RANTAI IBLIS

RANTAI IBLIS
Melindungi bayi (31)


__ADS_3

Demos kepala pelayan rumah Leo menjalankan tugas dari Leo. Ia menjaga jabang bayi tanpa dosa yang baru saja lahir ke dunia.


Setiap manusia yang datang ia amati gerak geriknya.


Pandangan Demos jatuh pada Sarti. Entah apa yang di rapalkan Sarti bayi menangis dengan kencang. Demos yang mengetahui tanda bahaya langsung melindungi bayi yang tak berdosa dengan kekuatan yang ia miliki.


"Sial! Sejak kapan bayi ini ada yang melindungi!" batin Sarti kesal.


Sarti pun menyenggol lengan nek Sum. Nek Sum yang mengerti maksud Sarti langsung mengambil alih. Kini giliran nek Sum yang merapalkan mantra. Namun sia-sia dadanya bagai di pukul oleh sesuatu yang besar.


"Uhuk uhuk.."


"Kenapa nek minum dulu..." kata salah satu tetangga.


"Ah biasa sudah tua jadi ya gini maaf ya." jawab nek Sum.


"Alah gak papa nek kita maklum kok neh." jawab pemilik rumah.


Hati nek Sum pun merasa dongkol karena usahanya tak berhasil. Wajahnya terlihat pucat karena kalah beradu dengan Demos.


"Manusia serakah bayi tak berdosa mau kau jadikan tumbal!" ucap Demos geram.

__ADS_1


Aura hitam pekat memenuhi ruangan di mana bayi itu berada namun Demos tersenyum puas karena perlahan aura itu hilang berubah menjadi kembali putih.


Nek Sum yang merasa dadanya sesak ia berkilah untuk pamit lebih dulu dengan pemilik rumah begitu juga dengan Sarti yang mengikuti nek Sum pergi.


"Sial siapa yang berani mengganggu ku!" ucap nek Sum kesal saat berada di jalan menuju pulang kerumahnya.


"Bagaimana ini nek bisa marah tuan kita?"tanya Sarti penuh khawatir.


"Hanya satu kita harus menghadap tuan kita lagi nanti malam ayo kita pergi ke rumahnya dan katakan yang sebenarnya terjadi agar tuan iblis tidak membunuh kita." kata nek Sum.


Sarti pun mengangguk.


###


"Biasa saja pak ini berkat tuan Leo juga tanpa dia saya bukan apa-apa saya ini hanya ibarat pionnya saja." jawab Sarah merendah.


Sarah memang sibuk akhir-akhir ini di resto, ia bahkan sampai lupa bahwa Leo jarang sekali menemuinya.


Meski begitu Sarah nyaman-nyaman saja belum lagi di resto sekarang Dino dan Seto ikut membantu mereka juga bisa membawa Laras jadi tak perlu menitipkan Laras ke tetangga lagi.


Sarah juga merenovasi beberapa ruangan agar bisa di jadikan tempat istirahat berjaga-jaga bila ada karyawan yang sakit. Ia benar-benar memperhatikan karyawannya sampai ke hal paling kecil.

__ADS_1


Tak heran jik resto yang dahulu sepi kini begitu ramai meski pandemi.


"Kak Laras lapar..." rengek Laras yang tiba-tiba muncul di belakang Sarah.


"Ah baiklah kakak minta dulu ya sama pelayan kamu tunggu di sini sama pak Manager." kata Sarah.


Laras pun duduk mendekat ke arah manager kebetulan manager juga sangat menyukai anak-anak.


Sarah yang pergi ke dapur menyapa karyawan lain, ia tak mau di perlakukan layaknya bos ia lebih suka Sarah yang dulu. Karyawan lain pun juga begitu menganggap Sarah sebagai teman biasa. Jadi tak ada sungkan antara atasan dan karyawan.


"Loh bosnya kok malah di dapur?" tanya Seto yang muncul dari arah pembakaran ayam.


"Ini Laras minta makan sekalian buat pak Manager dan aku juga kalau kalian belum makan luangkan waktu untuk makan dulu kesehatan lebih penting." ucap Sarah.


Seto mengangguk. Apalagi sekarang Seto sudah naik jabatan jadi kepala karyawan sedangkan Dino masih di kasir karena otaknya sangat di butuhkan apalagi masalah uang.


"Laras ini makanannya." ucap Sarah


"Wah enakk..!" seru Laras.


Mereka pun menikmati makan siang dengan lahap.

__ADS_1


Sore hari Sarah pamit untuk pulang lebih dulu ia merasa badannya terasa sangat berat. Seperti biasa Sarah masih berjalan kaki karena jarak kontrakan dan resto tidak terlalu jauh.


__ADS_2