
Bermenit-menit lamanya Mima menatap layar ponsel, Shaka tidak menyerah, beberapa pesan beruntun masuk membuat Mima mulai ragu dengan keputusannya. Pada menit ke sepuluh dia akhirnya membuka kembali laman pesan itu, padahal seharusnya Mima memesan taksi yang akan membawanya ke acaraFara.
Noname : Kamu sadar nggak kalau kamu itu aneh, Ay? Aku baru sadar kamu semakin aneh waktu aku mengundangmu ke acaraku. Jika memang karena itu, Bagaimana kalau aku bilang, aku tidak jadi mengundangmu? Apa kamu berkenan bicara denganku? Oh ya, kamu sudah tau namaku Shaka, kamu juga harus tau ya, aku orang yang tidak mudah putus asa.
Mima terkejut, dia sempat membalikkan telepon genggamnya itu dan melihat sekeliling, teks yang dia baca barusan seperti sebuah pesan suara yang bisa dia dengar.
“Apa maksud kondektur ini? apa tidak sebaiknya dia bersiap-siap? Merapihak kerah jasnya? Memeriksa catering? Atau sudah saatnya bersalaman dengan tamu yang hadir? Kenapa sempat-sempatnya mengirimkan pesan seperti ini? lalu ini apa? Memang kalau dia tidak jadi mengundangku itu artinya dia tidak jadi bertunangan? Tidak kan?”
Perlahan Mima membaca kembali pesan itu, berharap bisa mengambil kesimpulan lain, tapi ternyata tidak, ada gejolak yang mendadak penting minta diperhatikan. Pesan dari Shaka tidak pernah gagal menjebol pertahanannya.
Mima menahan jarinya untuk tidak membalas pesan itu, membangun semacam sebuah pertahanan baru entah dari apa.
Bertahan untuk tetap normal dan tidak berharap apapun, sedangkan sesetuau sedang melompat-lompat di dadanya, sebuah rasa yang tidak tau harus dia namai apa.
Mima kemudian melenyapkan semuanya itu lekas-lekas setelah pesan dari Gilang masuk memastikan Mima akan menghadiri undangan dari Gilang. Tentu Mima akan hadir, meski bukan untuk Gilang, melainkan untuk sahabatnya, Fara.
“Aku bukan orang yang mudah putus asa.” Teks itu melayang-layang di kepala Mima, dia kemudian menatap layar gawainya dalam-dalam sebelum benda itu kembali gelap dan dimasukkan ke dalam cluth yang dia pakai.
***
Mima tidak menyangka, Gilang akan menunggunya tepat di depan titik lokasi di mana taksi berhenti. Dengan senyum santunnya dia menghampiri Mima. Sedangkan Mima sibuk memindai untuk menemukan massa kantor yang juga hadir malam itu.
Debar dan gugup yang Mima rasakan sejak di rumah tadi, tidak mau tinggal. Susah payah dia mencoba mengamankan kembali hati dan pikirannya.
“Bu Salsa udah ngasi tau nggak bisa hadir malam ini," tutur Shaka seolah dia tau apa yang sedang Mima cari.
“Sayang sekali,” jawab Mima sekenannya sambil berjalan menyesuaikan langkah Gilang.
“Aku senang kamu memenuhi undanganku, Mim!” tutur Gilang. "Kamu tegang banget? Santai saja, belum juga kenalan sama keluargaku.” Gilang yang menyadari raut wajah itu mencoba melempar lelucon, tapi sayang bagi Mima sama sekali tidak ada unsur lucu.
“Bercanda ya, Mim,” imbuhnya pula.
“Santai aja, udah mulai dari tadi ya? saya telat banget?” tanya Mima setelah mengamati pesta yang Gilang bilang privat dan terbatas nyatanya sesak oleh undangan.
“Acara intinya sudah selesai, tinggal ramah tamah. Nggak apa-apa, saya sudah lebih santai sekarang, kita… kita bisa ngobrol.”
Mima menganggapi dengan senyuman tipis, dia belum bisa mengimbangi dialognya dengan Gilang bahkan saat mereka tiba dan duduk di sebuah meja persegi panjang dengan kain rajut tipis bewarna putih, yang ternyata sudah Gilang siapkan lengkap dengan sajian di atasnya.
