RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Darah di jari tengah (37)


__ADS_3

"Kau jadi man.."


belum sempat berkata Sarah sudah di bungkam oleh Leo.


Sarah melotot heran.


"emmm..emm.."


"Diamlah ayo masuk dulu!" perintah Leo.


Sarah pun mengangguk.


Mereka berdua masuk lalu mengunci pintu dari dalam. Leo melepas bekapan tangannya dari mulut Sarah.


"Bukannya aku sudah terbiasa menjadi manusia kau selalu saja masih terheran."


"Maaf maaf hampir keceplosan. Tumben?"


"Aku ingin mengajak mu jalan aku bosan."


"Hantu punya rasa bosan?"


"Menurutmu?"


"Sudah sudah ayo!"


Sarah pun pergi mengambil sebuah tas kecil miliknya.


"Tak ganti baju?" Tanya Leo heran.


"Tidak. Begini sudah nyaman." jawab Sarah Santai.


Leo pun mengangguk dan mengikuti Sarah. Mereka keluar dari rumah kontrakan. Leo sengaja memarkirkan mobilnya agak jauh dari kontrakan Sarah karena banyak orang berlalu lalang.


"Kita mau kemana?" tanya Sarah setelah sampai dan masuk ke mobil Leo.


"Terserah kau!"

__ADS_1


"Loh bukannya kamu yang ngajak jalan gimana sih!" ucap Sarah kesal.


"Muter saja kalau begitu." jawab Leo santai.


Leo pun melajukan mobilnya dengan kecepatan standar .


Di dalam mobil Sarah hanya memandangi jalanan yang begitu ramai.


Saat lampu merah Sarah melihat ada seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya di pinggir jalan. Sarah sedikit tersentuh. Ibu itu rela kepanasan demi anaknya. Mungkin juga saat ini sang ibu yang ia lihat sedang menahan lapar.


"Kita samperin ibu yang duduk di sana ya?!" kata Sarah sambil menunjuk ibu- ibu yang ia maksud.


"Untuk apa?"


"Kita beri uang atau kita ajak makan."


"Boleh. Sebentar tunggu lampu hijau menyala."


Setelah beberapa menit. Akhirnya lampu hijau pun menyala. Leo langsung memutar stir mobil menuju ke arah ibu-ibu yang Sarah maksud.


Setelah sampai Sarah turun dari mobil.


"Eh i..iya neng."


"Tenang aja Bu jangan gugup kita cuma mau ngajak ibu bareng kita buat makan bareng kebetulan lagi ada rezeki lebih dan saya sudah nazar."


Ibu itu melihat mobil dan juga Leo.


"Ma..maaf neng tapi ibu ko..kotor."


"Haduh udah jangan nolak rezeki gak papa kok yuk!"


Ibu itu dengan ragu-ragu menatap Sarah. Ia takut Sarah adalah orang jahat yang akan menjualnya atau menyerahkan ia pada preman.


Sarah yang merasakan kecurigaan sang ibu langsung menyakinkan agar ibu itu mau pergi dengan Sarah.


"Saya orang baik. Ibu tenang saja!" kata Sarah kembali menyakinkan ibu itu.

__ADS_1


"Ayo Bu ikut Adel masih laparrrrr!!" Rengek bocah di dekat ibu itu.


Dengan ragu-ragu akhirnya ibu itu mau menerima ajakan Sarah.


####


Krieeetttt..


Suara pintu terbuka. Sorot mata tajam memandang kearah pintu.


"Kenapa?"


"Mereka memanggil anda tuan."


"Kau saja yang hadir tanya apa keinginan mereka selanjutnya dan buat lebih banyak korban!"


"Baik."


Senyum licik terukir di bibirnya. Memandang foto demi foto yang ia tempelkan pada dinding yang dingin.


Cahaya lilin yang hampir redup menambah kesan horor pada ruangan itu.


Ia melangkah pelan namun pasti.


Jleebbbb !!


Sebuah darah mengalir di jari tengahnya. Menetes di salah satu foto.


Sebuah patung kuda putih seakan ikut tertawa oleh kegilaannya.


"Drama yang manis, semanis darahku." ucapnya sembari mendekatkan jari tengahnya ke kucing hitam kesayangannya.


Kucing itu pun lalu menjilat habis darah yang keluar hingga tak tersisa lagi.


"Kau memang setia manis ku..." katanya.


Ia mengelus dengan lembut kucing kesayangannya yang tengah duduk di meja bersama tumpukan buku tebal dan kertas yang berserakan.

__ADS_1


Meeoongg....


__ADS_2