RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Gantung Diri (36)


__ADS_3

"Angel....Angel..!!" teriak Jhon dari luar rumah.


"Kemari dan cepat lihat ada sesuatu yang gempar di desa sebelah!" kata Jhon lagi.


Angel yang tengah duduk di ruang tamu menyeruput kopinya dan segera berlari kearah Jhon.


"Serius??"


"Cepat ikut aku ada sesuatu yang ganjil bawa semua peralatan kita jangan lupa bawa juga handphone mu!" perintah Jhon pada Angel.


"Wait sabar dulu jangan tergesa-gesa aku akan mengambil peralatan kita dulu." ucap Angel.


"Ya.."


Belum ada lima menit Angel kembali keluar dengan tas di punggungnya yang berisi peralatan mereka.


Dengan gesit Angel mengikuti suaminya.


"Ada apa sebenarnya?"


"Nanti saja tanyanya, sekarang kau ikuti aku dan lihat ada yang janggal atau tidak."


"Hem baiklah kalau begitu lebih cepat!"


Angel dan Jhon seketika mempercepat langkahnya.


Setelah sampai di lokasi langkah lebar Jhon dan Angel mencoba mendahului beberapa warga yang datang bersamaan melihat apa yang terjadi.


"Maaf ada apa ini pak?"


"Gantung diri non! Tapi aneh tidak seperti pada umumnya saya curiga orang ini sengaja digantung."


"Siapa namanya ? Apa sebelumnya pernah ada cekcok dengan keluarganya atau orang sekitar?"

__ADS_1


"Tidak ada non. Asep di kenal baik hati tak pernah punya musuh."


Percakapan Angel dengan Pak Husni Lurah di desa Tuo.


Angel mengangguk paham. Di lihatnya jenazah Asep yang masih menggantung. Ia merasa ada yang janggal.


"Jhon bagaimana?"


"Aku rasa dia di bunuh tapi pembunuhnya bermain sangat rapi, ia menggantung tubuh pemuda ini agar terlihat ia mati karena gantung diri."


"Lalu bagaimana?"


"Kita tunggu sampai polisi mengevakuasi korban, kebetulan aku sudah menelpon polisi teman lamaku."


"Baiklah."


Tak sedikit orang saling berbisik beberapa dari mereka ada juga yang mengambil foto almarhum Asep.


Warga desa semakin ramai. Semakin siang banyak orang berbondong ingin melihat jazad Asep yang di gantung di pohon Mangga dekat sumur tua.


"Jhon jam berapa ia gantung diri?"


"Aku kurang tau Man, namun menurut warga ia di temukan saat pukul 6 pagi tadi."


"Ada bekas biru di punggungnya sepertinya terkena pukulan yang cukup hebat. Kau ikut aku ke rumah sakit untuk melihatnya lebih detail."


"Baiklah."


Jhon pun mengikuti Herman. Begitu juga dengan Angel yang sibuk mencatat informasi tentang Asep.


###


"Kemana Jhon dan Angel mereka pergi tanpa sepengetahuanku?"

__ADS_1


"Maaf tuan saya lancang mereka sedang pergi ke desa sebelah seorang pria gantung diri membuat warga begitu juga dengan tuan Jhon dan istrinya pergi."


"Gantung diri?"


"Ya Tuan."


Leo mengangguk , Demos yang berada di belakang Leo menatap punggung Leo bersiaga jika sewaktu-waktu Leo memberi perintah.


Pandangan Leo tak lepas pada sebuah lukisan. Dimana lukisan itu muncul setelah kematiannya. Ia berpikir mungkinkah lukisan di hadapannya ada hubungan antara ia dan pembunuhnya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


Pertanyaan Demos membuat lamunan Leo buyar.


"Tak ada kau pergilah aku ingin menemui Sarah. Bila Jhon dan Angel kembali katakan untuk membawa lukisan itu ke kamar kosong dekat gudang."


"Baik Tuan."


Leo pun menghilang.


Ia muncul di depan kontrakan Sarah.


"Begini lebih cocok." kata Leo dengan senyum di sudut bibirnya.


"Eh ada mas ganteng dari mana mau kemana?"


"Sa...saya mau ke tempat Sarah."


"Eh kirain mau ke tempatku haha, buka aja Sarah paling juga cuma tiduran."


"I..iya."


Leo mengetuk pintu kontrakan Sarah. Tak lama suara pintu di buka.

__ADS_1


"Kau jadi manu.."


__ADS_2