REMEDIAL

REMEDIAL
Obat penurun panas


__ADS_3

Mima bisa merasakan deru waktu yang kembali berputar di telinganya, saat radio klasik di rumah nenek berhasil dia nyalakan. Warta berita daerah pukul enam yang dulu menemani aktivitas sepanjang pagi, senandung alunan instrumental tradisional dari siaran Minang Saiyo mengalun sepanjang Mima mandi dan berpakaian.


“Sarapannya di sini ya, Mim, Etek ke pasar dulu, dih,” teriak Tek Na dari pintu belakang usai mengantar masakan untuk Mima.


“Jadih, Etek! Makasih,” sahut Mima dari kamarnya.


“Dah hampir setengah tujuh,” ucap Mima melihat putaran jam pada dinding kamar, maksud Mima, kenapa sudah jam tujuh Shaka belum juga datang untuk sarapan,  satu pekan ini Mima terbiasa dengan suara keributan di meja makan saat Shaka mempersiapkan makanan, terkadang mencuci piring dan melakukan pekerjaan rumah lain.


Mima membuka jendela kayu kamarnya, aroma bunga kantil yang basah, daun kemangi dan kembang sedap malam merebak masuk ke penciuman, tapi jendela rumah kebun masih tertutup rapat, pintunya juga.


Sejenak Mima melanjutkan berpakaian, sebelum memakai jilbab, tak lupa mengambil ciput hitam pemberian Shaka dan mengenakannya, sehingga jilbab yang dia pakai tampak lebih rapi, kemudian duduk dia bibir ranjang, dengan mata yang tetap awas ke arah luar jendela.


Mima hanya memulas layar gawai  tanpa tujuan yang berarti, matanya masih fokus meneliti rumah kebun yang masih juga sepi.


“Shaka kemana sih?”


Mima memutuskan untuk pergi melihat sendiri apa yang dilakukan lelaki itu, mereka bisa terlambat mengikuti jam pelajaran pertama.


Pintu tinggi rumah kebun tidak dikunci, saat Mima masuk, suasana rumah cukup gelap, penerangan sudah di matikan, hanya sinar matahari dari ventilasi menyinari dinding-dinding kayu jati yang baru dipernis, Shaka sedang bergelung di dalam kempompong selimut tebal, rebah di bangku kayu panjang ruang tamu, kakinya ditekuk karena tidak muat membujur di bangku, tubuhnya menghadap ke jendela, memunggungi Mima.


“Shaka,” panggil Mima.


Yang dipanggil memutar tubuhnya saat menyadari Mima datang, separuh selimutnya dia turunkan sehingga menampakkan tubuhnya yang hanya mengenakan kaos dalam tipis. Matanya mengerjap menangkal sinar yang silau.


“Ay,” panggilnya gemetar.


“Kamu sakit?” Mima menghampiri dan menempelkan telapak tangan ke kening Shaka yang bermandikan keringat.


“Demam nih,” sambung Mima, Shaka menjauhkan keningnya dari tangan Mima, Mima meneliti bercak merah di bawah hidung Shaka, dikelupasnya bekas yang sudah mengeras di kulit wajah.


Dari jarak  dekat Shaka memperhatikan jilbab Mima yang jauh lebih rapi, baru hari ini dia mengenakan ciput yang Shaka berikan tempo hari.


“Ini darah?”


Shaka sendiri ikut mengusap dengan ibu jarinya  sisa darah itu, dia menggeleng kemudian beringsut duduk, kepalanya terasa cukup berat, tapi dia tidak mau membuat Mima khawatir apalagi sampai berpikir untuk membawanya ke dokter.

__ADS_1


“Ay, kamu cantik,” pujinya tulus.


“Ini darah, Shaka. Kamu sakit? Aku nanya loh.”


“Iya, Kayanya memang demam. Tolong kasi tau ke kelas ya, tapi aku ngga apa-apa, kamu cukup biarin aku istirahat seharian, InsyaAllah nanti malam udah baik-baik aja, dan tolong … walau aku pinsan sekalipun, jangan pernah bawa aku ke dokter, ya. Dan jangan khawatir, aku baik-baik aja,” jelas Shaka.


Gurat risau terlihat di wajah Mima, dia coba meneliti penjelasan Shaka.


“Jangan gila, kamu, kalau aku yang diselidiki polisi gimana?”


Ekspresi tawa menggantung di wajah Shaka.


“Aku engga akan kenapa-kenapa, Ay. Ini Cuma efek dari perjalanan kita, rasanya cukup menyakitkan, kamu juga nanti akan merasakan, tapi semoga engga terlalu sakit.”


“Sebentar.”


Mima meninggalkan Shaka ke belakang dan kembali dengan membawa wadah alumunium bersama handuk kecil.


