
Jakarta 2019, 21 hari yang lalu
Setelah menerima email penolakan beasiswa, Mima yang malam itu sudah beruforia dan tidak sabar ingin menunjukkan keberhasilannya pada Dheo, seketika jatuh ke lantai.
Sementara Dheo menghubunginya melalui fitur panggilan Instagram. Mima malu sekaligus bingung apa yang ingin dia tunjukkan agar lelaki cinta pertamanya itu menaruh perhatian padanya, satu-satunya yang ingin Mima pamerkan justru sudah kandas dengan email penolakan.
Gadis itu terduduk di lantai, menuang air putih dan meminumnya untuk menenangkan diri, tapi bukannya tenang tubuhnya malah semakin berimajinasi kian tinggi. Mima heran, padahal yang diminumnya hanya air putih, kenapa dia jadi mendadak mual.
Bukannya berhenti, Mima meminum semua air putih yang ada di sana, sekitar enam botol kemasan 1.5 liter. Yang terjadi selanjutnya adalah dia mengalami muntah hebat, mulutnya keluar busa, mulai kejang dan tidak sadarkan diri.
“Aku telpon kamu ratusan kali dan cari lokasi kamar kamu, aku tekan bel dan ketuk pintu, kamu nggak jawab. Ya … aku pikir memang kamu cuma bercanda tentang pengen ketemuan malam itu,” ungkap Dheo. Mima masih berusaha mencerna kalimat demi kalimat Dheo dan mulai Menyusun runtut ingatannya.
“Sampai besok siangnya, pas aku pulang dari Meet And Greet itu ada kehebohan di hotel, mereka ngecek kamar yang harusnya check out siang itu dan nemuin kamu. Siang itu heboh, pas aku tau itu nomor kamar kamu, aku juga kaget dan ikut memastikan. Ternyata benar, kamu ...”
Tek Na masih menangis mengusap-usap lengan Mima sambil mendengar ulang cerita dari Dheo.
“Kamu udah biru waktu di bawa ke rumah sakit, semua orang pikir kamu overdosis obat-obatan, tapi kata dokter kamu OD air putih, Mim. Memang malam itu aku lihat banyak botol air putih kosong di sekitar kamu.”
Mima jadi merasa bodoh, kenapa harus bunuh diri dengan air putih? Tapi malam itu dia tidak berniat bunuh diri, dia justru ingin menanngkan diri.
“Dheo nan manjago Mima salamo di Rumah Sakik Jakarta, inyo juo nan meminta Mima dirujuk Ke M Jamil, Padang,” ucap Tek Na dalam isaknya.
“Setelah dua minggu koma, sama sekali tidak ada kemajuan dan perubahan pada kamu. Rumah sakit udah bilang nggak ada harapan, Mim, makannya Tek Na minta kamu pulang ke rumah. Kita seneng banget kamu akhirnya sadar, Alhamdulillah. Apa yang kamu rasakan sekarang?”
Mima terdiam mencoba mencerna potongan kejadian dari Dheo dan Tek Na dan menghubungkan dengan perjalanan yang dia alami.
Dia yakin semalam bukan mimpi, dia yakin Shaka bukan halusinasi dan bayangan saat sedang koma. Gadis itu refleks duduk kembali.
“Tek, Mima ndak koma do,” desaknya (Tek Mima tidak koma)
“Iyo … iyo, Sayang. Mima ndak koma, Mima lalok se nyo.” (Iya … iya, Sayang. Mima tidak koma, Mima hanya tertidur)
Mima sama sekali tidak merasa dia tertidur selama itu, dia benar-benar berangkat dan menajalankan bagian demi bagian remedialnya kemarin.
__ADS_1
Kereta api, nilai Fiqih, Pak Fauzi dan … Shaka.
“Etek, Shaka beneran ada, bukan mimpi!”
“Shaka sia?” Lagi-lagi Tek Na bingung siapa Shaka yang Mima maksud.
“Pertemuan kita kira-kira satu bulan lah setelah malam di hotel itu.”
Mima teringat potongan kalimat Shaka dalam pertemuan mereka. Mima yakin dia sungguh akan bertemu dengan lelaki itu. Shaka bukan mimpi, Shaka bukan halusinasi, Mima sangat ingin bertemu dengan dengan lelaki itu lagi. Shaka adalah bagian dari remedial kemarin.
