
Kini yang di tunggu-tunggu pun telah tiba. Setelah menghabiskan waktu berdua, kini Kenzia akan terbang ke negara kelahirannya dan tentunya tidak ada Ardhan, sang kekasih di sampingnya. Karena kepulangan Kenzia yang hampir mendekat, Ardhan memutuskan untuk menemani Kenzia lebih banyak, sedangkan Berlin, ia tidak peduli dengan kemarahannya dan penolakannya. Sekarang bukan hanya Berlin, tapi Kenzia juga prioritasnya.
"Zi ... ingat, kamu harus menjaga kesehatannya. Jangan telat makan, dan jangan lupa menghubungi ku," ucap Ardhan, dia melepaskan tangannya yang menarik koper milik Kenzia, beralih merangkup wajah Kenzia. Jaraknya semakin jauh, Kenzia tidak akan ada di kota yang sama dengannya.
Wanita itu mengangguk dan tersenyum. "Iya, seperti permintaan Daddy."
Ardhan mendesah frustasi, ia ingin sekali menemani Kenzia pulang ke kota kelahirannya, ia juga meminta izin pada Berlin. Tapi sama sekali wanita itu tidak mengijinkannya dan mengancamnya lagi.
Justru malah membuat pilihan, mengantarkan Kenzia atau melihat mayatnya. Sungguh ia frustasi, tapi Kenzia selalu mengertinya dan menenangkannya. Wanita itu justru mengalah demi Berlin.
"Zi, aku minta maaf tidak mengantarkan mu," ucap Ardhan. Sedangkan Jack, dia hanya memperhatikan interaksi keduanya.
__ADS_1
"Zia, mengerti kok Dad. Ya sudah, Zia pamit," ucap Kenzia. Dia mendengarkan penerbangan untuknya telah tiba.
Kenzia menoleh pada dua sahabatnya, dia memeluk Amelia dan kemudian melepaskannya beralih pada laki-laki di sampingnya.
"Jaga dirimu baik-baik Zi,"
Hatinya sangat sakit, kini bukan hanya jarak, tapi cinta yang bertepuk sebelah tangan. Apa lagi Kenzia telah hamil. Namun, ia tidak masalah, jika boleh ia ingin bertanggung jawab pada Kenzia.
Pria itu tersenyum kecut, ia tidak akan menyerah sebelum ada kata pernikahan di dalam hidup Kenzia. "Jangan lupa mengabari ku."
Tanpa peduli dengan kehadiran Ardhan dan berwajah suram, ia pun memeluk Kenzia dengan erat. Hanya sekali dalam hidupnya pernah memeluk Kenzia begitu dalam dan hangat seperti ini. Dengan pelukan pertama ia yakin, ia bisa mengejar Kenzia dan menjadi ayah dari anak Kenzia.
__ADS_1
Dada Ardhan terasa di bakar hidup-hidup, ia ingin melerai keduanya, tapi ia mengerti keduanya memiliki ikatan sahabat dan tentunya Kenzia juga akan merindukan mereka. Anggap saja ia sedang menutup mata hanya saat ini.
"Zi,"
Ardhan begitu enggan melepaskan tangan Kenzia. Ia tidak rela berjauhan dengan Kenzia. Ia hanya berharap secepatnya akan menikahi Kenzia dalam waktu dekat. Dia ingin memiliki seutuhnya Zia nya.
Kenzia berjalan dengan tatapan kosong, hatinya sangat berat meninggalkan kekasih. Ia menoleh dan tersenyum, lalu melambaikan tangannya.
"Aku harap kau bahagia, Dad." Gumam Kenzia. Air matanya terus berderai, inilah akhir hidupnya bersama sang kekasih. Entah apa yang akan terjadi saat sang Mommy dan Daddynya tau, ia telah siap dan menerimanya, sekalipun ia di siksa oleh sang Daddy dan Mommy nya.
Sepanjang perjalanan, Kenzia terus memikirkan Ardhan, melihat ke arah luar sambil menyandarkan punggungnya, air matanya mengalir begitu deras, mulutnya terkunci rapat, hatinya berdenyut kesakitan, setiap momen yang telah ia lewati, ia akan menjadi kenangan terindah, walaupun ada kepahitan di dalam kenangan itu, yang tak mampu ia bendung rasa sakitnya saat Ardhan memintanya menjadi istri kedua, Ardhan seakan tidak memikirkan posisinya menjadi istri kedua.
__ADS_1
Inilah perpisahannya, membawa semua luka yang ia rasakan. Ia berharap, suatu saat nanti ia akan hidup tenang.