
“Maksudnya bagaimana sih, Mim? Ibu kok gagal paham ya?” desak Bu Salsa, dia penasaran dengan 'calon suami' yang dimaksud Mima.
“Lupain aja, Bu,” tukas Mima. Dia berpikir lebih baik membawa obrolan ini kembali ke zona netral, dia masih belum terlalul nyaman berbagi banyak hal dengan orang lain. Lagipula di ruangan mereka banyak kemungkinan yang bisa terjadi, bisa-bisa banyak pagi akan terbit gosip baru lagi tentang dirinya.
“Baiklah, baiklah!” Bu Salsa menyerah, “jadi tidak ada harapan untuk Pak Gilang nih?”
“Untuk saat ini tidak, Bu,” terang Mima tegas.
"Padahal Ibu pikir-pikir dia cocok buat kamu, apalagi dia juga orang minang loh, Mim. Orang Bukittinggi kalau Ibu tidak salah."
"Makasih informasinya, Bu Salsa."
“Tapi kamu sudah bilang iya, jadi kamu harus mengusahakan untuk memenuhi undangannya ya, Mim,” nasihat Bu Salsa seperti orang tua yang sedang menasihati anaknya.
“Tapi kan saya nggak bilang janji, Bu,” elak Mima.
“Kamu bilang InsyaAllah.”
Mima tersenyum tipis, dia senang setiap kali Bu Salsa mengingatkannya untuk hal apapun. Atau memang sebenarnya dari dulu banyak orang yang sayang dan memperhatikannya? Hanya saja tertup oleh sikap angkuh dan egonya yang tinggi.
Mima masih ingat bagaimana dulu dia bekerja seolah tidak membutuhkan orang lain, jangankan berbicara banyak hal seperti yang dia lakukan dengan Bu Salsa sekarang, Mima nyaman berdiam diri dibalik kata “introvert” yang tersemat pada kepribadiannya.
Mima si gadis kesepian, dulu merasa tidak ada orang yang mengerti keinginannya, selalu merasa sepi, selalu merasa semua yang dia inginkan bisa dia raih sendiri tanpa bantuan orang lain. Dengan kelebihan akal yang dia punya, Mima merasa tidak membutuhkan orang disekelilingnya, bersosial menjadi hal yang paling merepotkan untuk Mima.
Belakangan baru dia sadar, intrtovert dan antisosial adalah dua hal yang berbeda. Introvert adalah tipe kepribadian, sedankgan antisosial adalah gangguan kepribadian, dan hampir dua puluh empat tahun lamanya dia mengalami itu.
Perjalanan remedial benar-benar membuka mata dan hati, sebuah sistem baru terbangun dalam hidup Mima Ayumna Lenkara.
“Iya, Bu… iya, nanti sore aku mau cari pakaian yang layak dipakai kondangan, Bu Salsa ada waktu nggak? Bantuin aku pilih warna, Bu,” Mima memajukan bibir bawahnya menimbulkan kesan sedikit memohon pada wanita berusia awal 40 tahunan itu.
Harusnya di usia saat ini, Mima punya circle sendiri yang setidaknya bisa menjadi teman hang out, berburu outfit, atau sekedar pergi menonton di ujung pekan sebagai ajang melepas lelah. Namun Mima terlanjur menghindari “toxic” yang sangat mungkin ada dalam lingkaran yang semacam itu. Satu-satunya teman sebaya yang Mima punya, terakhir dulu di kampung adalah Fara. Temannya semasa MA yang juga dia temui saat remedial.
Mima tidak tau kabar Fara sekarang, sewaktu dia masih remedial, Fara masih gadis yang periang, cerewet dan agresif. Mima tersenyum kecil saat mengingat wajah Fara yang manyun saat Shaka tinggal ke kantin.
“Duh, Maaf, Neng, Ibu harus pulang cepat hari ini,” tolak Bu Salsa halus.
Mima lupa, Bu Salsa berkeluarga, dia memiliki suami dan dua orang anak yang pasti menunggunya pulang di rumah. Berbeda dengan dirinya yang hanya dinantikan oleh kamar kost yang dingin.
“Coba kamu ajak yang lain, Meta atau Anya?”
Mima bergedik, dia memang butuh teman, tapi bukan Anya dan Meta juga. Meski sangat butuh pendapat orang lain, namun Mima sudah terlatih sendiri. Pergi bersama dua nama yang jelas-jelas memfitnahnya tadi pagi sama saja mendorong diri sendiri dari atas tebing.
Sudah dia putuskan, sore ini akan menjelajah dari butik ke butik mencari satu atau beberapa outfit yang senada dengan jilbab yang barusan dia beli. Mima juga baru memiliki beberapa jilbab dan dia sudah saatnya dia menambah kebutuhan primer seorang wanita yang satu itu.
***
Mima bersandar di kursi penumpang taksi, pikirannya melayang, sebagian memikirkan kenapa dia harus repot-repot ke mall jika biasanya dia biasa belanja dengan moda online shop, dan apa dia benar-benar ingin mencari outfit? Padahal undangan Gilang tidak seistimewa itu, Mima akan pergi karena dia sudah bilang akan mengusahakan pergi.
