REMEDIAL

REMEDIAL
Kamu adalah kemeriahan


__ADS_3

Aku  menyentuh dadaku sendiri, masih menunggu Ayumna yang terdiam hampir tanpa ekspresi. Dia mungkin kaget, jelas saja, tapi entah kenapa, aku tidak ingin memaklumi, ingin segera mendengar jawaban dan hanya ingin mendengar jawaban yang baik.


Bukankah dia yang datang secara misterius di gerbong kereta dan membuat cerita bahwa aku adalah suami masa depannya? Sekarang aku ingin mempercayai cerita itu, aku juga ingin menjadi masa depannya. Jadi dia tidak boleh menolak kesungguhan ini.


Lebih dari itu, aku masih sangat ingin mendengar cerita-ceritanya yang lain. dan entah dari mana perasaan yang sekarang bersarang di hatiku, yang membuatku merasa mantap dan kian menuntunku, untuk yakin bahwa siapapun Mima Ayumna Lenkara ini, sesuatu yang dia ceritakan tentang masa depan atau masa lalu tentang kami, semua itu, pasti bukan sesuatu yang buruk. Sekalipun manusia normal akan meragukan apa yang dia ucapkan di gerbong kereta, sore itu.


“Bagaimana?” Mungkin terdengar sedikit mendesak.


“Saya bersedia,” jawabnya, menggetarkan jagat rayaku.


“Alhamdulillah!” Etek dan Mama serentak menyeru, dua wanita itu meraup wajah mereka dengan kedua telapak tangan, serupa para ibu yang sedang meng “Aamiin” kan sesuatu.


Pandanganku dan Ayumna bertemu, sedetik kemudian kami sama-sama tertunduk malu. Kurasa baik aku, pun Ayumna, sama-sama tidak menyangka bahwa hari ini akan ada. Aku gembira akhirnya lamaran ini resmi diterima.


“Ay, terimakasih.” Semoga dia tidak sadar perihal pita suaraku yang bergetar saking senangnya.


***


Esoknya aku berangkat ke luar kota, tapi hatiku telah kutitipkan di kampung halaman, di rumah Ayumna.


Sambil merajut perasaan, kami mulai mempersiapkan segala sesuatu menuju hari pernikahan. Aku, em lebih tepatnya Mama menginginkan sebuah pesta pernikahan yang megah sebagai representasi kebahagiaan yang melimpah ruah saat menerima anggota baru dalam keluarga. Keluarga kami sebentar lagi tidak hanya terdiri dari dua anggota, tapi akan ada tiga, empat, lima atau lebih?


Mama ingin semua orang melihat betapa dia sangat berbahagia atas kehadiran Ayumna sebagai istri dari semata wayangnya.


“Kata siapa mama akan menyambut menantu? Mama ingin menyambut anak perempuan Mama yang baru,” katanya selagi  mengamati katalog yang disodorkan vendor kami. Kalimat yang serupa ancaman, bahwa kehadiran Ayumna akan menggantikan posisiku di hati Mama. Sudah terbayang dua perempuan akan bersekongkol menjatuhkanku jika aku berbuat kesalahan sedikit saja.


***


Saat hari pernikahan semakin dekat, aku semakin sering mendapatkan tugas ke luar kota, hanya sesekali bisa pulang, dan selalu kugunakan kesempatan itu untuk bertemu dengan calon istriku.


Seperti malam ini, setibanya dari Jakarta, aku menjejak  rumah Mama jelang pukul delapan malam, benar-benar hanya mengganti pakaian dan meminta izin kepada Mama untuk langsung ke rumah Ayumna, pasalnya, setengah jam yang lalu Ayumna mengirim pesan kepadaku tentang ketidak setujuannya  dengan salah satu pemikiran Mama tentang persiapan pesta pernikahan kami.


