
Stasiun kurai taji sekali lagi jadi saksi pertemuan itu, Mima tidak berhenti memegang dadanya saat melihat seorang lelaki melintasi bangku demi bangku penumpang untuk memeriksa karcis yang mereka bawa, tidak ada yang berbeda dari garis wajah yang terekam dalam kepala Mima.
Bibirnya ingin sekali menyapa, tapi semakin gemetar sampai petugas dengan seragam kondektur itu tiba tepat di depan mata Mima. Mata petugas itu agak menyipit karena sinar matahari, dia tidak tersenyum tapi tampak sangat manis. Mima menggusal matanya berulang kali, memastikan semua ini bukan sequel mimpi.
Belum lagi wangi segar dan maskulin yang saat ini sulit dideskrispsikan oleh pikirannya.
Terlebih saat papan nama dada menjuntai dan begitu menarik perhatian Mima.
“Selamat Pagi, Tiketnya, Ibu …” Bukannya menyerahkan tiket, Mima tercengang mematung dan malah mengeja nama yang tertera pada papan dada itu.
“Ah-san E-Sha-Ka,” ejanya perlahan.
Kondektur itu refleks memegang papan nama dan malah ikut membaca ulang, tiba-tiba dia seolah ragu bahwa itu benar namanya.
“Betul, Saya dengan kondektur Shaka.” jawabnya membenarkan, “Maaf, tiketnya?” ulang si kondektur.
“Iya, kamu memang Shaka. Dan kita ketemu di sini, aku udah pulang nih!, remedialku udah selesai, semuanya tepat waktu, dan ini … ini adalah perjalanan yang paling aku inginkan sekarang. Ha … hai, kita ketemu lagi, kita ketemu di waktu yang seharusnya." Mima melambaikan tangan dan menatap Shaka antusias.
Dia masih ingat malam terakhir saat Shaka meringis kesakitan dan Mima memberikannya beberapa tablet jeruk tapi tidak terlalu membantu hingga Shaka menghilang keesokan subuhnya.
__ADS_1
Lelaki Bernama Shaka itu tampak bingung, hampir saja dia tertawa mendengar ucapan dan tingkah salah satu penumpang di gerbongnya.
Gadis ini kenapa?
“Ibu, tiketnya.”
Mima menyerahkan secarik kertas barcode biru putih yang sejak tadi dia genggam, kondektur itu kemudian memeriksanya dan mengembalikan lagi pada pemiliknya.
“Terimakasih,” katanya setengah menunduk.
“Shaka!” panggil Mima sebelum kondektur itu meninggalkan bangkunya.
Shaka mengernyit seperti mencoba mengingat sesuatu.
“Apa kita pernah ketemu?” tanyanya tanpa merasa bersalah.
“Aku Mima, Shaka!” ucap Mima yang masih berharap Shaka sedang bercanda.
“Oh, Halo … Mima, kita pernah ketemu ya sebelum ini?” ucap Shaka yang mengira mungkin Mima adalah salah satu teman satu alumni yang luput dari ingatannya.
__ADS_1
“Kamu nggak panggil aku Mima, kamu panggil aku Ay, Ay untuk Ayumna. Aku …” Mima ragu untuk mengucapkannya, takut Shaka di hadapannya ini benar-benar sedang mempermainkannya.
“Aku Ayumna, Istri kamu di masa depan, kamu itu suami aku dari masa depan!” Kalimat itu diucapkan dengan intonasi penuh penekanan dan ekspresi meyakinkan, Mima pasrah jika setelah ini Shaka akan menertawakannya. Karena dulu Shaka pernah mengatakan ini saat Mima meragukan ungkapan serupa.
"Kalimat ini kamu loh yang bilang!" Mima mengingat kalimat Shaka beberapa waktu yang lalu, dan ternyata benar memang Mima yang sekarang mengucapkan itu.
Namun kondektur ini hanya mengeleng-geleng kepala karena benar-benar tidak habis pikir dengan ucapan penumpangnya.
“Maaf, Mba Mima, saya harus kembali bekerja!”
Shaka meninggalkan Mima dan kembali ke posisinya, di ambang pintu kereta berdiri tegak mengamati dan memastikan keamanan kondisi gerbongnya, gerakannya menjadi serba-salah karena merasa ditatap dari sudut seorang wanita pada salah satu bangku penumpang.
Kondektur itu kemudian memanggil seorang petugas dan meminta daftar manifest penumpangnya siang itu.
“Terimakasih,” ucapnya setelah petugas itu memberi sebuah catatan dan berlalu.
Shaka membaca daftar nama itu dengan cermat dan berhenti setelah menemukan nama yang tadi disebut oleh Nona di bangku sebrang sana.
“Mima Ayumna Lenkara.” Saat mengucapkan itu, matanya langsung menatap Mima dan mereka saling berpandangan. Beberapa detik Shaka bertahan di dalam pupil hitam milik si gadis yang mengenakan pashmina motif gelombang.
__ADS_1
“Istri masa depan?” katanya mengulang kalimat gadis itu, “Nggak masuk akal, tapi menarik juga,” imbuhnya pula kemudian berjalan menghampiri Mima.