah bisikan yang langsung menghanyutkan bayangannya. Ia duduk sambil menopang dagu, tidak bisa ia pungkuri bahwa ia sangat menginginkan seorang anak. Dalam hatinya, ia tidak tega membuang anaknya sendiri, meskipun itu adalah Berlin yang mengandung.
"Benar, bagaimana kalau Berlin hamil? apa yang harus aku lakukan? aku tidak mungkin memisahkan anak dan ibunya," gumam Ardhan.
Haruskah ia meninggalkan Kenzia?
atau
Ia harus meninggalkan Berlin dan merebut anaknya?
atau
Ia harus berpoligami?
__ADS_1
Tapi rasanya tidak mungkin, pernah ia menanyakannya, namun Kenzia malah menghindar.
Sepanjang malam Ardhan tidak bisa memejamkan matanya, bayangan Kenzia dan Berlin yang sedang menggendong anak, mana yang harus ia pilih, ia menginginkan Kenzia, tapi ia juga menginginkan Berlin.
"Tuan," seru Jack yang melihat Ardhan keluar dari Apartement Kenzia. Di bawah matanya menghitam, tampaknya sang tuan semalaman berfikir keras.
"Aku akan bersiap-siap, kau bersiap-bersiaplah."
Ardhan membuka pintu Apartementnya dan melihat Berlin yang tersenyum dengan ramah.
"Sayang, aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu," ucap Berlin. Dia hendak merangkul pergelangan tangan Ardhan. Namun pria itu menghindar dan segera melangkah ke lantai atas.
Ardhan mengambil kopernya, kemudian menaruh pakaiannya yang di gantung di dalam lemari, melipatnya dengan asal.
"Ardhan, kau mau kemana?"
"Kau tidak lihat, aku mau pulang," ucap Ardhan.
"Ar, kita baru .... "
"Cukup Berlin, aku tidak mau mendengarkan omong kosong mu, terserah kau mau apa? aku kehilangan Kenzia gara-gara kau." Potong Ardhan dengan cepat. Dia menarik resleting kopernya, kemudian mengambil jubah mandinya.
Berlin menatap kepergian suaminya hingga benar-benar menghilang di balik pintu. Dia mengalah, ia akan membiarkan Ardhan menikah dengan Kenzia, tetapi tidak menceraikannya. Ia berubah pikiran, ia akan memohon pada Daddy Argha dan Mommy Aira.
__ADS_1
"Aku tidak akan melepaskan mu, Ar. Sekalipun bertaruh nyawa." Ia memegang perutnya yang masih datar. "Kapan kamu tumbuh? aku berharap kehadiran mu membuat pernikahan Mommy dan Daddy bertahan."