
Di dalam mobil Sarah meremas jemarinya, pandangannya lurus ke depan tak berani menatap Leo sedikitpun.
"Kamu lapar?" tanya Leo.
Sarah menggelengkan kepalanya. Air mata masih membasahi pipinya.
Leo menyetir dengan kecepatan yang sangat lambat. Suasana jalan saat itu tak terlalu ramai. Hanya satu dua kendaraan yang melintas.
Sarah masih larut dalam kesedihan dan juga rasa malunya. Ia tak menyangka bahwa ia akan di perlakukan di depan umum.
Hingga akhirnya Leo memutuskan untuk berhenti di sebuah restoran ternama.
"Ayo turun kau pasti lapar." kata Leo yang melangkahkan kakinya untuk keluar dari mobil.
Sarah pun masih tetap terdiam namun mengikuti kemana langkah Leo pergi. Ia masih enggan untuk membuka suara dan Leo mengerti itu. Ia juga pernah merasakan di caci maki saat keadaannya dulu seperti Sarah. Bahkan lebih parah Leo.
Leo pun akhirnya masuk ke restoran dan memesan beberapa makanan.
Hingga pelayan datang membawa makanan Sarah pun masih terdiam. Kali ini mereka makan dalam diam. Barulah selesai makan Sarah membuka suara.
"Terima kasih." ucap Sarah.
__ADS_1
"Sudahlah lupakan. Lain kali kau harus lebih berani!" ucap Leo memberi semangat.
Sarah pun menatap Leo dan tersenyum. Sebuah kehangatan mereka rasakan.
Drrtttt...drrrt...
Ponsel Sarah bergetar. Sebuah pesan dari Dino.
["Kau tak apa-apa? Maaf tadi aku ke toilet tak tau apa yang terjadi."]
["Aku baik-baik saja."] balas Sarah dengan emoticon senyum.
"Siapa?" tanya Leo.
Leo mengangguk. Ia berencana setelah makan mengajak Sarah kerumahnya. Ia ingin Sarah lebih tau tentang dirinya. Biarlah ia tau sedari awal dari pada akhir hanya akan membuat dia menyesal. Pikir Leo saat itu.
Sarah membuntuti Leo. Ia mengikuti Leo yang masuk ke mobilnya, tak banyak bicara Sarah masih saja diam.
"Kau masih memikirkan hal tadi?" tanya Leo.
"Sedikit. Aku malu dengan pelanggan lain entah apa besok yang mereka katakan bila berkunjung dan bertemu denganku.." ucap Sarah lirih.
__ADS_1
"Kalau begitu kita beli saja resto itu jadi milikmu biar kamu tak usah bekerja." jawab Leo enteng.
Sarah pun menatap Leo seketika. Ia tak percaya semudah itu cara orang kaya.
"Tapi a-ku miskin." ucap Sarah.
"Kau akan jadi terhormat saat bersamaku. Kau temanku saat ini aku tak ingin kau murung seperti ini." ucap Leo untuk pertama kalinya ia merasakan kepedulian yang berbeda. Begitu juga dengan Sarah yang merasa saat ini ia benar-benar di perhatikan oleh seseorang selain sahabatnya.
"Aku ikut kamu saja." senyum manis mengembang di bibir mungil Sarah. Leo pun menggenggam tangan Sarah. Meski tangan Leo terasa dingin namun hangat di hati Sarah.
Sarah pun tertidur. Ia tak tau jika saat ini mobil yang Sarah tumpangi sudah berada di halaman rumah Leo. Tak membutuhkan waktu lama untuk seorang iblis menghilang ketempat satu ke tempat yang lainnya. Leo membuat Sarah tetap tertidur. Dia ingin membuat Sarah lupa hal yang memalukan hari ini.
"De..den?" sapa mbah Jamin saat menyapu teras rumah Leo.
"Dia manusia pernah datang ke sini. Jangan singgung dia!" ucap Leo.
Mbah Jamin pun mengerti. Leo langsung masuk ke dalam rumah dan membawa Sarah ke kamar utama.
"Tuan?!" sapa Vera kaget karena Leo membawa seorang wanita berhawa manusia ke kamarnya.
"Siapkan makanan!" ucap Leo dingin.
__ADS_1
Vera pun segera pergi dari hadapan Leo.
"Siapa wanita itu? Awas saja jika merebut Tuan Leo dariku!" geram Vera saat menyiapkan makanan untuk Sarah.