Lagian lumayan juga, hari Sabtu yang Gilang maksud adalah hari Sabtu yang sama dengan hari pertunangan Shaka yang sempat dia sebutkan beberapa hari yang lalu.
Mima belum punya banyak referensi mengatasi patah hati, namun mungkin dengan sesekali menghadiri undangan teman bisa jadi pilihan terbaik saat ini.
Mima mengeluarkan potongan kartu nama yang masih dia simpan, rencananya dia akan membuangnya setelah turun nanti. Dilihatnya sekali lagi lekat-lekat nama yang tertera di sana.
Rasanya dia ingin berharap semua yang Shaka ucapkan tentang pertunangan itu hanya bercanda atau Shaka sedang mengujinya, jelas Mima masih berharap akan ada plot twist yang sedang disiapkan kondektur itu untuknya.
Tapi sayangnya mengharapkan hal itu sama saja seperti mengharap gaji di kantor naik 50%.
***
__ADS_1
Mima menghirup nafas dalam saat melangkahkan kakinya masuk ke mall, ramai, disesaki kalangan muda-mudi. Seperti yang biasa dia lakukan saat ke pusat perbelanjaan yang pertama kali dicari oleh Mima biasanya adalah toko buku.
SelalunyaMima akan mencari buku-buku berbau filsafat aliran rasionalisme, atau berburu novel karya Friedrich Nietzche yang selama bertahun-tahun berhasil mendoktrin otak Mima.
Janngan lupa, dulu Mima juga sangat senang membeli buku yang ditulis oleh Dheo, hanya saja, Mima tidak pernah mencarinya di toko buku, dia selalu menjadi pembaca pertama dan terdepan di antrian pre order dan rela menunggu berapapun lamanya untuk kedatangan buku Dheo berikut tanda tangan penulisnya.
Sekarang, walaupun Dheo dan kisahnya sudah tidak lagi punya tempat dalam hidup Mima, Mima juga tidak akan membuang buku-bukunya. Mima memang senang dengan tulisan lelaki itu, Mima justru menyukai Dheo karena bijaknya Dheo mengolah kata-kata hingga menjadi sebuah karya.
Mima suka dengan kata-kata, Sejak dulu sebenarnya dia punya kecenderungan orang yang juga mencintai untaian kata.
“Tapi sepertinya Shaka bukan orang yang seperti itu,” besitnya tiba-tiba. Lalu dia menggelengkan cepat kepalanya.
Dia taken, Mima! Ingat!
Mima familiar dengan barisan rak buku baik yang ada di perpustakaan maupun di toko buku, dia bisa dengan mudah menemukan buku yang ingin dicarinya, namun saat ini kakinya tidak memasuki barisan rak buku filsafat, melainkan barisan self improvement mengenai memulai sebuah hubungan.
“Sejak kapan gue jadi kepo dengan tema ini?” batinnya.
Namun, Mima secara tidak langsung memang sedang menunggu masa di mana hidupnya akan dia “restart”.
Pasca patah hati karena calon suami masa depan ternyata hanya permainan kalimat saja, mungkin dia akan mencoba membuka hati untuk memulai sebuah hubungan. Namun saat ini hatinya diminta untuk menunggu sebentar, setidaknya setelah Shaka benar-benar diberi stempel oleh pengadilan agama.
Mungkin dia akan membuka hati untuk lelaki yang single sama sepertinya, bukan lagi suami orang, tunangan orang, atau bapaknya orang seperti yang mendekatinya akhir-akhir ini. Meski semua syarat yang Mima inginkan saat ini hanya merujuk pada satu nama.
Oh jadi begini ya rasanya tidak diingkan?
Setelah membaca sekilas keterangan yang ada pada buku yang dia pilih, Mima lantas memasukkan buku dengan sampul merah muda itu dan langsung membayarnya.
Dia kemudian berjalan meninggalkan toko buku dan mengitari bagian mana yang kira-kira harus dia tuju.
“Ayumna!” panggil seseorang tiba-tiba dari arah belakang.
Mima terkejut kemudian refleks menoleh, Tiba-tiba saja seisi perut Mima terasa berputar, Mata bulatnya semakin membola, dia mematung sepersekian detik, mirip manekin yang ada di balik kaca besar yang ada di belakang pria yang memanggilnya.
Dan pria itu baru keluar dari sana, berdiri tepat di ambang pintu otomatis yang tidak tertutup karena dia benar-benar berada di tengah sensor antara pintu masuk dan keluar.
Setelah Mima menoleh, barulah lelaki itu benar-benar keluar pintu, dia berjalan mendekat ke arah Mima.
“Lah, bener! Ayumna,” katanya memastikan setengah bersorak, seolah Ayumna ini masuk DPO dalam hidupnya beberapa hari belakangan.
Lutut Mima lemas, sepertinya sebentar lagi tubuhnya akan bergetar hebat dan kacau seperti mesin pengering kain yang kepenuhan muatan.
“Hai!” sapa Mima gugup.
Sekali ghoib tetap ghoib, bukankah Shaka sekarang di Jakarta? Kenapa main ke mallnya sampai ke depok sih?
