
Lima hari berlalu setelah pertemuan dengan Fara, Mima sangat bahagia, walau dia khawatir apakah Fara terganggu dengan pertemuan mereka? Mima sendiri mulai mengakrabkan diri, setelah meminta nomor ponsel Fara. Dia semakin senang, karena Fara ternyata juga menyimpan kontaknya. Mima bisa melihat aktivitas yang Fara bagikan di whatsapnya.
Fara membagikan banyak hal di sana, hampir setiap postingan Fara dikomentari oleh Mima, walau tidak semua komentar langsung dibalas oleh teman lamanya itu.
Petang itu tangan Mima berkeringat usai menyelipkan jarum kecil demi merapikan jilbab yang dia kenakan. Cermin menampilkan bayangan dirinya yang mengenakan kaftan putih tulang yang tampak sangat serasi dengan hijab biru mudanya.
Hari ini dia begitu gugup, Mima mengira itu adalah faktor pemilihan warna pakaiannya, setelah sekian lama dia hampir tidak pernah memilih warna seterang ini. Mima si ‘cewek mamba’ sejati hari itu belajar menghidupkan semangatnya melalui warna.
Sambil memeriksa kembali isi tasnya, Mima duduk di sebuah kursi kayu yang ada di samping tempat tidurnya. Kemudian Mima mengambil paper bag besar berisi hadiah darinya untuk Fara dan calon suaminya.
Mima mulai memulas layar ponsel, membuka laman aplikasi taksi online yang akan dia pesan. Namun gugup yang dia rasakan tidak juga reda, berganti menjadi cemas yang membabi buta. Padahal dia hanya akan hadir sebagai tamu undangan, tapi rasanya seperti dia yang akan dilamar, bahkan lebih dari itu.
“Tarik nafas, hembuskan…” Mima memberi istruksi pada dirinya sendiri. Dia menarik nafas perlahan kemudian meniupnya, berulang beberapa kali.
“Kamu kenapa, Mima? Ini acara lamaran, Fara, bukan acara kamu! Kenapa kamu yang cemas seolah kamu takut mempelai priamu lari dari pertuangan ini?” katanya pada diri sendiri.
“Apa, kamu juga ingin dilamar? Kamu lupa ya, sepanjang hidupmu, kamu belum pernah benar-benar diinginkan seseorang. Lantas siapa yang akan melamarmu? Salahmu, kenapa selalu jatuh hati dengan orang yang sudah termiliki?”
“Mima Ayumna, kalau menurutmu kamu sudah selesai remedial, kamu salah besar. Sekarang kamu baru akan diuji, Mima. Kuat… ya!”
Perlahan rasa pilu merayap, rata ke sekujur tubuhnya usai berdialog dengan sendiri.
Kemudian dia fokus lagi ke laman aplikasi, baru saja Mima akan menginput alamat yang Gilang berikan padanya, pop up jendela notifikasi di ponsel malah menampilkan satu pemberitahuan baru dari Instagram. Jempol Mima reflek mengetuk baris itu sehingga menampilkan laman sebuah permintaan pesan dari akun yang asing.
__ADS_1
Noname: Ayumna, kamu masih punya hutang cerita.
Tidak sulit untuk mengambil kesimpulan bahwa yang mengiriminya pesan adalah Ahsan Eshaka. Kondektur yang sangat menyebalkan untuk Mima baik di alam gaib maupun alam nyata.
Rasa gugupnya bertambah, ternyata sejak tadi hatinya tidak sedang berdebar karena akan menghadiri pertuangan Fara, tapi memberi petanda bahwa akan mendapat sebaris pesan dari Shaka, ternyata kecemasannya tidak berasal dari warna biru, tapi percikan dari rasa rindu.
Apa yang membuatmu penasaran dengan cerita dariku, Shaka? Sebentar lagi kamu akan punya cerita baru. Dan tidak ada aku di sana. Kalaupun ada, bukan aku pemeran utamanya.
Perlahan pedih menyerap lagi, menyusuri setiap inchi arteri, Mima kembali mengingat hampir setiap detik pertemuan pertama sekaligus terakhirnya dengan Shaka. Dia masih sangat hafal setiap pertanyaan yang dia ajukan, dan setiap jawaban yang Shaka lontarkan.
