
"Mau saya bikinkan minum?" tanya nenek
"Tidak kami bawa sendiri kalau boleh kita numpang istirahat di teras nenek saja boleh?" tanya Jhon.
"Silahkan.." kata nenek dengan senyum palsunya.
"Bolehkah kami tau siapa nama nenek supaya kami tak canggung?" ucap Angel sambil mengambil air minum di tasnya.
"Nek Sum panggil saya Nek Sum." jawab nek Sum.
Entah kenapa nek Sum merasa risih dengan kehadiran Jhon dan Angel. Ia menaruh curiga pada bule di hadapannya itu. Jhon dan Angel pun merasa mereka di perhatikan betul oleh nek Sum. Padahal niat mereka hanya numpang istirahat.
"Nek terima kasih atas tumpangannya, saya mau lanjut perjalanan lagi..." kata Angel sopan.
Nek Sum pun hanya mengangguk dan mempersilahkan kedua bule itu pergi. Ia segera masuk ke dalam rumah dan segera menutup pintu.
__ADS_1
"Awas kau Sum jika kau berani berbicara macam-macam!!!" suara yang berasal dari kamar sebelah di barengi dengan kepulan asap yang begitu tebal.
"Ampun Tuan ku hamba tak berani." jawab nek Sum lalu kembali melanjutkan aktifitasnya.
Jhon dan Angel pun kembali berjalan, entah kenapa Angel merasa dirinya di ikuti seseorang. Padahal jika ia menoleh ke belakang tak ada siapapun yang mengikuti mereka.
"Sebaiknya kita kembali ke rumah Leo!" ajak Jhon.
Angel pun mengangguk. Sebenarnya Jhon heran kenapa di desa ini mayoritas penduduknya adalah orang tua. Jarang bahkan tak pernah mereka menemui anak muda. Hanya anak-anak yang berusia 4 sampai 8 tahun.
"Mbah apa tak lelah nyapu terus?" tanya Jhon.
"Lelah gimana namanya juga kerja hehe." jawab mbah Jamin.
"Mbah kenapa di sini jarang anak muda?" tanya Jhon lagi.
__ADS_1
Mbah Jamin pun terdiam dan menatap Jhon bingung. Ia lalu mengajak duduk Jhon di kursi bawah pohon mangga.
"Itulah alasan mengapa desa ini di sebut desa Tuo yang artinya tua. Setiap anak yang berusia 10 tahun ke atas pasti meninggal entah di perantauan entah di desa ini sendiri. Ada yang di panggil saat usia 15 , 20 , 25 tahun. Jika sampai 30 tahun tak mati beruntunglah dia." jelas mbah Jamin.
"Lalu jika yang merantau lalu mereka menetap alias pindah tempat apakah juga tetap akan mati mbah?" tanya Jhon lagi.
"Tidak. Kalau mereka merantau lalu niatnya di perantauan selamanya bukan warga sini lagi pasti dia selamat." jelas mbah Jamin.
Jhon pun mengangguk. Namun hal ini sangat sulit di mengerti oleh nalar manusia. Pandangan Jhon lurus ke depan. Apa jangan-jangan kematian Leo ada kaitannya dengan ini. Bisa jadi ini tumbal ilmu hitam. Karena kepribadian Leo yang keras dan di lindungi oleh suatu hal ia tak bisa mengambil jiwa Leo dan akhirnya Leo menjadi arwah penasaran.
"Sudah jangan melamun! Saya mau nyapu lagi." kata mbah Jamin.
Jhon pun mengangguk. Ia segera masuk ke dalam rumah menyusul sang istri. Pikirannya begitu lelah, mungkin saat ini Angel sudah terlelap dalam mimpinya.
Jhon mengetuk pintu kamar tak ada jawaban. Dan benar saja istrinya tertidur dengan sepatu yang belum terlepas dan tas yang masih di punggungnya. Begitulah ia bila terlanjur kelelahan dan bau bantal.
__ADS_1