“Letakkan aja di situ, nanti aku kompres sendiri,” pinta Shaka.


Shaka mengangguk, wajahnya tampak meringis sambil memegang bagian belakang lehernya yang rasanya hampir lepas saking sakitnya.


“Mau aku ambilkan obat?” Mima benar-benar khawatir melihat kulit gelap Shaka berubah kuning pucat, raut wajahnya juga tampak begitu tersiksa.


“Obat? Memang kamu punya obat apa selain bodreksin sama madu sasetan?” Meski sedang menahan linu di beberapa bagian tubuh dia masih sempat meledek Mima.


“Haha, aku engga suka rasa pahit.”


“Terlalu banyak menelan pahitnya kenyataan?”


“Jangan ngeledek, deh,” cebik Mima, “Hei, Kalau memang ini efek perjalanan, kenapa kamu harus repot ikut ke sini sih?” tanya gadis itu.


“Setiap orang yang mau kembali ke suatu masa, pasti ada tujuannya, seperti kamu yang punya tujuan demi syarat beasiswa Oxford dari kemendikbud kan?”


“Lalu kamu kenapa ikut segala?”

__ADS_1


Shaka menegakkan sandaran duduknya, tajam dan lekat menatap manik hitam mata Mima.


“Em gimana ya, seperti yang aku pernah bilang, di masa depan nanti aku adalah sosok yang tidak terlalu menyenangkan. Ya, misi aku semacam menciptakan kenangan lah. Juga, biar kamu sungguh-sungguh remedial, andai kamu tau repotnya masa depan tanpa bekal ilmu agama yang benar.”


“Aku punya ilmu agama yang mumpuni, Pak Fauzi ja yang tega kasi nilai C padahal nilai ujiannku hampir seratus tuh,” protes Mima.


“Kamu benar tentang Ilmumu yang mumpuni, tapi keliru tentang Pak Fauzi. Beliau melakukan hal itu pada semua siswa didikannya, itu karena tanggungjawabmu terhadap ilmu itu, Ay,” jelas Shaka.


“Tetap aja apa yang Pak Fauzi lakukan kepadaku itu jahat. Menunda cita-cita dan impian seorang yatim piatu hanya karena nilai C. Padahal urusan amal udah bukan ranah seorang guru.”


Shaka tersenyum mendengar penuturan jujur dari Mima, sedikitnya dia memahami keinginan keras gadis itu akan kelangsungan pendidikannya.


“Gadis yatim itu ibarat tanaman liar, tumbuh sendiri di antara bunga hias di dalam pot yang disirami kasih sayang setiap hari, andai dia mekar dan tumbuh cantik seperti bunga lain, kenapa ada manusia macam Pak Fauzi yang tega mencabutnya dan membiarkan si bunga tidak mendapatkan kebaikan dari sari pati tanah?”


“Ssut!” Shaka menempelkan jari telunjuk ke bibirnya sendiri, Mima masih keliru tentang filosofi bunga liar itu.


“Analogimu kurang tepat, Ay,” hibur Shaka.


“Apa? Sejak kecil memang aku terbiasa kehilangan, aku berusaha menjadi yang terbaik agar bisa mencapai impian dengan usahaku karena aku sadar aku tidak bisa bergantung pada siapapun! Tapi, Pak Fauzi …”


“Ayumna cantik, cukup … ngga boleh gibahin guru sendiri, hilang nanti keberkahan ilmu,” ingat Shaka, “kehilangan itu hakikat hidup, ngga ada hubungan sama Pak Fauzi, hehe.”


Mima bungkam, malas melanjutkan perdebatan. Bagi Mima Shaka tidak akan pernah mengerti usahanya selama ini, betapa dia kecewa dan rasanya ingin bunuh diri saat alasan kegagalanya hanya karena nilai C itu.


“Pak Fauzi hanya menjalankan tugasnya sebagai pendidik, tapi ya … Begitulah, setiap manusia pasti pernah jadi antagonis dalam naskah hidup orang lain.”


Deru sepeda motor berhenti di depan halaman utama, Mima dan Shaka saling berpandangan, sepertinya mereka kenal benar dengan pemilik kenalpot itu.


“Dijemput lagi?” tanya Shaka dengan tatapan tidak suka.


“Aku berangkat, ya.” Mima mengeluarkan sesuatu dari tasnya, “ini kalau demamnya gak turun juga kamu makan sekaligus tiga aja.” satu kotak obat berwarna oren Mima tinggalkan di meja.


Gadis itu lalu menyandang kembali tasnya dan pergi meninggalkan Shaka, yang ditinggalkan tersenyum memegang kotak obat bergambar buah jeruk andalan Mima.


Kamu kasi aku pereda demam, padahal kamu juga yang bikin aku kepanasan.

__ADS_1


__ADS_2