Lelah tentu saja, tapi membiarkan gadis itu bersungut sendirian, ku rasa malah efeknya akan lebih besar dari sekedar lelahnya pekerjaan. Ayumna sudah berada di depan pintu saat mendengar suara mesin mobilku berhenti.


Dia tersenyum menungguku di pangkal tangga, ekspresi yang membuat rasa lelahku lenyap setengahnya.


“Padahal bisa dibicarakan besok loh,” katanya mempersilakan aku naik ke teras. Tadi dia memang sudah mengirimkan pesan bahwa aku tidak perlu langsung datang, dan dia bisa menunggu besok untuk membicarakannya. Setengah ingin menyelesaikan masalah, setengahnya lagi memang rasa kangenku yang tidak mau kalah.


“Emang sengaja pengen ketemu kamu, kok.”


Kata orang, hari-hari jelang pernikahan merupakan waktu yang sangat kursial, tidak sedikit pasangan yang menyerah dengan masalah-masalah yang datang di waktu-waktu seperti ini.


Kisahku dengan Tiara misalnya, berakhir di detik-detik terakhir jelang akad. Dan berdampak besar terhadap perasaan Mama. Aku hanya berusaha mengantisipasi agar Ayumna tidak merasa dibiarkan sendiri dan mengambil keputusan sepihak.


Sejak hari kedekatan kami, aku tau, Ayumna adalah sosok perempuan dewasa yang bisa menyikapi segala konflik dengan cermat dan bijaksana. Hampir tidak pernah kudengar dia mengeluh atau mengomel panjang lebar, Jadi saat  satu kali saja menunjukkan protesnya, bisa kuartikan dia sedang butuh teman bicara.


Aku duduk di kursi rotan yang ada di depan teras rumahnya.


“Aku ambilkan minum dulu, ya.”


“Sekalian makanan, ya, Ay, aku laper. Terakhir makan jam 11.00 siang tadi.”

__ADS_1


“Kamu makan sapi? Aku bikin sop iga sore tadi.”


Susah payah aku mendorong air ludah ke tenggorokan mendengar menu makanan yang Ayumna tawarkan. Tapi lebih dari itu, yang membuatku semakin tidak menyangka adalah, Ayumna tidak menunjukkan wajah kekesalan sama sekali, padahal aku datang untuk mendengar keluh kesah dan lelahnya dia selama aku pergi.


“Mau!” kataku setengah memelas.


***


“Gimana pekerjaan kamu?” tanyanya setelah aku selesai menikmati satu mangkuk sup iga segar terlezat seumur hidupku.


“Awal bulan depan aku akan diangkat menjadi penyelia.”


“Penyelia?”


“Setingkat supervisor, jadi supervisor untuk para kondektur,” jawabku singkat. Dia mengangguk.


“Belum menikah denganmu saja aku sudah naik jenjang nih. Berarti kehadiran kamu adalah berkah untuk kehidupan kita.”


“Aamiin, tapi apa iya begitu?”


“Iya, tau!” jawabku serius.


Ayumna baru saja akan mengutarakan pernyataan lain tentang sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Namun beberapa detik berlalu begitu saja dan dia masih tampak mempertimbangkan kata yang akan dia keluarkan, baik, Ay. biar aku saja yang bicara.


“Maaf ya, akhir-akhir ini jadi sibuk, kamu pasti kewalahan ya memeprsiapkan segala sesuatunya?” Kuubah sedikit posisi kursi sehingga berhadapan dengan Ayumna hanya dibatasi satu meja kecil diantara kursi rotan kami. "Ada yang nggak sesuai dengan keinginan kamu?"


“Shaka, Maaf… tapi rancangan mama kamu,” tuturnya hati-hati.


“Sebentar, aku kurang senang mendengar kamu bilang Mama kamu, mama kamu begitu. Gimana kalau kita sebut saja ‘Mama’,” protesku sedikit. Aku merasa ada Gap yang besar kalau Ayumna hanya menganggap Mama adalah mamaku, bukan Mamanya. Ya walaupun secara resmi dia belum menjadi menantu, tapi Mama sudah sejak kapan hari menganggap Ayumna adalah anak perempuannya.