Mima merasa perjalanan remedial adalah nyata, dia sungguh-sungguh berada di dalam dimensi itu, dia makan, minum, tidur, belajar, bermain, jalan-jalan ke tempat-tempat indah, belajar beribadah dan memperbaiki hal-hal yang keliru dalam hidupnya, semua sungguh terasa ada.
Tidak satu garis pun dia lupa dari bentuk wajah lelaki Bernama Ahsan Eshaka, lesung pipinya adalah yang paling ketara di wajah manis itu. Sorot mata teduhnya, bahkan aroma malaikat subuh yang menguar setiap kali dia mau pergi ke surau.
Kalau memang pertemuan kita satu bulan setelah malam itu, dan sekarang sudah 21 hari … itu artinya pekan depan kita akan ketemu. Tapi … tapi di mana? Kamu nggak ada di sini, Shaka.
“Di Perjalanan yang sangat kamu inginkan.”
Kalimat itu kembali terngiang.
Raung hatinya.
“Tek, Mima mau pulang ke Jakarta!” tukasnya kepada Tek Na.
Tapi Tek Na dengan tegas melarangnya, mengingat kondisi Mima yang masih mengkhawatirkan. Mima mengalah dan bersedia pemulihan beberapa hari di rumah.
“Dheo, bawa lah Suli dan anak-anak kamu besok, Etek mau membuat doa syukuran,” ucap Tek Na kepada Dheo.
Mima awas mendengar percakapan itu, ternyata benar, Suli adalah wanita yang malam itu datang menggantikan posisi Mima dan sekarang dia adalah istri Dheo.
“Baik, Tek. InsyaAllah,” jawab Dheo, “Mima … kita semua senang kamu sudah sadar, semoga cepat pulih.”
“Makasih.” Jawab Mima ketus tanpa melihat ke arah Dheo, Dheo mengernyit.
__ADS_1
Selama ini gadis di hadapannya selalu ramah bahkan cenderung terlalu ramah, mereka bahkan janjian untuk bertemu malam itu. Mima selalu bersikap manis padanya, namun siang ini tatapan itu penuh dengan kebencian yang entah apa sebabnya, Dheo tidak mengerti.
“Ya sudah, aku pulang dulu!” Dheo pamit.
“Dheo!” panggil Mima membuat Dheo menoleh lagi.
“Apa benar Pak Fauzi sudah meninggal dunia?” tanya Mima hati-hati.
“Lha, kamu belum tau? Beliau meninggal dunia setelah kita kelulusan, Mim.”
Air mata Mima jatuh, dia semakin yakin apa yang dia saksikan beberapa waktu yang lalu sungguh bukan halusinasi.
“Inalillahiwainnailaihirajiun.” Matanya dia pejamkan untuk membiarkan manik bening mengalir bebas ke pipi.
***
Setelah membersihkan diri, Mima menatap wajahnya di cermin, tubuh kurusnya terlihat semakin kurus saat ini. Dia baru pulang dari takziah dan mengunjungi keluarga Pak Fauzi, meminta maaf atas semua kebencian yang selama ini dia bawa, saking tidak pedulinya, dia bahkan tidak tau wali kelasnya itu sudah tidak ada.
Mima ingin memakai pashmina kesayangannya untuk acara syukuran malam ini, dia mencari ciput hadiah dari Shaka kemarin, tapi tidak ada di mana-mana.
“Kok bisa hilang sih?” keluhnya.
“Shaka, kamu siapa? kamu beneran ada atau beneran ghoib?”
Mima duduk di meja baca, membuka galeri di ponselnya dengan terburu-buru, mencari sesuatu di sana. Berharap menemukan foto Shaka, mengingat selama remedial mereka sering foto berdua. Dia akan menunjukkan pada Tek Na, barangkali Tek Na mengingat sesuatu dari wajah itu dan mendapat petunjuk tentang lelaki itu.
“Nggak ada satu pun?”
“Ya Allah aku baru ingat selama ini kalau foto selalu pakai HP kamu kan? aku selalu nggak mau ada foto kita di HP aku!” sesalnya.
“Mima!” Suara Tek Na menginterupsi lamunan gadis itu.
“Mima ke sana, Tek!” sahutnya.
__ADS_1