
"T-terima kasih Le..." gugup Sarah.
"Biasa saja!" jawab Leo.
Sarah pun mengangguk.
"Dingin banget jadi cowok modal tampang sama harta aja sombong!" gerutu Sarah.
"Bukan sombong tapi malas!" ucap Leo tiba-tiba.
"Eh buset jangan-jangan dia bisa baca pikiran orang!" ucap Sarah dalam hati lagi.
"Iya bisa!" jawab Leo lagi.
Sarah pun beku seketika. Ia tak berani memikirkan Leo macam-macam apalagi mengumpatnya dalam hati.
Sarah pun sudah sampai di kontrakannya. Rupanya Aini sudah menunggunya di teras rumah yang tak begitu luas.
Sarah membungkuk mengucapkan terima kasih pada Leo karena sudah mengantarnya pulang. Leo pun mengangguk lalu pergi dari tempat Sarah.
"Ya ampun nyonya bos!" Aini memeluk Sarah dengan erat.
"Lebay lepasin lah sesek nih!" kata Sarah.
"Maaf maaf , gimana ceritanya bisa kenal sama cogan dan ya ampun super duper tajir melintir gitu? Tau gak tadi istrinya Bima sampek pingsan setelah lo pulang parahnya lagi si Bima kaya gak terima gitu istrinya terpana sama cowok lo!" oceh Aini sambil masuk ke kontrakan Sarah.
Sarah yang mendengar cerita Aini pun juga sama kagetnya. Ia sebenarnya juga tak tau bagaimana si Leo sombong itu bisa tau di mana acara Sarah dan teman-temannya.
Sarah pun akhirnya menceritakan yang sebenarnya pada Aini. Aini yang punya insting tajam langsung saja membuka mulut di depan sahabatnya tanpa di saring dulu.
__ADS_1
"Jangan-jangan dia setan?" kata Aini.
"Lah ngaco kakinya dong lu liat!" selah Sarah.
"Abis dia bisa muncul di mana pun?" ucap Aini.
"Baru satu tempat ia muncul jangan ngada-ngada lu!" gerutu Sarah.
Aini pun mengerucutkan bibirnya. Mereka akhirnya membahas hal lain selain Leo.
Malam semakin larut, Aini pun memutuskan untuk segera pulang dari tempat Sarah.
Usai kepergian Aini sarah menuju kamarnya. Ia begitu terkejut banyak bunga mawar di atas ranjangnya.
"Kok banyak bunga dari mana?" tanya Sarah heran.
"Sebenarnya siapa kamu! Kenapa selalu memberi yang aku mau!" teriak Sarah di dalam kamar.
Tiba-tiba angin berhembus kencang membuka salah satu jendela kaca milik Sarah. Asap putih menyelimuti kamar Sarah membuat sarah sedikit sesak nafas.
Satu pria tampan menampakan dirinya untuk pertama kali di hadapan Sarah.
"K-kamu!" mata Sarah terbelalak melihat pria yang tak asing di hadapannya.
"Kenapa? kaget?!" tanya Leo dingin.
Leo berjalan ke ranjang Sarah dan menghempaskan tubuhnya di sana.
"Kau setan brengs*k!!" teriak Sarah geram.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Leo santai.
"Pergi! pergi dari sini! Aku tak mau berurusan dengan mu aku bukan budak mu aku tak mau memakai uang mu lagi aku tak mau menjadi tumbalmu!" teriak Sarah. Emosi Sarah meluap seketika saat mengetahui bahwa Leo bukan manusia seperti dirinya.
Leo yang mendengar ucapan Sarah merasa ia begitu di rendahkan oleh Sarah apalagi selama ini Leo tak mengharapkan apapun dari Sarah hanya untuk membantunya di saat sulit. Namun ucapan Sarah di luar dugaan Leo. Sarah mengira Leo sama seperti iblis di luaran sana yang memberikan hartanya pada manusia serakah untuk mereka jadikan tumbal dan pengikut mereka di neraka Jahanam.
Sarah terus meracau memaki Leo hingga telinga Leo terasa panas.
"Aaaargggghhhh!!!!! Hentikan ucapan murahan mu itu! Aku membantumu tak ada maksud apapun aku benar setan iblis tapi aku masih punya rasa!!" gertak Leo seketika membuat mulut Sarah bungkam.
Leo pun memanas. Seketika tubuhnya menjadi besar menjadi sosok mengerikan yang tak pernah di lihat manusia. Mata Leo membesar dan tumbuh tanduk di kepalanya.
Sarah pun memundurkan tubuhnya perlahan, ia merasakan takut yang luar biasa.
"Ini aku! Kau mau apa hah?! Menghinaku?! Hina aku memang hina di mata orang lain meskipun masih hidup sekalipun!" pekik Leo lebih lantang.
Leo mulai mengobrak abrik isi kamar Sarah. semua benda berterbangan dan ada pula beberapa yang terbakar. Benar-benar tak bisa di sebut kamar sekarang.
Leo mulai berjalan mendekat ke arah Sarah. Sarah yang tau hal itu segera berlari, namun sayang pintu kamar Sarah tiba-tiba terkunci.
"A-ampun jangan bunuh aku." Pinta Sarah pada Leo.
"Apa aku begitu menjijikkan. Kenapa semua orang membenciku setelah ku beri mereka kebaikan?!" tanya Leo pada Sarah.
Kini tubuh mereka semakin dekat. Hanya berjarak 10 cm saja. Sarah tak berani membuka matanya, ia begitu takut hingga wajahnya pucat pasi.
Leo membelai halus pipi Sarah.
"Aku hanga ingin teman Sarah aku hanya ingin teman...." ucap Leo yang mulai merendahkan suaranya.
__ADS_1