RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Gantung diri lagi (40)


__ADS_3

Toloonggg!!!"


Baru saja kaki manis ku ini mau melangkah masuk ke kamar mandi tiba-tiba terdengar teriakan seseorang minta tolong.


Aku yang ikutan panik refleks langsung berlari keluar.


Sesampainya di luar ku dapati beberapa orang berlari ke arah barat melewati depan rumah ku.


"Eh Mak ada apa?" Tanya ku pada emak yang mau ikutan lari.


"Ada yang mati lagi udah lu mau ikut apa nerusin mandi Ra?"


"Ikut Mak ikut bentar Naura ambil sandal dulu!"


"Alah gak usah keburu ketinggalan berita nyeker aja ayo!"


Belum sempat ku jawab emak sudah menyeret ku , alhasil aku benar-benar nyeker. Meski sakit tapi ku paksa ikut berlari karena tak mau ketinggalan info.


"Huhuhuhuhuhu kenapa nduk kenapa???"


Terdengar seseorang menangis kala aku masuk ke rumah tetanggaku. Aku yang tak mau kalah ikut mendorong dan membuka jalan agar orang-orang di depanku mau minggir.


"Innalilahi ya Allah ya Rabb...." Ucap emak ku yang tak kalah kaget.

__ADS_1


Lidah keluar tubuh menggantung di langit-langit rumah.


"Imahh! Ya Allah nekat amat kenapa ini buuu???" Tanyaku tak kalah heboh dari ibu-ibu yang lain.


Bagaimana tidak, Imah tetangga sekaligus teman ku gantung diri dengan kondisi yang mengenaskan. Padahal kemarin sore kami masih ngerumpi bersama tetangga yang lain.


"Ya Allah kenapa nekat ndukk enek opo kok ora cerita karo ibuk?!!" Tangis Bulik Etik histeris tak menyangka anak keduanya mati secara mengenaskan.


Ku lihat Anto dan Heru juga turut serta melihat kejadian gantung diri Imah. Aku mendekati mereka berdua.


Belum sempat membuka mulut Heru dan Anto malah menyeret tubuh ini keluar rumah.


"Gantung diri lagi kejadiannya sama seperti si Asep kemarin Ra!"


"Apa ada hubungannya sama tumbal lagi? Mereka merasuki tubuh korbannya lalu seolah-olah mereka mati karena bunuh diri?" Kataku penuh selidik.


"Bisa jadi Ra, gimana kalau kita ke kampung sebelah kita ke rumah besar itu lagi, kan di sana penghuninya dengar-dengar juga mati karena di bunuh mungkin di sana ada jawaban. Kata hati gue bilang gitu!" Kata Anto serius.


"Bolehlah kapan kita ke sana?"


"Nanti malam." jawab Heru antusias.


"Baik kalau begitu kita janjian di tempat biasa bawa peralatan seperti biasanya ya?!" Kata ku bersemangat.

__ADS_1


"Oke." Jawab Heru dan Anto bersamaan.


Kita pun akhirnya berpencar. Heru dan Anto membantu beberapa warga untuk mengambil kursi dan terpal untuk acara kematian di rumah Bulik Etik. Sedangkan aku kembali menghampiri ibu yang mulai merapikan rumah Bulik Etik. Para polisi pun juga sudah mengevakuasi korban.


Sudah kedua kalinya, iblis jahat menguasai tubuh manusia yang lemah jika mereka di kendalikan oleh seseorang betapa jahatnya ia mengambil jiwa-jiwa yang tak berdosa.


Malam ini aku sudah bersiap di depan pos ronda. Para pelayat pun masih berdatangan ke rumah Bulik Etik. Tak sedikit dari mereka yang turut prihatin atas kejadian naas tadi sore. Rencananya jenazah Etik akan di makamkan besok pagi. Karena masih menunggu ayah Etik yang pulang dari perantauan.


"Duh mana sih Heru sama Anto?"


"Dorrr!!!"


"Monyet lu!"


"Gimana siap?"


"Siap yok berangkat keburu emak pulang bakal ceramah lagi dia!"


Kami bertiga pun akhirnya pergi ke rumah mewah kampung sebelah. Di jalan memang sepi karena hari semakin malam dan banyak orang-orang yang masih di rumah duka untuk menunggu jenazah. Kalau tak di tunggu katanya bisa di ambil sama macan jadi-jadian. Begitu kata almarhum bapak dulu.


"Siapa kalian??!"


Deggg!

__ADS_1


__ADS_2