
Sarah kembali ke kontrakan. Hari sudah larut namun ia masih bingung siapa yang membuat restonya demikian. Ia tak terasa tak percaya diri baru mengelola resto belum ada sebulan namun ada saja yang ingin membuatnya celaka.
Saat ingin mengambil air minum samar-samar Sarah mendengar anjing melolong. Tak seperti biasanya, karena jarang sekali ada yang memelihara anjing. Ia pun segera menepis pikiran buruk yang meracuninya.
Tiba-tiba ponsel Sarah berdering, rupanya panggilan dari Aini.
Ia meminta Sarah untuk menemuinya di warteg tempat biasa mereka bertemu. Tentu saja Sarah mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
Saat ingin menaruh ponsel di meja, Sarah merasakan sebuah pelukan hangat. Siapa lagi jika bukan Leo.
Ia meniup leher Sarah membuat Sarah merona.
"Hentikan!" ucap Sarah
Leo pun tertawa dan melepas pelukannya dari tubuh Sarah.
"Jangan memelukku lagi tak sopan!" kesal Sarah.
"Baiklah besok aku mencium mu!" jawab Leo.
Sarah pun memilih diam tak mau berdebat dengan Leo.
"Kau tau aku tak pernah punya teman sebelumnya teman-temanku rata-rata sudah berusia. Dari kecil hingga dewasa hidupku hanya mengamati berkas-berkas perusahaan." kata Leo sambil menidurkan badannya di sofa.
"Lalu kau mati dan siapa yang mengurus perusahaan mu ?" tanya Sarah.
__ADS_1
"Biar aku mati adik sepupuku Bagas masih mengurusnya. Namun sayang aku hanya bisa menyampaikan pesanku lewat mimpi karena ia tak mau bertemu langsung di dunia yang nyata ini." jawab Leo sedih.
"Seandainya kau sudah menemukan siapa dalang yang sudah membuatmu begini apa kau masih tetap menjadi antara roh dan iblis?!" tanya Sarah lagi.
"Tidak! Aku akan pergi kembali dimana kita semua berasal." jawab Leo.
Mendengar jawaban itu ada rasa nyeri di dada Sarah. Meski ia belum lama mengenal Leo namun ia merasakan hangatnya suasana dan begitu nyaman di dekatnya.
"Kenapa?" tanya Leo yang sebenarnya tau perasaan Sarah.
"Hanya sedikit berpikir siapa yang tega berbuat seperti itu padamu." ucap Sarah.
Ia pun berdiri lalu melangkahkan kakinya ke kamarnya. Saat ia duduk di di tepi ranjangnya Leo sudah berada di sampingnya dengan tubuh berbaring.
"Kalau biasa aja gak pakek ilang-ilang susah ya?" tanya Sarah kesal.
Sarah pun hanya mendengus.
Pagi hari nya suasana di kontrakan Dino masih sangat sepi. Ya di gang itu rata-rata di huni laki-laki jadi jarang sekali ada yang berisik.
Laras terbangun dari tidurnya. Ia mengucek matanya perlahan memastikan nyawanya sudah terkumpul.
Laras melihat sekeliling ia nampak kebingungan.
"Bukannya tadi malam bobo di rumah kak Sarah?!" gumam Laras.
__ADS_1
Ia turun dari tempat tidurnya. Di lihatnya kakak Laras masih tertidur pulas di sofa.
Laras pun berjalan lagi menuju kamar mandi.
"Laras main yuk!" tiba-tiba seorang bocah seumuran Laras muncul di dekat meja makan.
Laras pun tak takut karena ia sudah biasa melihat hal semacam itu. Entah ia dapat melihat makhluk halus dari gen siapa ayah atau ibunya.
"Kamu siapa?" tanya Laras.
"Aku Adel aku gak punya temen huhuhuhu.." jawab Adel bersamaan dengan tangisnya.
Laras pun menghampiri Adel dengan wajah polosnya.
"Kok aku baru lihat kamu?" tanya Laras.
"Aku baru saja meninggal entah siapa yang bunuh aku, aku dari desa Tuo." jelas Adel yang masih terisak dengan tangisnya.
Laras pun berpikir. Desa Tuo adalah desa neneknya tinggal.
"Terus tau rumah Laras dari mana?" tanya Laras lagi.
"Aku ikutin kamu kemarin ingin menampakkan diri tapi takut kamu gak mau." jawab Adel dengan rasa takut.
"Aku mau kok jadi temen kamu. Bentar ya Laras mandi dulu tunggu di belakang rumah nanti main bareng." kata Laras.
__ADS_1
Ia pun segera mandi dan mengganti pakaian karena risih dengan baju yang ia kenakan semalam.