RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Jadilah teman ku !


__ADS_3

Mendengar suara Leo yang parau membuat Sarah perlahan membuka matanya. Leo menundukkan kepalanya tak menatap Sarah.


Dengan keberanian yang tersisa, Sarah mengangkat tangannya mencoba menyentuh wajah Leo.


"M-maafkan aku. A-aku terlalu syok tadi.." ucap Sarah lirih.


Leo masih belum mendongakkan kepalanya. Ia masih hanyut dalam perasaannya. Kenapa kematian ini begitu menyiksanya.


Menjadi arwah gentayangan bahkan mulai menjadi iblis.


Buliran air mata Sarah rasakan di pipi Leo. Ia tak menyangka iblis di hadapannya bisa menangi.


"B-bagaimana iblis bisa menangis?" tanya Sarah kaku.


Leo mulai mendongakkan kepalanya, ia menatap lekat mata Sarah.


Merasakan setiap sentuhan yang Sarah berikan di wajahnya.

__ADS_1


"Aku sama sepertimu hanya aku mengalami takdir yang berbeda...." ucap Leo pelan.


Sarah pun membalas tatapan Leo. Ada sebuah kepedihan di sana yang tak bisa di ungkapkan. Dengan bertahan dalam rupa iblis, Sarah mulai memeluk Leo. Ia berharap dengan pelukan Sarah Leo menjadi lebih tenang meskipun ia seorang iblis yang mudah saja membakar dirinya dalam amarah.


Leo pun terhenyak merasakan tubuh Sarah yang memeluknya. Ia ragu saat ingin membalas pelukan Sarah namun akhirnya ia memberanikan diri untuk membalasnya.


"Jadilah temanku..." Leo lirih.


"Ya...." jawaban Sarah yakin.


Terasa sebuah kenyamanan di tubuh Leo yang mungkin belum pernah Leo rasakan. Tak terasa tubuh Leo kembali ke wujud semula. Sarah yang mulai menyadari perubahan wujud Leo langsung melepaskan pelukannya.


"Biar aku saja." jawab Leo. Dengan satu kedipan mata kamar itu sudah kembali seperti sedia kala.


"Aku harus pergi terima kasih sudah menerimaku." kata Leo.


"Kemana tetaplah disini saja." sanggah Sarah.

__ADS_1


Leo pun hanya diam, ia merasa dirinya di manusia kan oleh Sarah. Meskipun ia dapat menghilang kemana saja yang ia mau.


Sarah menggelar kasur lantai yang cukup untuk satu orang. Ia menyuruh Leo untuk tidur di sana dalam satu kamar. Entah mengapa Sarah merasa iba, mengingat dirinya yang juga tanpa keluarga.


Leo pun langsung menidurkan dirinya di kasur yang sudah di siapkan oleh Sarah. Kini matanya menatap langit-langit kamar. Sekilas ia melirik Sarah rupanya ia sudah tertidur pulas karena lelah. Emosinya benar-benar menguras tenaga.


Di tengah tidurnya Sarah, Leo pun menghilang. Ia kembali ke rumah besarnya.


Beberapa pelayan yang tentu juga bukan manusia. Para pelayan pun bernasib sama seperti Leo. Sebenarnya Leo juga membebaskan mereka pergi dari rumah Leo. Namun mereka lebih memilih tinggal menemani Leo.


Mereka pelayan setia. Meskipun Leo kejam dan beringas, namun itu hanya berlaku pada pengkhianat. Tatapan tajamnya seolah tak pernah sirna di mata pelayan dan pengawalnya.


"Selamat datang tuan...." ucap Vera salah satu pelayan setia Leo.


Leo mengangguk berjalan menuju lantai atas. Di sana terdapat beberapa foto gagah Leo semasa ia hidup. Ia menuju ke ruangan yang begitu gelap. Di sana ia duduk pada sebuah kursi goyang kesayangannya. Ya, Leo memang suka menyendiri. Ia lebih suka menghabiskan waktunya di kursi goyang sambil mengingat apa yang ia lakukan semasa hidupnya hingga seseorang yang kejam meracuni dirinya beserta seluruh pelayan dan pengawalnya yang setia.


Banyak warga yang menjauhi area rumah Leo. Mereka yakin bahwa rumah itu berhantu. Kecuali mbah Jamin yang memang berani dan dulunya dia juga pengawal Leo. Hanya dia yang masih hidup karena saat semua makan ia sedang pulang menjenguk istri dan anaknya di desa sebelah.

__ADS_1


Mbah Jamin memang tau keberadaan arwah-arwah penasaran Leo dan teman pelayannya. Namun ia memilih bungkam pada semua orang dan menepis perkataan setiap orang yang melihat hal aneh di rumah Leo. Karena pantang baginya untuk membongkar aktifitas yang sebenarnya di rumah itu. Ia tak mau tuan mudanya marah padanya. Meski sudah berbeda alam namun Leo masih saja memberi uang pada mbah Jamin yang sering membersihkan rumahnya.


__ADS_2