REMEDIAL

REMEDIAL
Bersedia?


__ADS_3

“Tapi dia bilang ndak akan lama, ayo masuk dulu ke dalam,” sambung si Etek, menghapuskan pikiran buruk yang tadi sempat menyergap.


Mama mengikuti langkah Etek, dengan anggun menjejaki satu persatu anak tangga menuju teras rumah Ayumna, sembari mengedarkan pandangan ke sekliling halaman. Aku memarkirkan sepeda di tempatnya, baru kemudian menyusul Mama.


Aroma lembur oud wood dari pengharum ruangan otomatis, memenuhi rongga penciuman, setelah Etek membukakan pintu kayu rumah Mima untukku dan Mama.


Etek mendorong jendela kayu super lebar yang ada di sana, ruang tamu yang luas itu serta merta menjadi terang, dan hangat disinari matahari pukul sepuluh pagi, tampaklah segala sesuatu yang tertata kemas dan rapi di ruangan itu.


Dengan gerakan sangat perlahan, Mama menduduki kursi kayu jati yang diberi busa lembut wanra putih tulang, aku mengikut, duduk di sebelahnya.


“Ini rumahnya Mima, Ni?” tanya Mama setelah sempat mengamati bagian-bagian yang rapi, bersih tapi cukup klasik untuk seorang gadis di masa sekarang.


“Iya, Ni, Mima tinggal di sini.”


“Tinggal sendiri?” cicit Mama hampir tidak terdengar.


Etek hanya tersenyum, sepertinya dia baru saja akan menjawab saat kami sama-sama mendengar derap suara langkah menapak di undakan anak tangga.


“Nah itu sepertinya dia udah pulang.”


Mama refleks menoleh ke arah pintu depan, sedangkan aku sigap berdiri, diam-diam menghela nafas lega.


“Assalamualaikum,” setengah terkejut, Ayumna mengucap salam dengan lembut.  Matanya memandangku dan mama bergantian. Kulihat Mama mengangguk sedikit sambil tersenyum kecil.


“Waalaikumsalam.” Mama menjawab salam Ayumna.


Tubuh tinggi Ayumna dibalut outfit santai, bukan pakaian yang digunakan untuk berangkat ke luar kota. Jadi anggapanku bahwa Ayumna melarikan diri jelas salah total. Tangan sebelah kanannya menenteng tas kertas berwarna merah menyala.


Mima berjalan mendekat ke arah kami. Meski belum bertanya apapun, dengan sopan dia mengamit tangan Mama dan menciumnya.


“Maaf ya saya lama.”

__ADS_1


“Tidak... tidak. Kami juga baru saja tiba,” sahut Mama. Apa aku tidak salah lihat saat menangkap binar di mata Mama?


“Kamu dari…”


“Ini.” Mima mengangkat tentengannya sedikit lebih tinggi hingga tulisan merk di pape bag itu terbaca, “Kalamai Saraso”


“Kalamai?” tanyaku merasa bersalah, jadi dia keluar untuk membeli makanan yang semalam aku jadikan sebagai alasan untuk datang ke sini?


“Aaa, sudah dapat kalamainya. Di mana Mima membelinya?” Etek berdiri meraih kemasan dari tangan Mima dan membawanya ke belakang. “Etek letakkan di piring dulu, bisa dimakan sama-sama,” sambung Etek.


Masih dengan raut heran, Mima duduk, mengambil posisi bersebrangan dengan aku dan Mama.


Aku menghela sebentar demi mengusir kegugupan sebelum mulai bicara.


“Em, Ay. Sebelumnya, kenalkan …ini, Mama aku.”


Ekspresi wajah Mima sesuai prediksiku, terkejut dan bingung. Beruntung Mama begitu luwes dan lekas mencairkan suasana.


Tinggallah Ayumna semakin kebingungan dengan pembicaraan kami. Dia hanya melihat ke arahku, tatapannya menuntut penjelasan.