“Iya, Bagaimana?”


“Menurutku, terlalu berlebihan. Tadi siang Mama bilang jumlah undanganya tiba-tiba jadi 5.000 orang.” Ayumna panik, matanya yang besar semakin membesar saat membayangkan jumlah undangan yang menurutnya berlebihan itu.


Sejak awal, Ayumna mengutarakan keinginananya untuk membuat privat party yang hanya dihadiri orang-orang terdekat. Tamu undangan dari pihaknya bahkan tidak lebih dari 100 orang.


“Waktu itu aku sudah deal dengan 3.000 undangan, tapi tadi siang mama bilang jadi 5.000. Aku shock.” Ayumna tidak sedang mengada-ada, wajahnya memang terlihat khawatir, seolah 5.000 orang itu adalah zombie yang akan datang untuk menyerangnya.


Kalau dilihat-lihat, dia memang perempuan yang tidak punya banyak circle pertemanan, menurut cerita Tek Da malah baru-baru ini saja Ayumna aktif bertinteraksi dan berbicara dengang orang di sekitar.


Segala sesuatu yang Ayumna persiapkan selalu ada filosofinya, alasannya selalu sakral dan masuk akal. Tapi keinginan Mama juga kuanggap masih manusiawi, mengingat niatnya adalah untuk mengabarkan pada dunia tentang kehadiran anak perempuan di hidupnya.


“Nanti aku coba bicara lagi sama mama ya, Ay.”


“Terimakasih ya, Shaka." Gurat lega tampak di wajah cantiknya.


“Kamu jangan gusar-gusar, ya!” Aku menopang dagu dengan sebelah tangan dan berucap selembut mungkini di hadapannya.


“Apaan sih?”


“Ay,” panggilku, Ayumna menoleh tanpa menjawab.

__ADS_1


“Calon suami kamu ini, Cuma laki-laki biasa, aku sama seperti lelaki pada umumnya, yang tidak punya ilmu hitam untuk bisa menerawang kedalam hati wanitanya. Aku juga tidak terlalu jago tentang kejiwaan dan emosi, sehingga aku tidak mampu menerka-nerka kode-kode tertentu. tapi aku tau, kamu perempuan dewasa yang tidak sulit untuk terbuka tentang segalanya. Apapun yang kamu rasakan, apapun yang ingin kamu sampaikan. Aku akan mendengarkannya.”


Ayumna mengangguk, semoga dia benar-benar mengerti ucapanku ini dan akan tetap mengerti walau sedang dalam keadaan emosi, suatu hari nanti.


“Kata teman-temanku yang sudah menikah, para lelaki selalu menyebalkan. Tapi aku akan mengurangi kadar menyebalkan dalam diriku sebagai suamimu, nanti.”


“Apaan sih!” Ayumna mengibaskan telapak tangannya di depan wajahku. Dasar perempuan dewasa, dia tidak mempan mendengar janji klasik seperti itu.


Kerikil kecil saat mempersiapkan pernikahan kami tidak berakhir di malam itu. Jelang pernikahan, masih sangat banyak hal-hal yang menjadi penguji keseriusan kami. Terutama masalah adat istiadat yang masih dijunjung tinggi keluarga dan kerabat Ayumna.


Dari semua barisan masalah yang ada, tidak aku temukan apa-apa, kecuali... sosok Mima ayumna Lenkara yang cerdas, Anggun dan bijaksana menghadapi segala sesuatunya.


Dia tidak seperti perempuan pada umumnya yang  akan dengan mudah menggerutu, mengomel dan penuh protes tanpa solusi, apalagi sampai mendiamkanku.


