
"Laras buka pintunya!" perintah Seto pada Laras setelah sampai di rumahnya.
"Sudah pulang kakak?"
"Sudah. Ini segera di bukan dan makan yang banyak tadi kakak tercintamu sengaja membuat banyak agar kamu kebagian."
"Terima Kasih. Bagaimana kalau kita makan bersama kebetulan kak Dino juga sudah pulang."
"Oke ayo!"
Mereka segera masuk dan membuka makanan yang Seto ambil dari rumah Sarah.
Mereka makan dengan lahap.
"Din tadi Sarah ngajak gue jadi detektif!"
"Seriusan? Kasus apa? Pembunuhan atau apa?"
"Pencarian orang hilang."
"Siapa yang hilang? pacar Sarah ? kan dia jomblo tulen?"
Seto melirik Laras yang makan dengan lahap. Laras yang merasa di perhatikan membalas lirikan kakaknya.
"Kok malah lirik-lirik si?" tanya Dino heran.
__ADS_1
"Kak Seto loh yang lirik Laras duluan. Laras emang cantik jadi di pandang terus!"
"Ge-ER..!!!" bantah Seto.
Seto pun menyudahi makannya dan membawa piring yang telah ia gunakan ke dapur. Dari dapur Seto membawa tiga gelas teh hangat untuk adik-adiknya.
"Jadi Sarah tadi ngomong sama gue, minta bantuan buat nyari orang tuanya kata dia rindu berat." ucap Seto sambil meletakan minum di depan adiknya Laras dan Dino.
"Terus kakak jawab gimana?" tanya Laras
"Ya kakak iyain aja buat bantu dia lagipula Sarah juga sudah banyak bantu kita terutama makanan." jawab Seto.
"Emang dimana orang tua Sarah?" tanya Dino
"Kalau tau gak bakalan di cari dodol!" jawab Seto sambil menyentil kening Dino.
"Kak Dino emang dodol lemot telmi semua jadi jadi satu!" timpal Laras.
"Anak kecil gitu amat! amat aja gak gitu."
Laras menjulurkan lidahnya pada Dino.
"Jadi gimana kalian mau bantu Sarah tidak?"
"Mau dong kak kasihan kak Sarah. Tapi Laras juga rindu sama mama papa Laras gak pernah ketemu sama mereka." kata Laras dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Tuhkan mulai drama deh drama...." ucap Dino.
"Kan udah ketemu lewat foto." hibur Seto
"Hem iya deh meskipun Laras sebenarnya pengen ketemu langsung tapi kata nenek mereka udah bahagia di surga Allah." kata Sarah sambil berjalan menuju dapur.
"Elu sih bang udah tau bontot baperan."
"Yah gimana lagi gak papa belajar kecewa itu perlu lagian Laras anak pinter gak kaya elu dodol setengah mati!" kata Seto.
Dino pun melengos. Dalam Hati ia sebenarnya juga rindu dengan orang tuanya. Tapi demi adiknya yang bontot ia pura-pura untuk tegar. Sedari kecil Laras hanya di besarkan oleh nenek mereka saat Seto dan Dino sudah lulus sekolah mereka mengambil alih hak asuh Laras dan sepakat membawa Laras ke kota. Di sekolah kota kegiatan lebih padat jadi tak ada alasan untuk Laras memikirkan hal yang tidak penting. Mereka juga tak mau membebani nenek mereka yang sudah berumur.
"Laras ayo tidur sudah malam. Besok kan ulangan kakak sudah bayar semua tunggakan Laras di sekolah jadi besok sudah bisa ikut ulangan dengan tenang." ucap Seto pada Laras yang kembali dari dapur.
"Wah beneran kak? Horeeee makasih ya kak." ucap Laras. Ia juga berlari kearah Seto dan memeluk Seto dengan erat
"Lebay!"
"Ihhh kak Dino syirik aja sih kak!" rengek Laras.
"Udah udah.. biarin aja sekarang Laras tidur besok bangun pagi."
"Oke siap pak Bos!!"
Laras pun dengan semangat berlari ke kamarnya.
__ADS_1
Dino yang melihat tingkah lucu adiknya hanya bisa geleng-geleng.
"Jadi gimana Din??"