Ranjang Pria Tua

Ranjang Pria Tua
#41 : Tidak Peduli Mau Mati atau Tidak


__ADS_3

Keesokan harinya.


Ardhan membuka kedua matanya, dia bangkit dari pembaringannya dan melihat sekeliling ruangannya, ternyata Jack membawanya ke Apartement Berlin, ia mendesah, seharusnya ia di bawa ke Apartement Kenzia agar lebih lama menghirup dan merasakan bayang-bayang Kenzia.


Dia pun bergegas mandi dan sebelum itu, ia melihat ponselnya, tidak ada panggilan sama sekali dari Kenzia.


Ardhan menyalakan air showernya, air itu membanjiri tubuh Ardhan dan pria itu mengusap wajahnya, membuka kedua matanya, mengingat semua kejadian yang menimpanya.


Bruk


Ia memukul dinding di depannya dengan perasaan marah. Tidak ingin berlama-lama, dia pun secepatnya keluar dan melihat Berlin yang menaruh susu dan roti di atas nakas.


"Kau sudah keluar, aku sudah membawakan sarapan."


Ardhan diam, ia melewati Berlin begitu saja. Menuju ke lemari dan mencari baju santainya.


"Ardhan!"


Berlin mengekori Ardhan kembali ke kamar mandi, dia menunggu di depan pintu.


"Sayang, sarapan dulu," ucap Berlin. Namun Ardhan tetap diam, melihat saja ke arah Berlin, begitu enggan.

__ADS_1


"Ardhan!"


"Ayo Jack kita pergi," ucap Ardhan.


Jack hanya menatap Berlin yang kecewa, dia pun menyusul langkah Ardhan keluar dari Apartementnya.


Di dalam lift, Ardhan tidak bisa menenangkan pikirannya. Ia harus menjelaskan pada Kenzia sebelum Berlin mengatakan sesuatu yang tidak-tidak.


"Jack, aku ingin pulang besok pagi, dan malam ini aku ingin bermalam di Apartement Kenzia," ucap Ardhan.


"Iya tuan," sahut Jack.


Langkah jenjang keduanya pun menuju ke arah mobil hitam, namun sebelum Ardhan memasuki mobilnya, tanpa ia sadari dari arah belakang seseorang memukulnya dengan kasar.


Bruk


Jack segera menyusul, dia memutari depan mobil. Namun, pria yang ia kenal di sapa sebagai Rio itu mencengkram kerah baju sang bos.


"Apa yang kau lakukan? hah!" bentak Jack. Kedua tangannya dengan kuat ingin memisahkan tangan yang mencengkram kerah baju sang bos.


"Kau tidak perlu ikut campur, kau hanya bawahan yang tidak berguna! kau hanya melihat dan menonton saat kakak ku tidak di perlakukan baik olehnya."

__ADS_1


Rio semakin mencengkram kerah baju Ardhan, sedangkan Ardhan memutar bola matanya dengan malas. Menuntut keadilan untuknya, seharusnya ia menuntut Berlin.


Ardhan menghempaskan tangan Rio dengan kasar, lalu berbalik menonjok pipinya. "Bocah ingusan seperti mu tidak tahu rasanya kehilangan."


Rio menghapus darah segar yang keluar dari sudut bibirnya dengan jari jempolnya, dia bangkit dari lantai dan meregangkan otot lehernya. Kedua tangannya mengepal siap menyerang Ardhan.


"Tuan biar saya saja," sela Jack. Dia memasang siap siaga untuk meladeni bocah ingusan di depannya.


"Tidak! biar aku saja yang melawannya. Dia hanya bocah brengsek yang tau menyusahkan kakaknya saja," ucap Ardhan.


"Tapi tuan,"


Ardhan memberikan kode pada Jack untuk diam dan menghindar. Jack pun menurut, dia melangkah mundur dan akan balik menyerang kalau terjadi sesuatu pada sang tuan, apa lagi majikannya belum sepenuhnya sehat.


"Kau brengsek! kau menyakiti kakak ku!" sentak Rio. Dia menyerang Ardhan, kembali meninjunya, namun Ardhan segera menahannya dan berbalik meninju perut Rio.


Pria itu pun kembali jatuh ke lantai sambil memegang perutnya.


"Iya benar aku memang brengsek, wanita yang seharusnya aku lepaskan, tapi aku pertahankan."


"Dia istri mu, seharunya kau lebih baik memilih dia."

__ADS_1


"Kau tidak pernah merasakan kehilangan dan mencintai, tapi kali ini aku akan mengatakan pada mu suatu saat nanti kau akan merasakan orang yang kau cintai pergi menjauh dari mu."


Ardhan mendekat, ia menarik kerah baju Rio yang sudah nampak tak kuat melawannya. "Dengar! aku akan secepatnya menceraikan kakak mu dan aku tidak peduli, dia mau mati atau tidak."


__ADS_2