Aku semakin mengenal bahwa calon istriku adalah wanita matang luar biasa, yang memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan tepat dalam situasi-situasi yang sulit, serta mampu menghadapi kesulitan dengan kebijaksanaan dan keberanian, namun tidak sedikitpun mengurangi hormatnya terhadaporang yang lebih tua.


Dari mana dia dapatkan kebijaksanaan itu?


Sikap  yang mengikis seluruh keraguan dan membangun penuh sebuah keyakinan bahwa Ayumna adalah perempuan terbaik untuk hidupku. Sehingga hanya dengan satu kali tarikan nafas aku berucap penuh keyakinan.


“Saya terima nikahnya Mima Ayumna Lenkara binti Rizal dengan mas kawin tersebut, tunai!”


Sejak hari pertama kujemput Ayumna, seluruh rasa bahagia serta-merta menyerbu hati kami.


***


Kututup ringan pintu yang ada di belakang kami, Aku dan Ayumna yang sedang berada di dalam kamarnya, tanpa penyejuk udara, namun aroma keranuman seorang gadis membuat malam ini jadi terlalu segar.


Ayumna tersenyum dalam dekapan, persis setelah kukecup keningnya dalam, berulang. Dia pasti sudah tau, aku tidak akan membiarkan malam ini berlalu tanpa terjadi sesuatu.


“Apakah kamu juga menyaksikan hal seperti ini saat kamu berada dalam perjalanamu waktu itu, Ay?” kataku sesaat setelah berhasil mengunci pandangannya tepat berada di bawahku.


Lalu gadisku menggeleng pelan, “Tidak,” katanya.


“Baiklah, berarti indah dan nikmatnya malam ini memang belum pernah terbayangkan oleh kita sebelumnya.” Aku semakin kehilangan “sabar” dan “sadarku” selama menatap sekujur wujud yang semakin kudamba.


Aku memulai sentuhan, selembut sorot mata yang membelai kelaki-lakian ini. Rintih, erang juga lenguh terlepas begitu saja, mengaum menjadi sebuah keseimbangan melodi cinta kami malam itu.


Ritme yang semakin tak terkendali, sengal nafas yang kian menanjak berat dan menjerat, namun anehnya membuat raga yang terlanjur menyatu ini  terasa semakin ringan, kami Bersiap-siap untuk benar-benar melayang, merayakan nikmat yang asing, yang setelah malam ini akan kami rasakan lebih sering.


Aku semakin memusatkan pikiranku, memandang sorot matanya yang terpejam dan terbuka sesekali, kesan pertama ini harus tanpa cacat sedikutpun.


Hingga saat semua rasa bergumul dan hampir sampai di titik tertinggi. Bola matanya yang indah akhirnya terbuka cukup lama, membelalak menerima hangat dan lembab yang dengan rela, kualirkan sempurna ke dalam sebuah tempat paling mulia di dalam tubuh seorang wanita. iya, rahim,  tempat anggota keluarga baru kami akan hidup di sana.


“Shaka...” rintihnya tanpa malu-malu lagi. Saat nama itu dia sebutkan, saat itu pula aku merasa telah menjadi tangguh dan utuh sebagai laki-laki.


Kusampaikan kecupan yang tidak kalah hangat seperti kecupan pertama tadi. Menyiratkan ucapan terimakasih atas penerimaannya malam ini. Akhirnya, kami rebah  bersisian, mengatur nafas dan mengeringkan peluh masing-masing.


“Ay, terimakasih,” jari-jari yang masih bergetar ini membelai wajahnya yang  merona manis usai pergumulan kami.


“Selamat merayakan cinta.” Ayumna kembali malu-malu.

__ADS_1


“Selamat merayakan cinta, Sayang. Merayakan cinta tidak hanya dalam waktu senang, tidak musti karena ada pencapaian. Karena hadirmu dalam hidupku saja, merupakan sebuah kemeriahan.”


Malam itu masih cukup panjang, kami memilih berbincang tentang rancangan hidup masa depan.


__ADS_2