Pusat acara berada di panggung depan, cukup jauh dengan meja yang Gilang pilihkan untuknya dan Mima. Mata Mima menyipit melihat ke arah depan, orang-orang sedang ramai mengantri bersalaman atau sesi foto.
Saat gilang pamit untuk mencari keberadaan putrinya, rasa takut, malu, gugup dan tidak karuan kembali menyerang Mima tanpa dia tau dari mana asal usulnya. Benarkah menggunakan baju dengan warna berbeda dari biasa bisa mempengaruhi perasaan sedemikiannya?
__ADS_1
Mima mengambil gelas minuman dan meminumnya dengan cepat demi menghilangkan rasa takut yang semakin menjadi-jadi, rasa yang sesekali menyengat sakit ke ulu hati. Beberapa detik kemudian Mima menyadari telapak tangannya lembab karena keringat. Dia sungguh tidak tau pertanda apa yang sedang ditunjukkan oleh fisiknya saat ini.
Tidak ada pilihan terbaik di kepala Mima selain pulang ke kontrakan secepatnya, tapi dia ingin bertemu Fara terlebih dahulu, ekspektasinya malam ini bisa membidik momen bersama sahabatnya itu. Dia bahkan berharap Fara akan mengundangnya sebagai bridesmaid di hari pernikahannya nanti.
"Aku pasti happy banget deh, Far. Haha, Seumur-umur baru kamu loh yang mungkin mau mengundang aku sebagai bridesmaid," gumamnya sendiri.
Mima mengambil sesuatu dari cluthbagnya, sebuah tablet oren yang senantiasa menemaninya sejak kecil. Entah kenapa obat itu masih bereaksi atas tubuhnya yang sudah bukan balita.
Mungkin selama Mima meyakini benda kecil itu bisa meredakan rasa sakit dan menurunkan suhu tubuhnya saat demam.
“Kamu minum obat?”
Hampir saja Mima menyemburkan air putih dari mulutnya saat Gilang datang tiba-tiba dari arah belakang kursinya. Susah payah Mima menelan sisa air di mulut dan menyeka sisanya dengan tisu.
“Saya kaget, Pak Gilang!” tukas Mima.
“Sorry, Mim, saya juga kaget liat kamu minum obat, kamu sakit?”
Mima menggeleng cepat, “Saya juga nggak tau sejak tadi gemetar, sesekali ngilu gitu rasanya. Saya mau pamit pulang aja, Pak!”
“Tapi kamu belum makan apapun, atau kita ke depan yuk! si Sya tadi di depan sama Omanya, dia nggak mau saya ajak ke sini, kita aja pindah ke sana yuk. Di depan masih ramai, sepertinya antrian itu karena pada mau foto tapi nungguin si calon mempelai pria tadi lagi ke belakang. nanti kalau undangan sudah mulai sepi kita foto sama Fara, ya?”
“Ki kita?”
Tapi saya hanya ingin foto berdua sama Fara, Pak.
Mima menerima tawaran Gilang untuk pindah posisi, dengan begitu dia bisa melihat Fara dengan jelas, dan bisa segera pamit jika barisan tamu sudah mulai berkurang.
Benar saja, saat mereka tiba di barisan meja depan yang Mima taksir penghuninya adalah keluarga kedua belah pihak, tidak jauh dari barisan meja-meja putih terdapat rak susun yang diisi dengan aneka seserahan mewah nan elegan.
Mima mengusung syukur di dalam hatinya, Fara sebentar lagi akan menikah, dia mendapatkan lelaki dan keluarga lelaki yang sangat menyayanginya. Tentu, tentu saja demikian.
“Aku ikut bahagia, Far!” batin Mima mengamati satu persatu barang di dalam kotak bening.
“Mamaku juga sepertinya ke dalam sama Sya, kamu duduk dulu, sebentar aja!” Gilang menarik satu kursi untuk Mima.
Fara yang tunangan, kenapa Pak Gilang yang heboh sendiri ya perasaan? Dari tadi repot-repot banget ngalah-ngalahin petugas sapu jagad.
Tumpukan orang di depan tadi semakin terurai, entah orang yang ditunggu sudah datang, atau mereka putus asa menunggu terlalu lama sehingga memutuskan untuk melewatkan momen foto bersama malam itu.