Oh tidak, Mima juga hafal setiap momen mereka mengambil foto bersama. Sejak Shaka pergi, Mima selalu memeriksa galeri foto di ponselnya, tapi tidak ada satupun yang tersimpan di sana. Semua foto selalu diambil dari HP Shaka.
“Kamu dan air terjun yang tertuang dari tebing tinggi itu, seketika jadi pesona paling sejuk dimataku,” kata Shaka sebelum memotret dirinya dari samping air terjun lembah Anai.
Masa lalu pada bagian yang menyenangkan adalah energi. Mima meyakini bahkan kalau memungkinkan ingin dia tulis, bahwa cinta punya banyak energi dan bisa hidup lintas dimensi.
Mima ingat setiap detail yang melekat pada pria itu, mulai dari seragam kondektur dan topi petnya, baju koko putih, peci, alas kaki hingga handuk kecil yang melilit pada lehernya setiap Shaka usai jogging dan muncul di jendela dapur rumahnya.
Sejak Shaka pergi, nyaris tidak satupun hari berlalu tanpa mendengar suara Shaka di kepalanya, ekspresinya saat melepas tawa dan banyak clue yang sebenarnya dia berikan tapi terlambat disadari Mima.
“Bahkan kalau kamu punya seribu khilaf, aku masih punya seribu maaf,” kenang Mima lagi tentang kalimat Shaka setiap kali memaafkan kesalahan Mima.
Hal itu membuat Mima belum mampu berdamai dengan semua kata “andai” di hatinya. Andai waktu itu dia tidak mengabaikan Shaka, andai dia lebih cepat menyadari hakikat remedialnya, atau andai Shaka sekalian tidak usah ada dalam perjalannya.
__ADS_1
“Andai Farhana ingat hari itu, dia pasti geli mengingatnya, bahwa dia pernah sangat agresif mengejar Shaka. Andai Farha ingat pasti dia juga mengakui, betapa mengagumkannya sosok kondektur yang menyamar jadi anak MA waktu itu.
Sesaat kemudian, lilin kecil di hati Mima menolak padam. Walau pendarnya akan harapan tentang Shaka mulai memudar. Mengingat kembali hari-hari itu justru membuat kobar perasaanya kembali membesar.
“Tapi ini hari Sabtu, Mima!” Suara hatinya mendadak terdengar kurang ajar. Seperti sengaja mengingatkan bahwa hari ini dia pernah diundang. Diundang untuk meniup lilinnya sendiri.
Mima mengatur deru nafasnya dengan kasar, demi menahan laju air matanya yang siap tergelilncir kapan saja, Memberi komando pada jari-jarinya untuk mengetik pesan balasan si akun aneh yang sepertinya sengaja dibuat untuk mengirim pesan pada Mima, karena akun asli orang itu sudah tidak punya akses menghubungi Mima.
Mima : Lupakan saja, Pak Kondektur. Kita tidak sengaja bertemu di gerbong siang itu. Aku salah orang. Tidak ada cerita apapun, tidak ada hutang.
Mima tersenyum getir membayangkan saat ini Shaka pastilah sedang mengenakan jas hitam, Navy atau abu, potongan rambutnya yang selalu rapi, tersenyum berjalan menghampiri calon istri yang sesungguhnya.
Shaka : Aku terlanjur mencatat semua dalam ingatan, dan aku yakin, di dunia ini tidak ada satu hal pun yang layak disebut “kebetulan.”
Sesaat hanya ada senyap setelah membaca pesan dari Shaka, harus berapa banyak lagi dialog lelaki itu yang harus Mima simpan sebagai kenangan bijak di kepala?
Tentu Shaka tidak akan pernah lebih dari itu, sebijak apapun untaian kata yang dia kirimkan, kenyataanya sekarang Shaka sedang memandangi hidup dan masa depan yang akan diajalaninya.
Mima menghindari layar ponsel itu, seolah sedang menghindar dari tatapan Shaka.
“Melepaskan tanpa pernah menggenggam, aneh… tapi aku baru saja merasakannya. Selamat berbahagia, Shaka.”
Mima membiarkan pesan itu hanya terbaca dan tidak berniat membalasnya.
__ADS_1