RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Makan malam..


__ADS_3

Malam hari Dino Seto serta Laras pergi ke kontrakan Sarah. Ia mengira akan ada pesta kecil-kecilan hingga mereka berdandan tak seperti biasanya.


Seto yang merasa Dino berlebihan ia lebih memilih kaos biasa yang ia pakai.


Dino juga menyuruh Laras untuk memakai gaun yang ia beli tadi sepulang bekerja.


"Ada acara apa Din kok tumben rapi kan cuma mau makan malam di rumah Sarah?" tanya Seto penasaran.


"Bang tau gak si Sarah itu habis beli restoran temat kita kerja dia juga menaikan gaji kita 50% gila gak tuh?!" jelas Dino.


"Gak gila lah berarti Sarah waras karena mau naikin gaji kalian!" ucap Seto lalu pergi menggandeng Laras.


"Yeeee abang!" kesal Dino.


Ia pun segera menyusul adik dan kakaknya.


Tok..tokk..tokk


Seto mengetuk pintu kontrakan Sarah. Tak berapa lama pintu pun terbuka.


"Ayo masuk!" kata Sarah tanpa basa basi. Mereka pun masuk dengan senang. Dino bergaya seakan ia mendapat undangan pesta besar.


"Din hari ini lo gak lagi sakit kan? Terus Laras kenapa pakai gaun super ribet ini?" tanya Sarah heran.


"Yah masa makan sama bos bajunya jelek kan gak enak di pandang!" jawab Dino. Ia menarik kursi dan duduk. Ia menatap hidangan yang Sarah sajikan dengan mata terpana.

__ADS_1


"Kak Dino lebay ya kak!" ucap Laras membuat Seto dan Sarah tertawa.


"Udah ayo makan keburu dingin gak enak." kata Sarah.


Mereka pun akhirnya makan dengan lahap sambil bercerita bagaimana keadaan restoran yang kini atas nama Sarah.


"Sebenarnya resto itu milik Leo, hanya saat di umumkan ia meminjam namaku." kata Sarah di tengah-tengah makan mereka.


"Kok gitu?" tanya Dino.


"Wajar sih menurut aku mungkin dia takut saingan bisnisnya tau kalau dia punya usaha kuliner yang baru." jawab Sarah.


Sebenarnya itu hanya alibi Sarah biar mulut ember Dino gak main-main dengan Sarah.


Dino pun mangut-mangut.


"Ya orang kaya kita mah apa atu?" ucap Sarah lalu mereka tertawa.


Usai makan malam mereka menonton televisi di rumah Sarah sambil bercerita ini itu. Dino juga menasehati Sarah agar berhati-hati pada Dea. Sarah pun mengerti.


"Ah lelah sekali rumahmu terlalu besar!" ucap Jhon pada Leo.


"Tetaplah semangat para detektif masih ada ruangan lain yang harus kalian telusuri." kata Leo.


"Bisakah kita minum dan istirahat sebentar?" tanya Angel yang sudah kelelahan.

__ADS_1


"Mari ke meja makan sudah saatnya makan malam." kata Leo.


Mereka pun mengikuti Leo. Semua menu sudah di hidangkan di meja makan. Mereka pun menikmati makan malam dengan lahap.


"Eit tunggu dulu!!!!"


Leo dan Angel pun saling menatap Jhon dengan aneh.


"Ini bukan seperti di film-film yang terlihat di mata makanan enak aslinya ulat dan daun kering?" tanya Jhon penuh selidik.


"Astaga kau berlebihan, kami setengah roh dan iblis makanan asli manusia pun bisa kita dapatkan." jawab Leo.


"Tenang sayang ini asli..." kata Angel.


Jhon pun mengangguk dan memakan kembali nasi yang berada di piringnya.


Leo pun hanya memperhatikan manusia di depannya ia tak memiliki selera makan. Yang ia ingin hanya kasus kematian ayah ibu dan dirinya segera terungkap.


"Ada pintu di dekat dapur apa kau sering menggunakannya?" tanya Jhon mencoba menyelidik.


"Tak pernah. Hanya pelayan dan biasanya tukang sayur yang dulu sering lewat pintu itu mengantar keperluan pelayan." jawab Leo.


"Apa kau masih ingat tukang sayur itu?" tanya Angel.


"Tidak. Aku tidak pernah bertemu dengannya karena kesibukanku." jawab Leo lagi.

__ADS_1


Angel pun mengangguk. Ia tak ingin membuat kesimpulan lebih dulu sebelum semuanya jelas.


__ADS_2