“Iya, Ay, jadi semalam kebetulan pas Mama lagi buka album kenangan Ayah. Aku lihat foto seorang gadis MA yang mirip banget sama kamu. Pas aku lihat di belakanngnya, Ayah tulis nama-nama siswi yang ada di foto itu. benar aja, salah satunya adalah nama kamu,” ungkapku.


“Ayah kamu?”


“Pak Fauzi, Ay,” jawab Mama yang malah ikut-ikutan memanggil Ayumna dengan sebutan “Ay.”  Panggilan itu khsusu untukku, Ma!


Ayumna tersentak, dia masih  memusatkan perhatian ke wajah Mama.


“Pak Fauzi…”


“Pak Fauzi Man Padusunan, kamu lupa ya? Bapak mengajar Fiqh waktu itu.”

__ADS_1


Kesedihan tiba-tiba menyesaki wajah gadis itu, perasaanya seperti berkecamuk hebat. Lalu dia melangkah perlahan menuju Mamaku. Sedalam apa kesan ayahku ketika menjadi gurunya?


“Ibu… istrinya?”


Gantian Mama yang terkejut ketika Mima duduk setengah berlutut dan memegang lutut mama.


“Bagaimana saya tidak kenal dengan Pak Fauzi, Beliau bukan hanya guru fiqh untuk saya, tapi beliau juga guru yang sudah mengajarkan saya bahwa nilai kehidupan itu sangat penting dan jauh lebih penting dari sekedar nilai di atas kertas saja.”


Kuperhatikan interaksi Ayumna dan Mama, dan membiarkan Ayumna menyelesaikan kalimatnya.


Etek datang dari belakang membawa nampan yang salah satu isinya adalah kalamai yang tadi Mima beli. Keningnya tampak berkerut, tapis ama sepertiku, dia juga membiarkan Ayumna selesai dengan penjelesannya.


“Sebelum beliau meninggal dunia, saya tidak sempat meminta maaf dan mengucapkan terimakasih padanya. Maafkan saya, Bu dan terimakasih untuk  beliau, karena sudah membantu saya meremedial nilai kehidupan ini.”


“MasyaAllah. Kamu murid yang berkesan rupanya. InsyaAllah Bapak bangga denganmu. Semoga yang Bapak ajarkan menjadi amal jariyah untuknya, di sana. Duduk di sini, gadis baik,” Mama memegang lembut kedua lengan Ayumna yang seketika berdiri, kemudian duduk di sudut kursi, di sebelah Mama. Membuatku mau tidak mau ikut bergeser karena mama memberi ruang untuk Ayumna.


Sejuk perlahan merambat ke relung-relung semua orang yang berada di sana siang itu. Pembicaraan mengalir sehangat sinar matahari yang kian menuju ke puncaknya.


Etek yang Ayumna panggil Tek Da itu menejelaskan secara singkat kondisi keluarga Ayumna. Pada penjelasan itu juga kami baru mengetahui kalau Ayumna adalah yatim piatu. Rumah yang unik ini adalah peninggalan neneknya.


Mama juga sebaliknya menceritakan silsilah kelurga Papa yang beberapa diantaranya  dikenal oleh Tek Da.


“Jadi sebenarnya, maksud kedatangan kami ke sini atas permintaan Shaka, untuk meminang Ayumna.” Mama mengeluarkan kotak beludru panjang dari dalam clutch .


Senyum lebar terkembang di wajah Tek Da, sedangkan mata Mima membola dan kedua alisnya terangkat lumayan tinggi.


“Maaf sekali, kalau mendadak dan mengagetkan seperti ini,” sambung Mama.


“Eum, besok saya ada perjalanan dinas ke luar kota. Makannya saya mengajak Mama datang hari ini. Jika lamaranm saya diterima, acara resminya bisa kita bicarakan sepulang dari  luar kota nanti.” Aku menimpali.


Aku tidak tau apa yang Ayumna rasakan sekarang, yang jelas perasaanku sendiri sangat lega dan tidak berharap Ayumna menjawab selain dari kata “Bersedia.”

__ADS_1


__ADS_2