Mima menunduk, Shaka terlihat jauh lebih segar dan tampan hari ini, padahal hanya mengenakan kemeja putih yang lengannya dilipat sedikit dan celana jeans berwarna khaki.
Sangat jauh berbeda dengan Shaka yang sedang berseragam kondektur lengkap dengan topinya. Tiba-tiba Mima sangat ingin melihat Shaka dengan kain sarungnya saat berangkat ke suratu setiap subuh dan magrib.
Kuat, Mima, kuat! ingat Baju dan jilbabmu belum ada satupun yang kebeli loh! Masa mau oleng sekarang di sini?
“Malah hai!” balas Shaka sedikit emosi.
Loh, kok?
“You blocked me, why?” tukas Shaka tidak suka.
“Aku pikir HP aku rusak, karena sinyal baik-baik aja, tapi aku nggak bisa lanjutin panggilan ke kamu setelah terputus kemarin, pas aku cek ulang, ternyata instagram aku juga kamu blokir?”
__ADS_1
“Kamu… kok bisa ada di sini? Bukannya kamu bilang pulang ke Jakarta?” Tanpa ingin memberi konfirmasi alasan pemblokiran, Mima mengarahkan pembicaraan ke topik lain.
“Rumahku di Jakarta, rumah Ibuku di Depok. Kamu sendiri juga bilangnya di Jakarta.”
“Waktu dari Padang? Kan memang pesawatnya mendarat di Jakarta sih.”
Selain itu juga karena kampus tempat Mima bekerja adalah perguruan tinggi yang masuk PTN milik DKI Jakarta.
“Ok, terserah. Jakarta atau Depok yang jelas akhirnya kita ketemu di sini, dan kenapa kamu block aku tempo hari?”
Kenapa ya?
Mima celingukan, kepalanya masih berkutat mencari alasan yang sekiranya masuk akal, agar dirinya tidak terlalu terlihat “kalah” karena “terlanjur berharap.”
“Sorry, Ayumna. tapi aku sempat mikir kamu itu makhluk ghoib, Ay, yang bisa tiba-tiba menghilang dari pererdaran atau semacam itu.” lanjut Shaka.
“Seolah kamu udah nyari saya keliling dunia ya?” Mima memiringkan senyumnya.
Niat move onnya tadi jadi goyah seketika.
Wake up, Mima! Ini dunia nyata!
“Tapi beneran, Ay! kamu, apa yang kamu ucapkan di pertemuan kita, obrolan kita yang cuma sekilas, terus kamu hilang gitu aja, terlalu misterius untuk aku anggap nyata.” tuduh Shaka yang masih tidak terima.
"Here I Am, saya manusia biasa!" Mima menunjuk dirinya dengan sepuluh jari.
“Kamu sendirian aja ? Abis dari mana? Jadi rumah kamu di Depok bukan di Jakarta?” tanya Shaka beruntun.
“Iya, saya abis dari kantor, deket sini aja kok.”
“Ngapain jalan-jalan ke mall sendirian?”
Mungkin Shaka masih curiga dengan eksistensi Mima sebagai manusia.
“Ya seperti biasanya orang ke mall aja sih! situ juga kan sendiri.” Mima tidak terima disebut aneh karena mengitari mall sendiri.
“Aku nggak sendirian, itu dia lagi nyobain suntiang dan apalah itu namanya aku nggak terlalu paham.” Shaka menoleh ke belakang dan sedikit memanjangkan leher, seolah sekalian memastikan si “dia” itu masih berada di dalam sana.
Oh maksudnya mereka lagi fitting? Mima bodoh banget sih. jelas-jelas Shaka keluar dari gallery baju pengantin. Ya mana mungkin sendiri, kalau sendirian juga udah pasti buat urusan wedding!
“Biasalah kalau pakaian adat ini memang lebih ribet kan? apalagi dia dan ayah Ibunya orang minang asli.”
Mima mulai memikirkan untuk segera pergi, dia khawatir raut kecewanya terbaca oleh Shaka. Bagaimanapun, bagi Shaka Mima adalah orang asing, yang tidak mungkin cemburu atau apapun namanya.
Pada titik itu, Mima terhenyak, pedih menjalar serta merta, merata ke dalam aliran darahnya. Tidak ada satu bagianpun diantara anggota tubuhnya yang tidak merasakan pedih.
“Saya pamit dulu masih ada urusan.”
“Ayumna, sebentar.”
“Panggil Mima aja, Pak Kondektur!”
“Kan kamu yang bilang aku harusnya manggil kamu Ayumna.”
Mima menghembuskan nafas beratnya.
“Baik, anggap saja kemarin saya salah orang, oke?”
“Bisa, tapi saya boleh saya minta blokir saya dibuka? Saya cuma mau mengundang kamu…”
__ADS_1
“Maaf, tapi sabtu depan saya sudah ada janji!” potong Mima.
Setelah itu dia benar-benar pergi meninggalkan Shaka yang sepertinya masih menanggung rasa penasaran. Samar Mima mendengar suara perempuan memanggil Shaka yang membuat lelaki itu mengurungkan niatnya mengejar Mima.