
"Hey sedang apa? Siapa kamu?" tanya Sarah saat melihat seorang pria tengah duduk di sofa dalam sebuah rumah.
"Leo! Panggil aku Leo!" jawabnya angkuh.
"Kamu pemilik rumah ini?" tanya Sarah lagi.
"Kau begitu cerewet ya manis??" kata Leo menghampiri tempat di mana Sarah berdiri.
Sarah yang merasakan hawa dingin menakutkan pun memundurkan langkahnya hingga tubuhnya di halangi oleh sebuah tembok.
"Kau manis!" kata Leo membelai rambut Sarah.
"Le..lepaskan! Aku tidak mengenalmu jangan seperti ini!" kata Sarah gugup.
Leo tersenyum sinis. Ia malah mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah dan meniupnya.
"A a..apa yang kamu lakukan?!" tanya Sarah.
"Mulai sekarang kau milik ku!" kata Leo tajam.
Sarah bun bergidik ngeri. Leo yang di hadapannya tiba-tiba menghilang.
"Leo! Leo...!" panggil Sarah.
Dorrrrr!!!!
"Ahhhhh!" teriak Sarah yang terjaga dari tidurnya karena sebuah balon di letuskan tepat di samping telinga Sarah.
"Leo Leo! Dino nih Dino! Cepet mandi udah jam 9 pagi!" kata Dino.
__ADS_1
"Sialan!!" gerutu
"Leo?? Wajahnya tak terlalu asing seperti pernah bertemu. Tapi dimana?" gumam Sarah heran dengan mimpinya.
"Mannndiiiiii!!!!!!!" teriak Dino yang kembali masuk ke kamar Sarah.
Sarah pun segera bangkit, tak lupa satu bantal melayang mengenai kepala Dino.
"Rasain lo!" kesal Sarah.
Pagi ini semua memang agak terlambat, wajar saja tadi malam mereka bercengkrama sampai larut malam.
"Kalau gak ada kalian habis isya' nenek pasti sudah tidur karena sepi sekali." kata nek Sum mengawali pembicaraan pagi ini.
"Kalau di kota nek gak ada sepinya Sarah suka yang sepi-sepi gini." saut Sarah.
"Haha iya tuh Laras bener!" kata Dino menimpali.
Muka Sarah pun memerah karena masih kesal dengan Dino yang mengagetkan tidurnya.
Nek Sum dan yang lainnya hanya tersenyum dan melanjutkan sarapan mereka.
"Nanti barang-barang di kardus di bawa ya to.." kata nek Sum pada Seto.
"Banyak banget nek?" tanya Dino.
"Iya gak papa, yang dua kardus ini buat kamu nduk." kata nek Sum sambil menunjuk kardus yang di maksud.
"Wah makasih ya nek Sarah seneng deh!" balas Sarah sambil memeluk nek Sum.
__ADS_1
Sarah merasa dirinya benar-benar mempunyai keluarga semenjak kenal dengan nek Sum. Ia juga orang baik tak membedakan antara cucu kandung dan dirinya. Keadaan seperti ini membuat Sarah sejenak melupakan ayah dan ibunya yang mulai tak peduli dengannya. Mereka ada tapi tiada. Begitu kata Sarah dalam hati.
Sore pun tiba, mobil angkutan yang akan membawa mereka ke kota pun sudah bertengger di halaman rumah. Nek Sum yang sadari tadi menciumi pipi Laras seakan enggan untuk berpisah.
"Nenek jangan sedih nanti Laras kesini lagi." kata Laras menghibur neneknya.
Nek Sum tersenyum dengan sikap manis cucunya itu.
Satu persatu mereka bersalaman dan bergantian memeluk nek Sum tak terkecuali Sarah. Usai berpamitan mereka pun segera memasuki mobil menempati tempat duduk yang sudah di pesan.
"Dada nenekkkkk!!" Teriak Laras dari dalam mobil. Nek Sum pun membalas dengan lambaian tangan hingga akhirnya mobil pun bergerak meninggalkan halaman luas nek Sum.
"Kak bang ganteng ikut." kata Laras.
Sarah yang memangku Laras pun heran dengan ucapan anak kecil itu.
"Iya ikut mau pulang!" jawab Sarah singkat. Ia tak mau ambil pusing dengan celoteh Laras.
Di perjalanan Sarah merasa kepalanya sedikit pusing. Ia mencoba memejamkan mata berharap agar bisa tidur dan tak merasakan pusing.
Pijatan halus di kepala di rasakan oleh Sarah. Namun ia enggan membuka matanya karena Sarah berfikir pasti Dino yang sedang memijat kepalanya. Hingga akhirnya Sarah pun benar-benar terlelap.
Perjalanan pulang kali ini lebih cepat karena langit cerah dan tak macet.
"Bangun dek udah sampai." kata Sarah membangunkan Laras.
Laras pun terbangun, ia masih enggan membuka mata karena lelahnya perjalanan.
Seto pun yang tak tega pada Sarah mengambil alih untuk menggendong Laras. Sementara Dino membantu sopir untuk menurunkan barang bawaan dari kampung.
__ADS_1