
Suara bang Seto mengagetkan ku. Baru saja aku memakai celemek ala-ala koki internasional udah ada pesanan aja. Padahal niat hati ingin selfi ria dulu.
"Ya bang bentarrrr otewe!!" teriak ku kembali.
Biasanya tanpa teriak-teriak begini. Karena teman ku bagian pemberitahuan belum datang. Ia izin terlambat karena ibunya sedang sakit.
Satu demi satu aku memotong kuku. Eh kok kuku? Salah! Maksudnya bumbu untuk nila asam manis ku. Manisnya buat aku aja kalian pembaca yang asam aja hehehe .
Udah ah yok lanjut masak!
Tahap demi tahap selesai. Sebagai juru masak cekatan dan terambil memang harus menjadi syarat utama. Manager restoran pernah bilang seheboh apapun restoran jangan sampai rasa dan aroma berubah.
Ku pencet tombol merah tanda menu yang di pesan sudah matang. Tak kulihat bang Seto kini temanku yang mengambil pesanan lalu mengantar ke meja pelanggan.
Hari ini pengunjung lebih banyak dari hari kemarin, mungkin karena hari ini hari Minggu. Jam 14.00 akhirnya tiba juga kaki ku rasanya sudah mau lepas dari persendiannya.
"Ra!" Suara bang Seto mengagetkan ku saja.
"Iya bang kenapa?"
"Pulang bareng yuk temenin gue beli cilok depan sono!"
"Traktir juga ya buat gue bang."
__ADS_1
"Gampang..!"
Asyik!! Batin ku bersorak dapat jajan gratis lagi. Kemarin cuma suruh temenin teman kerja melabrak selingkuhan pacarnya juga di kasih fulus lah emang anak sholehah banyak rezekinya hehe..
Aku dan bang Seto segera meninggalkan restoran karena sudah berganti shift. Di sepanjang jalan kita ngobrol ngalor ngidul tak tentu arah. Hingga akhirnya tiba di sebuah percakapan serius.
"Ra serius nanya lu bisa lihat hantu kan?"
"Kenapa bang emang?"
"Em .."
Bang Seto celingukan lihat kanan dan kiri. Tiba-tiba menarik tangan ku yang putih halus ini. Ah PD banget!
"Dah sini aja kita ngobrol bentar aku chat tukang cilok langganan gue biar pesanan kita di antar kesini, males nyebrang soalnya!"
Aku hanya mengangguk. Tak mau ribet dan ambil pusing.
"Gini Ra, gue punya temen nah gue curiga dia kayanya lagi deket sama hantu. Ya walaupun gue gak yakin sih."
"Maksud bang Seto dia pdkt sama hantu gitu?"
"bisa jadi Ra!"
__ADS_1
"Emang siapa sih bang?"
"Hari Selasa kita kan libur gimana kalau lu ke rumah gue dan gue kasih tau deh temenku yang dekat sama hantu. Gimana?"
"Em boleh deh bang, tapi Naura bawa temen ya soalnya takut kenapa-napa iya kalau hantunya baik kalau jahat kan pusing juga bang."
"Gampang deh selow aja."
Begitulah percakapan ku dengan bang Seto. Aku tak tau bagaimana ia bisa tau kelebihan ku, mungkin ia mengamati ku dalam beberapa hari ini atau mungkin ia merasakan apa yang pernah ku rasakan.
Tak menunggu waktu lama cilok pesanan bang Seto pun di antar ketempat dimana kami duduk. Sambil menikmati angin di siang hari menjelang sore.
Setelah menghabiskan cilok kami berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing. Menyiapkan tenaga ekstra karena besok harus bekerja kembali.
Badanku terasa sangat letih. Maklum seharian berkutat dengan panasnya kompor.
"Assalamualaikum makkk!" teriakku saat sudah sampai di rumah.
"Walaikumsallam! Kebiasaan kamu Ra, coba matikan dulu motornya turun terus baru salam."
"Lah lupa mak, yaudah ya Naura mau mandi dulu gerah banget!"
Aku pun segera meninggalkan emak yang masih di teras rumah.
__ADS_1
"Tolongggg!!!!"