Intro tembang I Still love you the dari ovortunes dimainkan secara akustik, terdengar syahdu melatari suasana malam yang teduh, semakin menyentuh tatkala sang vocalis malam itu mulai menyanyikan bait pertama.
__ADS_1
Bagaimanapun Mima menikmati pesta pertunangan Fara ini, dia mendebat batinnya bahwa jika tiba saat dirinya nanti, dia tidak mau digelar dengan acara seramai ini, atau perhelatan sejenisnya.
Jika memungkinkan, dia hanya ingin sebuah lamaran di sudut teras kontrakan, atau di dalam gerbong kereta api yang tidak ramai penumpang. Dia tidak perlu seserahan sekian tingkat, cukup diwakilkan dengan cincin emas dari kotak hati beludru merah, lelaki itu kelak sungguh tidak perlu bertekuk lutut atau memberi sejumlah kejutan, duduk berdua malu-malu tapi ingin mendekat tentu akan menumbuhkan debar yang lebih natural, perasaan saling berbalas satu sama lain sudah terasa sangat mewah, asal yang memberikannya adalah lelaki yang …
“Kayanya udah pada sepi tuh, ayo kita ke depan!” Gilang datang tanpa membawa Sya, sepertinya dia tidak berhasil membujuk gadis itu agar sudi berfoto dengan teman baru ayahnya.
Mima mengangguk dan berdiri, semakin cepat akan semakin baik. Benar saja, panggung kecil dengan hiasan rustic yang semula ramai sudah sepi. Mima sudah tidak sabar ingin memberikan selamat untuk Fara dan …
“Itu siapa, Pak?” Langkah Mima terhenti, dia menarik ujung lengan Gilang dan membuat langkah lelaki itu juga berhenti dan menoleh ke arah Fara kemudian ke arah Mima.
Mima tentu kenal, bahkan sangat kenal dengan orang yang dimaksud, dia tidak perlu bertanya pada siapapun, namun dia butuh konfirmasi manusia untuk memastikan bahwa yang dia lihat sama dengan yang kenyataan yang ada.
“Yang sedang sama Fara?”
Mima mengangguk.
“Oh itu Shaka, kamu kenal?”
Ada yang tiba-tiba menghimpit dada Mima, menyerang sumber rasa sakit yang sejak tadi mengganggu. Sangat sakit, Seperti Mima tau kapan ia akan mati.
Mima ingin malam ini berlalu lebih cepat dari seharusnya, bisakah ada lompatan waktu seperti saat dia sedang mengerjakan misinya.
Lirik the overtunes sudah hampir selesai dinyanyikan, menyisakan rasa sebak maha berat menghambat sistem pernafasan di tubuhnya. Sesak.
Maka pada detik-detik berikutnya, Mima membiarkan pedih, linu pun lara menguasai seluruh indra, terutama matanya yang pedih serta merta.
“Pak Gilang, Maaf, tapi saya harus pulang sekarang. Titip ini buat Fara ya, Pak.” Mima menyerahkan godie bag berisi hadiah yang dia siapkan untuk Fara.
“Loh, kamu nggak mau kenalan dulu sama Fara dan calon suaminya?” tanya Gilang.
“Saya… saya sudah kenal, Pak!”
“Kamu sakit ya, Mima? Saya antar kamu pulang, tunggu sebentar.” Gilang sigap menanggapi air wajah Mima yang pucat dan berkeringat.
“Iya, Pak, sakit banget,” jawab Mima gelagapan, dari caranya menahan nafas semua orang bisa menilai dia sedang tidak baik-baik saja.
“Eh maksud saya, iya, saya sedang sakit, sepertinya jadwal datang bulan datang lebih cepat. I'm terribly sorry.”
Tanpa menunggu jawaban Gilang, Mima berbalik badan, mengangkat sedikit ujung gaun agar langkahnya lebih bebas untuk segera meninggalkan tempat itu.
Mengetahui Shaka malam ini akan bertunangan sudah sangat sakit, namun mengetahui bahwa pertuangan itu adalah dengan Fara, rasanya seperti terbunuh dua kali.
__ADS_1
Semilir angin baik hati menyeka manik yang bergulir pasrah ke pipi Mima. Menghibur sang gadis yang hampir ambruk terbunuh ekspektasi.