RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Kecurigaan Heru (43)


__ADS_3

POV Jhon


"Kalian mau bergabung dengan kami?" tawar ku pada mereka. Tak mudah memang mengatasi ini sendiri. Mereka di jalankan seseorang yang hanya menjadikan hitam sebagai kebahagiaan mereka tanpa memperdulikan tangis orang lain. Ilmu hitam yang berantai tak tau ujungnya di mana membuat aku dan Angel benar-benar kewalahan. Mengajak mereka bergabung adalah jalan terbaik, ku yakin mereka mampu memecahkan masalah ini.


"Bagaimana?" tanyaku kembali.


Mereka saling menatap saling meminta pendapat.


"Baiklah tuan Jhon kami ikut bergabung semoga kita dapat memecahkan masalah ini sesegera mungkin." ucap Naura dengan tampang seriusnya namun cukup imut bagiku.


"Kalau begitu selamat bergabung dengan kami, kali ini aku akan menunjukkan sesuatu pada kalian!" ucap Angel. Angel lalu berdiri dan melambaikan tangannya pada Naura dan kedua temannya begitu pun aku. Kami segera mengikuti Angel. Tanpa suara hanya langkah kaki yang berbunyi.


Angel menaiki tangga begitupun dengan kami.


"Mau kemana kita non Angel?" tanya Heru waspada.


"Ikuti saja! tenang saja aku tak mungkin menjebak teman ku." kata Angel santai.

__ADS_1


Mereka kembali saling menatap. Tiba di lantai dua, di depan kami pintu misterius yang kala itu hampir membahayakan aku dan Angel.


Angel meraih kenop pintu, terbukalah ruangan penuh debu dan berbagai serangga keluar dari sarangnya. Angel pun masuk dan kami mengekor di belakangnya. Ia membuka kembali jendela yang di luar jendela penuh dengan tengkorak dan mayat.


"Astaga!!!" jerit kaget Naura. Mulutnya terbuka tak percaya melihat pemandangan memuakkan di depannya.


"Tempat apa ini? Apa kalian melakukan pembunuhan dan membuang semua mayat kesini?" tanya Anto tak kalah syok.


Aku dan Angel pun saling melirik lalu kami kembali menatap Naura dan kedua temannya. Dengan bersamaan kami menggelengkan kepala.


"Aku dan Jhon menemukan ini jauh hari saat kami melakukan penyelidikan. Awalnya kami juga kaget sama seperti kalian, namun kami belum sanggup memecahkan ini semua." Angel buka suara.


"Persawahan dan hutan lebat?" tanya Naura.


"Kalau boleh tau jalan persawahan menuju kemana?" tanya Heru.


"Rumah seorang nenek tua bernama Nek Sum. Ya kala itu ia memperkenalkan diri." jawab Angel.

__ADS_1


"Sudah ku duga pasti nenek tua itu ada hubungannya dengan ini semua!" ujar Heru dengan mantap.


Kami yang tak percaya akhirnya saling melempar pandang. Naura menatap Heru seolah meminta penjelasan.


"Maaf aku baru mengatakannya sekarang. Tak sengaja sebelum kejadian gantung diri sempat aku melihat nek Sum membawa beberapa sesaji keluar dari rumahnya, ia melempar sesaji itu ke sawah dekat rumahnya lalu sensasi dalam sekejap hilang begitu saja." jelas Heru.


"Kenapa baru kau ceritakan Her?" Anto bertanya.


"Maaf kawan aku takut terjadi fitnah, aku hanya bisa mengawasi gerak gerik nek Sum sendirian setelah ada bukti baru ku katakan pada kalian.


"Aku mengerti sekarang apa kau kau punya rencana?" tanyaku pada ketiga remaja di depanku.


"Bayi!!" Demos pelayan Leo tiba-tiba muncul.


"Ah kau!" kataku.


"Maaf para tuan dan nona, aku tak sengaja mendengar yang kalian bicarakan. Pancing mereka dengan satu bayi makan akan terlihat kebusukannya."

__ADS_1


Kami berlima sungguh kaget dengan ide Demos.


__ADS_2