
Sarah sudah terbiasa oleh lingkungan di desa. Beberapa tetangga nek Sum juga kerap berkunjung ke rumah nek Sum untuk sekedar ngobrol dengan cucu-cucu nek Sum.
Laras yang masih kecil berlarian dengan beberapa anak tetangga yang sebaya dengannya. Sarah pun tak ketinggalan untuk mengabadikan momen saat Laras bermain dengan temannya.
Saat tetangga mulai pamit pulang ke rumah masing-masing. Laras menghampiri Sarah yang tengah asyik memandangi potret yang ia ambil.
"Liat dong kak!" kata Laras.
Sarah pun memangku Laras dan mengajak Laras melihat foto dirinya dengan temannya.
"Kak ini siapa?" tanya Laras.
Jari Laras menunjuk gambar yang di maksud.
"Ini kan pohon sayangku..." jawab Sarah gemas.
"Bukan! Ini cowok ganteng putih!" ucap Laras tegas.
Sarah pun bingung di buatnya. Di samping pohon itu tak ada siapa-siapa. Dan saat Laras bermain tadi memang tak pria manapun yang terlihat.
"Udah-udah sore ayo mandi!" kata Sarah mengalihkan pembicaraan bocah kecil itu. Ia juga tak mau ambil pusing dengan ucapan Laras mengingat Laras masih kecil dan ucapannya sering ngelantur.
__ADS_1
Laras pun menurut dan segera pergi mandi. Sarah segera beranjak dari tempat duduknya. Namun saat akan masuk rumah Sarah merasa tangannya di cekal oleh seseorang.
"Eh tangan gue!" ucap Laras spontan.
Ia kembali menggerakkan tangannya namun tak merasakan apapun.
"Aneh..." batin Sarah karena tak melihat siapapun di sekitarnya. Ia segera masuk rumah dan membantu nek Sum dan mbak Sarti menyiapkan makan malam.
Usai makan malam Dino mengajak nek Sum sarah yang lainnya untuk menikmati bulan di teras rumah. Ia juga sudah menyiapkan kayu bakar untuk menghangatkan badan.
"Yeee yee api unggun api unggun!!" Laras bersorak bahagia. Anak kecil itu sedang dalam hati berbunga-bunga karena ide kakaknya yang membuat suasana tidak terlalu sepi.
"Nih singkong yang tadi!" kata Seto menyerahkan singkong pada Dino.
Nek Sum yang duduk di kursi teras pun tertawa melihat cucunya yang sedang asyik di halaman rumah.
"Pi kopiiii......!!!" Teriak Sarah dari dalam rumah.
Sarah muncul dengan nampan berisi kopi dan beberapa teh untuk dirinya,nek Sum dan mbak Sarti. Tak lupa satu gelas susu untuk Laras si mungil.
Sarah meletakkan minuman di meja teras dimana tempat nek Sum duduk.
__ADS_1
"Kamu cantik pinter masak gini gak kepengen cepet nikah mbak?" tanya mbak Sarti dengan canda tawanya.
"Mau sih calonnya yang gak ada hehehe.." jawab Laras sambil mencari tempat duduk yang pas.
"Orang kota pasti pilih-pilih dong Sar." saut nek Sum.
"Kalau gak pinter milih bisa bonyok makan kerikil nek. Sekarang orang baik di luar saja dalamnya gak tau deh!" jelas Sarah.
"Bener juga ya mbak, sekarang orang baik bisa si hitung." sambung mbak Sarti.
"Makanya kalau kenal orang jangan sampulnya saja isinya di buka." tambah nek Sum.
"Malu nek kalau di buka-buka!" saut Seto yang asyik makan singkong bakar.
"Hahahahaha..." Semua pun tertawa mendengar ucapan Seto.
"Nek besok kita balik ke kota. Lusa Kami harus bekerja lagi." kata Dino mengambil kopi di atas meja.
"Kok buru-buru?" tanya nek Sum.
"Yah mau gimana lagi, tapi besok kita baliknya sore kok nek tenang aja." tambah Seto. Nenek pun mengangguk.
__ADS_1
Usai acara api unggun dan lainnya mereka pun segera masuk rumah.
Jam pun sudah menunjukkan pukul 00.10 yang artinya malam sudah benar-benar larut. Laras pun sudah tidur sedari tadi di pangkuan Sarah.