RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Gadis Malang (29)


__ADS_3

"Hahahaha aku senang sekali membuat mereka penasaran!" tawa menggelegar dari sebuah rumah besar dan gelap.


Di dalamnya terdapat beberapa tengkorak manusia dan benda angker yang membuat rumah terasa benar-benar menyeramkan.


Seorang pelayan datang membawa minuman berisi darah segar untuk di hidangkan pada tuannya.


"Tuan ini minuman anda hari ini darah gadis yang masih perawan perlu tuan ketahui aku tak membunuh gadis itu ia saya sekap di kamar tengah barangkali tuan mau menikmatinya."


"Hahaha kau memang pelayan terbaik ku, pergilah aku akan menikmati gadis itu usai meminum darahnya yang segar ini." katanya dengan senang.


Pelayan itu pun pergi setelah memberi apa yang tuannya mau. Ia begitu setia pada tuannya karena berkat tuannya ia dapat merasakan kemewahan yang seperti sekarang meski bukan dari hasil yang halal.


"Hahaha cantik!"


"Lepaskan! Lepaskan aku ku mohon..." rintih seorang gadis dengan pilu. Air matanya mengucur deras tak terbendung. Jantungnya berdebar-debar kala pria jahat menyentuh lengannya yang terluka.


"Kau manis sekali sayang jika aku harus membunuhmu, lebih baik aku jadikan kau permaisuri di rumah ku yang megah ini." kata laki-laki yang berada di hadapan wanita itu dengan bangga.

__ADS_1


Wanita itu menggeleng. Tiba-tiba sebuah tamparan mendarat di pipinya meninggalkan jejak kemerahan.


"Ampun tuan lepaskan saya.." kata wanita itu.


"Hahaha tidak! Kau harus melayaniku!" jawab laki-laki itu dengan pandangan tajam.


Ia menikmati setiap inci bagian tubuh wanita itu. Nafsunya menggelora tak bisa ia bendung lagi. Sang wanita hanya pasrah saat tenaganya sudah melemah karena terlalu banyak berontak namun berakhir sia-sia.


"Menurut atau berontak kau tetap akan jadi milikku gadis perawan yang manis hahaha." kata lelaki itu dengan bangga saat bisa menyatukan miliknya dengan sang perempuan.


"Ahhhh ku mohon hentikan sa-sakit tuan!" rintih gadis itu.


Sang wanita hanya bisa menangis di bawahnya. Ia tak sanggup berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya di ikat.


Usai menikmati gadis itu kini pria kejam melangkahkan kaki keluar kamar. Ia berhenti menoleh gadis di belakangnya lalu melanjutkan langkah kakinya kembali.


Pria kejam itu duduk di teras di halaman belakang. Kekayaan yang tiada habisnya meski ia menghamburkannya dalam waktu satu tahun.

__ADS_1


"Pelayan!!"


"Iya tuanku?" jawab pelayan tersebut.


"Urus wanita di kamar ku rawat dan dandani dia dengan ayu setelah itu bawa ke ruang makan aku ingin menikmati makan malam bersamanya!" perintah pria kejam itu pada pelayan perempuannya.


Pelayan pun mengangguk dan segera melaksanakan perintah tuannya. Ia segera menghampiri gadis itu dengan tatapan sadis.


"Bersihkan dirimu dan segera temui tuan ku di ruang makan!" kata pelayan dengan tegas sembari melepas ikatan gadis yang tengah di hadapannya.


"To-tolong lepaskan saya." kata gadis itu dengan bibir bergetar antara takut dan menahan sakit di beberapa bagian tubuhnya.


"Tak ada hak aku melepaskan mu lebih baik kau segera bersihkan diri jangan sampai kau menyulitkan ku atau kau akan mati mengenaskan!" titah pelayan dengan angkuh.


Gadis itu segera berdiri dengan sekuat tenaga berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan diri. Pelayan menyiapkan pakaian untuk gadis itu kenakan. Ia tak mau ia di cap pelayan tak becus oleh tuannya.


Usai mandi gadis yang kini nampak ketakutan memakai pakaian yang sudah di siapkan pelayan. Pelayan juga menyuruhnya untuk menyisir rambutnya yang berantakan.

__ADS_1


"Sekarang ikuti aku!" kata pelayan. Gadis malang itu segera mengikuti kemana langkah pelayan pergi.


"Tuan sudah selesai." kata pelayan dengan sopan pada tuannya yang sudah menunggu di ruang makan.


__ADS_2